
Setelah memecat dan merombak divisi keuangan, Ali menghubungi karna untuk membantu menagih hutang di beberapa perusahaan.
Karna mengendarai motor dengan cepat di sepanjang lorong-lorong yang ramai di kota, hingga ia akhirnya sampai di tempat Ali berada. Ia berlari menuju resepsionis, meminta bertemu dengan Ali segera. Setelahnya, mereka bertemu di ruangan Neli.
Sempat memerah pipi Karna saat melihat Neli. Terutama rambut yang dikucir itu. Tapi Karna segera membuang pikiran itu, ia lebih takut dengan Ali yang sedari tadi berdehem membangunkan Karna dari Fantasinya.
Dengan gugub menahan napas, Karna memberitahu Ali. "Tuan Ali, saya tidak bisa membantumu, tapi ada seseorang yang bisa. Jika Tuan Ali bersedia, saya akan antarkan sekarang," ucap Karna dengan serius.
"Baiklah, aku percaya padamu." Ia menaikkan satu alis, "Neli, kakak pergi dulu. Kakak akan segera menyelesaikan keuangan perusahaan ini secepatnya.'
Ali, segera mengikuti Karna ke tempat tujuan. Mereka mengendarai motor melewati jalan-jalan kecil dan melintasi pasar yang ramai hingga akhirnya sampai di depan pintu masuk gedung besar yang dikelilingi oleh pengawal.
"Tuan Vino, ketua serikat perdagangan, berada di dalam gedung ini," kata Karna dengan suara berbisik. "Aku yakin dia adalah satu-satunya yang bisa membantu perusahaan, Tuan."
Ali mengangguk, memahami pentingnya situasi ini. Mereka masuk ke gedung dan melalui lorong-lorong yang indah dengan ornamen klasik hingga akhirnya sampai di ruangan besar yang dihiasi dengan barang-barang mewah.
Di tengah ruangan, mereka melihat seorang pria tua yang duduk di atas kursi besar dengan ukiran-ukiran. Pria itu adalah Tuan Vino, seorang yang dihormati dan berpengaruh dalam dunia perdagangan. Karna dan Ali mendekatinya dengan hati-hati.
"Tuan Vino, maaf mengganggu, kami membutuhkan bantuan Anda," kata Karna dengan penuh rasa hormat.
Tuan Vino menoleh dan melihat kedua pemuda itu dengan tatapan tajamnya, ia menyipit karena pandangannya sudah mulai buram. "Siapa dan dari mana kalian?" tanya Tuan Vino dengan serius.
"Saya Karna dan ini adalah Tuan Ali." Ia memperkenalkan.
Raut pria tua itu berubah, ia ingat bahwa Karna sering membantu bisnisnya. "Karna! Kemarilah nak. Maaf tidak bisa mengenalimu dengan baik. Mata pria tua ini sungguh buruk."
"Begini Tuan Vino. Banyak dari anggota serikat perdagangan yang memiliki hutang di perusahaan Tuan Ali. Jumlahnya hutang mereka cukup besar. Hanya Tuan Vino yang..."
"Apa kamu anggota serikat nak Ali?" Tanya Vino menyipitkan mata.
"Tidak. Sebelumnya perusahaan kami tidak mengetahui adanya serikat ini" Jawab Ali ringan. "Tapi jika memang saya perlu mendaftar ke serikat perdagangan, tentu saya akan mendaftar."
"Tanpa kamu masuk sekalipun, aku akan mengurus anggotaku yang tidak berbuat jujur itu. Kirim saja datanya, aku akan membuat perintah langsung untuk menagihnya. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit pula. Serikat perdagangan meminta lima persen dari hasil penagihan. Bagaimana, Nak Ali?"
__ADS_1
Ali cukup lama berpikir, lantas Vino kembali berkata, "lima persen termasuk kecil karena dirimu mengenal Karna Nak. Kau akan kehilangan lebih dari itu jika meminta bantuan pada orang lain."
Ali sadar dalam dunia bisnis tidak akan ada orang yang tidak ingin mengambil untung. Maka Ali menjawab, "baiklah. Lima persen untuk serikat. Berapa lama proses penagihannya? Kuharap tidak terlalu lama."
"Paling lambat satu minggu."
"Baiklah, saya akan menunggu berita baiknya. Terima kasih Tuan Vino."
"Apa kalian tidak keberatan makan siang bersama pria tua ini?" Ucap Vino. "Aku ingin berbicara denganmu Karna. Dan juga kita bisa berbicara banyak hal, nak Ali."
Karna melirik Ali, ia tidak bisa memutuskan hal ini jika Ali bersama dengannya.
Ali mengangguk, tanda persetujuan.
"Dengan senang hati kami akan menemani Tuan Vino."
Vino tersenyum, segera meminta Karna memapahnya menuju ruang makan yang tidak jauh dari sana.
Tuan Vino, menyipitkan mata, menatap Ali dengan susah payah. "Matamu cukup bagus, aku memang memakai kalung. Untuk kesehatanku."
"Maaf kalau saya menyinggung, tapi menurut saya kalung itu tidak baik untuk kesehatanmu." Ali tahu ada aura gelap yang sepertinya akan mencekik Vino.
"Tidak mungkin, aku membelinya di pelelangan, dan mereka sudah memastikan jika kalung ini sangat baik untuk kekuatan tubuh."
Ali melihat lebih jauh dengan kekuatan dari kitab pembunuh naga. Benar saja, aura hitam itu semakin pekat, dan Ali sedikit ingat saat mempelajari penglihatan tembus, kitab itu menjelaskan jenis-jenis aura dari yang paling baik sampai terburuk. Dan aura yang menyelubungi dada Vino adalah yang terburuk. Aura orang mati.
"Tapi saya tidak melihatnya seperti itu." Ucap Ali gamblang.
"Kau lancang nak. Kalung ini adalah peninggalan dinasti timur. Itu jauh dari sebelum dirimu lahir. Kau tidak akan mengerti tentang hal-hal seperti ini."
"Maafkan aku. Aku menghormatimu karena perkataanmu cukup lembut tadinya. Kau tahu pak tua. Kalung yang kau banggakan sepertinya akan membunuhmu dalam waktu dua atau tiga minggu."
Karna sungguh takut jika kedua orang yang dikenalnya ini berselisih, ia mencoba menengahi.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan-tuan. Jika Tuan-tuan memberikan kesempatan saya berbicara, saya akan membantu salah paham ini."
"Katakan!" Ucap Vino. Ali tidak menggubris Karna.
"Tuan Vino, Tuanku Ali adalah orang yang sangat berbakat. Tidak mungkin dia berbicara tanpa landasan apa pun. Jika diperkenankan, saya akan bertanya."
Ali memotong, "tidak perlu bertanya, Karna. Aku akan menjelaskan dengan singkat. Hitung-hitung tanda terima kasih karena bekerja sama dengan perusahaanku." Ali mengambil napas, "tanpa aku melihatnya, itu adalah sejenis giok berwarna merah."
Setelah sesaat mendengar, Vino gemetar, ia mengerti bahwa Ali telah melihat kalung giok yang disembunyikan di balik jasnya. Dengan hati-hati, Tuan Vino mengambil kalung tersebut dan menunjukkannya kepada Ali.
Ali dan Karna melihat kalung giok berbentuk cakar. Aura negatif dari giok itu semakin terasa kuat saat berada begitu dekat. Ali merasa tegang dan menyadari betapa berbahayanya giok tersebut.
"Dalam keheningan, Tuan Vino mengungkapkan cerita yang belum pernah dia bagikan kepada siapapun. "Ini adalah kalung warisan keluarga yang telah berpindah dari generasi ke generasi. Ini adalah peninggalan leluhur untuk kesehatan turunannya," jelas Tuan Vino dengan suara serak. "Namun, kalung ini pernah hilang dan pada akhirnya aku menemukannya kembali di pelelangan."
Ali mendengarkan dengan saksama.
"Memang aku melihat sedikit bekas energi positif, tapi energi itu juga akan tertelan sebentar lagi. Aku ingin memastikan..." Ali melihat kalung itu, "apa tuan Vino merasa penglihatanmu semakin memburuk? Tidak ada alasan jantung berdebar. Sering sakit kepala."
"Benar, bagaimana kamu tahu?"
"Aku hanya menebak." Ucap Ali.
"Jika kamu bisa tahu, berarti kamu bisa membantuku?"
"Aku bisa membantumu menghilangkan energi negatif itu. Dengan begitu kesehatanmu tidak akan terancam. Tapi aku belum tahu bisa atau tidak ya membantu kesehatan matamu."
"Tolong aku. Ini adalah kalung warisan keluargaku." Pinta Vino bersungguh-sungguh.
Dengan hati-hati, dia memberikan kalung giok tersebut kepada Ali, menyadari bahwa Ali memiliki kepekaan khusus terhadap energi negatif yang dipancarkan oleh giok tersebut.
Ali menggenggam kalung giok dengan erat, merasakan gelombang aura negatif yang kuat.
"Mungkin aku telah meremehkan kekuatan kalung ini," kata Ali dengan keringat mulai menetes di keningnya.
__ADS_1