
Bab baru dalam cerita Shila pun dimulai dari senior-nya yang memerintahkan Shila untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri. Shila dengan setengah hati pun mengikuti perintah senior itu. Padahal dirinya sendiri tidak suka menjadi kelinci percobaan.
"Hai namaku Shila, aku dari kelompok Pelangi."
Katanya tanpa ekspresi. Lalu terdengarlah cikikan kecil penonton yang menertawai tingkah lugu Shila.
"Itu aja?"
Shila mengangguk. Senior sombong dengan jas OSIS yang dipakainya itu pun menyuruh Shila untuk kembali ke tempat.
"Ayo! Siapa lagi yang punya cara menarik untuk memperkenalkan diri?"
Semua anak MOS menundukkan kepalanya takut jika menjadi mangsa selanjutnya.
"Itu cowok yang paling belakang, yang lagi cek notif di HP-nya. Maju sini!"
Semua anak menoleh ke belakang mencari sosok siswa yang malang itu.
"Berani-beraninya main HP. Toh! notif dari dia juga nggak akan ada." Ucap senior itu dengan nada yang sedikit meledek. Semua siswa tertawa lepas, cowok itu menggaruk punuk kepalanya grogi.
"Ayo! Perkenalkan diri kamu, pake cara yang lebih menarik ya."
Lelaki yang tingginya mencapai seratus tujuh puluh itu dengan percaya dirinya menebarkan senyumannya ke semua orang. Dari tingkahnya, mungkin ia salah satu anak yang hobi masuk BK nantinya.
"Helo Mamen! nama gue Aldo, follow ig gue yak." Pekiknya sedikit rempong sambil menunjukkan ke arah penonton secarik kertas yang ditulis menggunakan spidol dengan isi '@aldoob" .
Semua orang tertawa, melihat kepedeannya di atas rata-rata. Sekumpulan cewek-cewek di sebelah Shila sibuk menggosipi anak itu. Karena jujur saja, Aldo seorang yang rupawan dengan rambut belah tengah seperti Angga Yunanda.
Shila paling gagal dalam memulai pertemanan, ia canggung untuk menyapa orang yang asing baginya. Seluruh temannya sudah mendapatkan teman baru dan mengobrol bersama. Sedangkan ia masih sendiri dan belum satu pun ada teman yang mengajaknya mengobrol. Sambil menggigiti bibirnya Shila pergi ke kelas yang paling ujung dan duduk di rak sepatu yang ada di depannya.
__ADS_1
Lamunan Shila buyar saat seorang cowok bertanya kepadanya.
"Lo ngapain sendirian?"
Shila terdiam membeku, lidahnya kelu untu memberi jawaban.
"Nggak gabung sama anak lain?" Shila masih diam dan canggung.
"Mau sampai kapan nggak punya teman karena nggak pandai bergaul jadi alasannya?" tanyanya nyengir kuda lalu duduk di samping Shila.
"Yuk ke gor, disuruh ngumpul tuh!"
"Nggak usah perduliin rasa khawatir yang ada di otak lo sekarang."
"Kan kita nggak makan orang."
Shila tersenyum, sepertinya cowok ini asik juga untuk dijadikan teman. Dialah satu-satunya orang yang tahu Shila 'ada' dari ratusan siswa-siswi MOS saat itu. Bagi Shila dianggap ada adalah suatu hal yang mengawali kisah yang baik.
***
Saat Shila memasuki kelas, matanya mencari sosok yang ia temukan kemarin, tetapi belum juga menemukannya. Shila mulai khawatir karena tidak sekelas dengan cowok itu. Hingga semua bangku sudah penuh diisi pemiliknya, cowok itu belum kelihatan juga.
Sepertinya mereka memang tidak sekelas.
"Hai." Sapa seorang anak perempuan dengan ramah, Shila membalas sapaannya.
"Namaku Fira."
Mereka pun berbincang tiada henti, Fira orang yang sangat ramah sehingga cocok sekali berteman dengan Shila yang canggungan.
__ADS_1
Saat Shila sedang membuang sampah di tong sampah yang ada di depan kelas, ia melihat cowok itu.
Tanpa malu Shila melambaikan tangan ke arahnya, cowok itu membalas dengan senyuman .
"Cie udah jinak." Goda cowok itu tiba-tiba.
"Gue Shila, nama lo siapa? Kita belum sempat kenalan kan?" tanya Shila memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Aditya."
Keduanya tersenyum, sebuah perasaan aneh muncul di hati Shila saat melihat senyuman Adit yang elok itu. Ia seperti dibawa ke dunia lain.
"Jadi lo jurusan apa?" tanya Shila berusaha menutupi kegugupannya.
"Sepuluh IPA dua, lo sendiri?"
"IPS dua. Yah, kelas kita jauh juga ya, lapangannya terlalu gede."
"Maksudnya?"
"I-iya gede, jadinya kan terpisah jauh." Jawab Shila mulai gelagapan.
Adit tertawa renyah sambil mengantungkan kedua tangannya ke dalam saku celana, matanya tertuju pada lapangan utama yang dibilang Shila 'terlalu gede' itu.
"Masih satu sekolah untungnya."
"Dan untungnya lagi, gue udah kenal sama lo. Jadi nggak usah nyalahin lapangannya." Kata Adit bercanda.
Pipi Shila memerah, semoga hanya lapangan yang bisa membuat jarak di antara mereka berdua.
__ADS_1
Bertemunya Adit dan Shila itu, bertanda kisah ini dimulai.
***