Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga

Hak Menantu Pengangguran : Kitab Pembunuh Naga
Sekolah Diego 4


__ADS_3

"Diego, percaya dirilah!" Ucap Ali, mengelus kepala Diego.


"Tapi, apa benar yang kita lakukan tadi malam membuahkan hasil? Aku memang merasakan hal berbeda dengan tubuhku, tapi aku tidak yakin bisa membuat retakan seperti dirimu."


"Tentu saja tidak, bodoh. Masih jauh perjalananmu jika ingin kuat sepertiku." Balas Ali. "Sekarang kenakan jam ini." Ali memasangkan sebuah jam tangan kepada Diego. Jam itu berbentuk kotak, sepertinya memiliki teknologi canggih.


"Ini hadiah?" Ucapnya Semangat.


"Tentu, kau sudah berlatih cukup bagus."


"Terima kasih, aku berangkat."


Diego tiba di sekolah yang sama, di mana Diego dirundung dan dicemooh oleh para pengganggu. Setiap kali ia memasuki ruang kelas, ia merasakan kecemasan yang mendalam menyergapnya. Hal itu tidak bisa berubah dalam semalam. Sudah terlalu dalam trauma yang ia miliki. Embusan angin dingin menyapa wajahnya saat ia membuka pintu kelas, memberikan perasaan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Ruangan kelas yang biasanya ramai dengan kegaduhan sekarang tampak hening dan tegang. Semua memandangnya, tak terkecuali para pengganggu.


Suasana kelas itu terasa gelap dan sumpek, sebagai cermin dari hati Diego yang terbebani oleh rasa takut dan kesepian. Udara terasa pengap dan panas, membuat keringat mengalir di leher dan punggung Diego. Ia merasakan kelembapan melekat pada seragamnya yang basah oleh keringat.


Ketika Diego berjalan menuju bangkunya, ia bisa mendengar bisikan-bisikan jahat dan tawa miring dari para pengganggu. Suara itu memenuhi telinganya seperti serangga-serangga kecil yang mengganggu ketenangan, menyebabkan detak jantungnya semakin cepat dan perasaannya semakin tertekan.


"Diego, Diego, si penakut!" ejek Brian dengan suara mencolok. Suaranya terdengar berat dan menggetarkan ruangan, menyebabkan Diego merasa seakan tanah bergetar di bawah kakinya.


Diego menatap Brian dengan tajam, mata penuh tekad. Ia tidak mau lagi diganggu. "Apakah kamu pikir mencemoohku akan membuatmu lebih kuat?" tanya Diego dengan suara yang bergetar. "Kamu hanya menunjukkan ketidakberdayaanmu sendiri dengan menyakiti orang lain."


"Kau sudah berani rupanya. Bagaimana cara kami merayakannya?"


Pandangan mata Diego gemetar, ia tidak menyangka dengan sedikit keberanian yang diberikan Ali, ia mendapatkan tekanan yang begitu besar.


"Lihat, penakut tetaplah penakut." Semua mulai menertawakan Diego. "Lebih baik belikan kami makanan. Kau tidak lupa membawa dompet lagi kan?"


Diego meremas celananya, sungguh ia sebenarnya ia merasa sangat takut.


"Belikan sekarang, sebelum jam masuk!" Perintah salah satunya.

__ADS_1


Diego bergeming, ia tetap di tempatnya. Tak menjawab atau menatap mata mereka.


Seperti air, ucapan Ali memenuhi pikiran Diego. Ia harus berani, tidak ada kata mundur. "Aku tidak akan menjadi dompetmu lagi!" Ucap Diego setelah mengumpulkan keberanian.


Brian mendesis dan mengepalkan tinjunya. "Aku akan membuatmu menyesal pernah berani berbicara seperti itu!"


"Aku hanya ingin belajar, berhenti menggangguku!" teriak Diego dengan suara yang bergetar, berusaha menegaskan batasnya.


Namun, kata-kata itu hanya memperbesar intensitas serangan yang diterimanya. Siswa-siswa itu semakin bernafsu, mencoba memaksa Diego membelikan mereka sarapan atau mengancam akan melakukan kekerasan fisik.


Diego merasa adrenalinnya meningkat. Ia merasakan detak jantungnya berdegup kencang di dadanya.


Bum...


Satu pukulan menghantam Diego, anak itu hampir muntah dibuatnya.


"Kau benar-benar! Cukup belikan kami roti dan kau akan selamat, malah memilih seperti ini."


Satu pukulan, dua pukulan Diego terima.


Pukulan itu mendekat dengan perlahan, seakan mengikuti irama ketakutan yang berdegup di dada Diego. Ia melihat tinju itu mendekat, melihat pergerakannya dengan kejernihan yang luar biasa. Ia merasakan hawa yang memenuhi ruangan, memimpinnya untuk menghindari serangan itu dengan gerakan yang terukur.


Dengan refleks yang tajam, Diego melompat ke samping, seolah-olah waktu berhenti untuk sejenak membiarkannya melarikan diri dari bahaya. Ia merasakan tarikan gravitasi yang berbeda, menyiratkan kekuatan baru yang hadir di dalam dirinya.


Para siswa menyaksikan aksi itu dengan kebingungan dan kagum. Mata mereka terbelalak dan tak mampu memproses apa yang terjadi di hadapan mereka. Suasana kelas berubah menjadi gemuruh dan kegaduhan ketika mereka mulai bersorak dan berbisik antara satu sama lain.


"Apakah yang terjadi padanya?"


"Apa Diego selama ini menyembunyikan kemampuannya?"


Mereka terus melayangkan serangan. Mulai menyerang bersama, tapi Diego terus berhasil menghindar.

__ADS_1


Mereka terengap, kelelahan.


Diego menatap tajam para pengganggu yang tercengang. "Sekarang kalian melihat apa yang bisa terjadi saat aku tidak lagi membiarkan diriku diperlakukan seperti kucing tak berdaya. Aku tidak akan membiarkan siapapun meremehkanku lagi!"


Brian, yang masih memegang tinjunya yang sakit, menatap Diego dengan takjub dan ketakutan yang bercampur aduk. "Kau... kau memang berbeda sekarang," desisnya dengan suara yang gemetar. "Tunggu saja saat yang lainnya datang. Kami akan membunuhmu!"


Diego tersenyum dengan penuh kepercayaan diri. "Sekarang pergilah dan biarkan mereka yang menghindari kehadiranku, bukan sebaliknya."


Para pengganggu mengangguk, merasakan kehadiran yang menakutkan dari Diego yang baru. Mereka membubarkan diri dengan cepat, meninggalkan Diego dalam kesendirian yang sekarang terasa berbeda.


Diego merasakan adrenalin mengalir dalam dirinya, dan ia tersenyum dengan lega. Ia menyadari bahwa ia telah menemukan kekuatan sejatinya, kekuatan yang selama ini tersembunyi dan ia tidak pernah menyadarinya. Tentu semua pikirannya salah, Alilah yang membuatnya seperti itu.


Melani mendekati Diego dengan penuh kebanggaan. "Kau luar biasa, Diego! Kau memiliki kekuatan yang luar biasa!"


Diego mengangguk, senyuman tak terbendung di bibirnya. "Aku tidak akan lagi menjadi suruhan mereka!" Ucap Diego penuh semangat.


Hari itu tak ada yang mengganggu Diego, seseorang yang menjadi biang kerok tidak masuk hari itu. Diego merasa lega karena berpura-pura tegar juga membutuhkan tenaga.


Ketika malam tiba, Diego duduk sendirian di kamarnya. Ia merenung tentang petualangannya yang baru saja dimulai. Ia tahu bahwa ia harus belajar mengendalikan kekuatannya dengan bijaksana, dan ia berjanji untuk tidak pernah menyalahgunakannya.


"Bagaimana harimu?"


"Luar biasa, Ali. Pukulan mereka tampak melambat!" Seru Diego.


"Oh, tentu. Kau sepertinya jauh lebih percaya diri? Baguslah. Kalau ada yang mengganggumu, hancurkan saja mereka, tidak perlu menjadi pengecut lagi. Aku yakin kau bisa mengalahkan mereka."


Dengan rasa harap dan semangat yang membara, Diego menggenggam erat kekuatannya. Ia tahu bahwa banyak rintangan dan tantangan yang menanti di depan, tetapi ia siap untuk menghadapinya dengan keberanian yang baru ditemukannya.


Sekolah berlangsung normal, tidak ada yang mengganggu. Sungguh nyaman bagi Diego. Akan tetapi semua tidak semulus harapan, saat bel pulang sekolah berbunyi seseorang yang selama ini ia takuti menyentuh pundaknya.


"Kita bertemu di ruang olahraga. Jangan kabur!" Ucap Bobby.

__ADS_1


Diego menajamkan mata, ia tidak takut sekarang.


"Aku pasti akan menemui kalian!" Ucap Diego menantang.


__ADS_2