Half A Heart

Half A Heart
Chapter 12


__ADS_3

"Selamat Calley! semoga pernikahanmu lancar," - Bunda


Evan mencomotkan roti sobek ke mulutnya, pandangannya tak lepas dari penampilan musikalisasi puisi yang ditampilkan oleh siswa kelas XII. Musikalisasi karya Fiersa Besari yang berjudul 'Untukmu' itu sukses menarik perhatiannya. Teman-temannya sibuk mempersiapkan penampilan kelas mereka di preparation room hanya tinggal Evan dan Riski yang duduk santai di barisan penonton.


"Lo kenapa nggak mau ikut nampil Van?" tanya Riski membuka suara.


"Gue ngga suka di tonton banyak orang," jawab Evan sakral.


Riski mengangguk mengiyakan perkataan Evan, mereka pun kembali menonton penampilan pensi dengan khidmat. Saat Evan sedang asyik menonton, pandangannya teralihkan ke sisi kanan panggung, disana Adit dengan panitia lain mengobrol ngalor kidul sambil tertawa. Semua panitia pensi ditandai dengan memakai topi berwarna putih yang bertuliskan 'Crew' dan memakai bet name yang talinya juga berwarna putih.


"Oke guys, gue akan bawain lagu More Than This dari One Direction, hope you enjoy it!" petikan gitar akustik pun dimulai, mendengar kata 'One Direction' membuat Evan mengingat Shila. Tetapi sudah setengah lagu berlangsung Evan belum juga menemukan keberadaannya. Evan celingak-celinguk kesana kemari, ia sama sekali tak menemukan Shila. Ia yakin penampilan ini pasti sangat ditunggu-tunggunya.


"Gue tinggal dulu Ki," Evan menepuk bahu Riski lalu pergi. Ia meninggalkan barisan penonton dan mulai menulusuri bazar-bazar kecil yang berdiri di belakang barisan penonton. Siapa tahu, Shila ada disana.


"Kak!" sergah seorang siswi yang sepertinya adalah adik kelasnya.


"Aku boleh foto bareng Kakak nggak?" tanya gadis itu, ia sepertinya salah satu dari puluhan penggemar Evan.


Evan menggaruk punuk kepalanya canggung, karena ia sendiri sedang buru-buru mencari Shila.


"Boleh ngga Kak? pliss," mohon perempuan itu lagi.


"Maaf. Lain kali aja ya," jawab Evan sambil memaksa untuk tersenyum.


Evan kembali menelusuri daerah di dekat panggung, mulai dari ball room, preparation room dan beberapa bazar ia tak kunjung juga menemukan Shila.


"Kemana ya dia?" Evan menggaruk-garuk kepalanya, lagian mengapa ia begitu bersemangat mencari Shila?


Saat Evan memutar balik arahnya ke depan baazar, langkahnya terhenti melihat dua orang yang sudah sangat dikenalinya. Adit dan Shila.


"Eh lo nangis Shil?" tanya Adit membungkukkan badannya ke wajah Shila. Evan tersenyum miring tumbuh sebuah kekesaln di hatinya.


***


Liburan pun mulai, pagi ini Evan berniat jogging di sekitar komplek rumah sambil sesekali memanjakan matanya untuk melihat suasana komplek yang amat menyejukkan pandangan . Ada beberapa dari tetangganya yang juga jogging, sayangnya, tak banyak dari mereka yang Evan kenal.


Saat Evan tiba di komplek dimana dirinya dan Shila bertemu, Evan memilih untuk beristirahat sejenak untuk merenggangkan tubuhnya.


"Evan!" panggil Shila tiba-tiba yang sepertinya juga sedang jogging.


Evan tersenyum dan mengantungkan ponselnya.


"Lo jogging juga?" tanya Shila dan duduk disamping Evan.


Evan mengangguk.

__ADS_1


"Rumah lo dimana Shil? kayaknya kita sekomplek."


"Dari sini ntar lo jalan lurus aja, lalu belok kanan. Pokoknya cuman rumah gue yang ada bunga mataharinya di depan rumah."


"Pantas, nggak terlalu jauh dari taman."


"Ckckck, lo yang kejauhan jogging Van."


"Mau singgah ke rumah gue nggak?" tawar Shila kepadanya.


Dengan ragu Evan menggeleng kepala.


"Sekali-sekali nggak masalah kan? Kan lo teman gue," tawar Shila lagi.


Akhirnya Evan mengiyakan ajakan Shila, mereka berjalan beriringan menuju rumah Shila dan keduanya saling diam enggan memulai pembicaraan. Shila kelihatan santai sambil mendengarkan lagu dari headset-nya, sedangkan Evan mencoba mencuri-curi pandang melihat Shila.


"Lo lumayan dekat juga ya Shil, dengan Adit," kata Evan mendadak membuat Shila berhenti berjalan.


"Iya, udah lama sih. Tapi kita temenan doang kok," jawab Shila berusaha tenang.


"Kemarin pas pensi, gue ngelihat lo sama dia."


Shila mengubah posisi menjadi menghadap Evan menunggu perkataan Evan selanjutnya.


"Gue mau nyamperin lo waktu itu, mau bilang kalo ada penampilan dari band kesukaan lo."


"One Direction maksud lo? Lagu More Than This kan?" tanya Shila masih tertawa. Evan mengangguk mengiyakan.


"Waktu pas penampilan dari band kesukaan gue, Adit manggilin gue. Tapi karena nggak kedengeran akhirnya dia nyamperin gue," jelas Shila jujur.


Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Shila. Bentuk rumahnya tak jauh beda dari rumah Bunda dan Ayah, kelihatan minimalis. Disana terparkir mobil Pajero Sport dan dua honda matic. Dan tak lupa, bunga matahari tumbuh subur di pekarangan rumah Shila. Membuat rumahnya kelihatan sedikit berbeda dari tetangga-tengganya.


"Yuk masuk!" ajak Shila kepada Evan.


"Gue disini aja deh Shil," tolak Evan.


"Yaudah, mau minum apa?"


"Air putih aja," Shila pun berlalu ke dalam rumahdan segera mengambil air putih untuk Evan.


"Lo berapa bersaudara Van?" tanya Shila setelah selesai membawakan Evan air putih.


"Gue anak tunggal," jawab Evan dan mulai minum air putihnya, dari tadi ia juga sudah kehausan.


"Terus yang lo bawa ke minimarket itu siapa?" tanya Shila semakin bingung, selama ini Shila belum mengetahui seluk beluk keluarga Evan. Evan terdiam sebentar dan kembali minum air putihnya.

__ADS_1


"Gue disini tinggal dengan adik almarhumah Mama Shil, Papa gue kerja di luar kota," jawab Evan singkat.


"Maaf Van, gue ngga maksud," Shila merasa bersalah menanyakan hal yang mungkin dapat melukai hatinya.


"Santai aja."


Tiba-tiba ponsel Evan berdering ,ia pun merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan yang masuk.


"Gue pulang dulu ya Shil, Papa datang."


***


Papa memeluk Evan sambil mengelus kepala anak satu-satunya itu, sudah lama tak berjumpa langsung dengan anaknya, hubungan mereka berdua lumayan membaik sekarang.


"Nilai kamu bagus-bagus Van, Papa bangga," puji Papa sambil menepuk-nepuk bahu Evan, Evan tersenyum. Wajah Papa terlihat seperti kurang karena kantung hitam di bawah kedua matanya.


"Yaudah, sekarang siapkan baju kamu kita akan pulang ke rumah."


Liburan Evan meminta sendiri untuk menghabiskan waktu dengan Papa, ia ingin merubah sikapnya di depan Papa dan mengubur dendam lamanya itu. Nyatanya, bukan Papa yang membuat Mama meninggal, tapi sudah garis Tuhan yang berkata demikian. Bagaimana pun Evan harus menerimanya.


Dua minggu liburan adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang dengan Papa, Evan juga rindu dengan keadaan rumahnya yang sudah lama sekali tak ia tempati. Papa juga berencana untuk balik ke Irlandia kali ini, manatahu ke luar negeri bisa sedikit membuat otaknya semakin fresh setelah leluwutan menghadapi UAS pertamanya kemarin


Saat Evan ingin menuruni tangga, terdengarlah sedikit pembicaraan Papa dengan Bunda dan Ayah.


"Do'akan saja berjalan lancar ya Dian, Nug. Sudah lama aku memikiran rencana ini."


"Selamat Calley! Semoga pernikahanmu lancar," ucap Bunda yang turut senang mengetahui Papa Evan berencana menikah lagi.


"Pernikahan?" mendengar satu kata itu membuat Evan naik darah, emosi nya terpancing lagi. Sambil mengepalkan tangan Evan bergegas menuju ke bawah, melontarkan seribu pertanyaannya tentang apa maksud pernikahan Papa itu.


"Pernikahan?! Sejak kapan rencana itu disusun?" emosi Evan menggebu-gebu, membuat Papa, Bunda dan Ayah refleks berdiri dengan kehadiran Evan.


"Nanti Papa jelaskan Nak," ucap Papa hati-hati, hal yang ditakutinya terjadi.


"Kenapa Papa tak meminta izin dariku?!" mata Evan memanas, secepat itukah Papa melupakan Mama dan menghadirkan orang baru yang mengganti posisi Mama.


"Papa berencana memberitahumu ketika di rumah Nak, Papa akan jelaskan semaunya."


"Untuk apa izin jika undangan mu itu sudah tersebar kemana-mana!"


"Kenapa kau selalu bertindak semaumu?! Seperti tak ada aku di dalam hidupmu!"


Evan sangatlah marah, tak ada panggilan 'Papa' yang manis lagi, tak ada senyum yang ia berikan ke Papa lagi. Matanya tajam melihat Papa yang kelihatan canggung dan merasa bersalah itu, baru saja hubungan dengan anak satu-satunya membaik tetapi ada saja sesuatu yang menghalang.


"Papa nggak bisa hidup tanpa pendamping Nak, Papa butuh seseorang yang dapat memperhatikan hidup Papa," ucap Papa memberi penjelasan kepada Evan, Bunda dan Ayah menahan bahu Evan yang ingin menghadang Papanya.

__ADS_1


"Bagaimana pun kau adalah orang yang aku benci di dunia ini!" Evan melepaskan bahunya dari genggaman Ayah dan Bunda dan berlari ke luar rumah. Lagi-lagi hal indah sesuai bayangannya belum terjadi saat ini.


__ADS_2