
"Yakan gue kira cewe lo sekretaris OSIS juga, sama-sama di OSIS," – Evano
Tempat ini ramai, banyak sekali orang yang mondar-mandir untuk mencari buku yang mereka inginkan atau membeli alat tulis dan ***** bengeknya. Gramedia. Tempat yang pasti Evan kunjungi setiap bulan atau bahkan setiap minggu, tempat yang Evan anggap rumah sesungguhnya setelah perpustakaan kota. Sehabis mencari sudut yang pas untuk membaca, akhirnya Evan pun tenggelam pada novel fiksi The Madagascar.
"Evan, tadi temen kamu nelpon tuh! Ayah bilang kamu lagi nggak di rumah," sergah Ayah ketika Evan baru saja menginjak rumah.
"Siapa Yah?"
"Adit temen kamu itu."
Evan mengangguk.
"Kamu kok nggak bawa HP?"
"Sengaja Yah, aku ke toko buku tadi. Jadi takut terganggu kalo bawa HP."
***
*Via telepon*
"Gue ga ikut deh Dit."
"Ayolah man, bentar doang."
"Bukan masalah itu."
"Gue mager asli, pengen main game."
Payah kalau sudah berdebat dengan Adit, alasan apapun itu ia tidak akan menerimanya. Ia mengajak Evan untuk nongki bareng di kafe yang baru saja dibuka, Adit ingin memperkenalkan Evan kepada salah satu sahabat karibnya. Sekalian ingin membahas tentang dunia per-sepakbola-an yang sedang hangat-hangatnya.
"Mau ngapain sebenarnya?" sergap Evan saat menemui Adit di depan kafe.
"Ngobrol, gue juga mau kenalin elo sama temen."
"Ck, bilang aja nongki-nongki nggak jelas sama cewe lo."
"Tau aja."
"Terus, untuk apa lo ngajak gue?"
__ADS_1
"Gausah bawel makanya, udah sampe juga."
"Nah! Itu orangnya udah datang," sahut Adit langsung berdiri dan menyusuli temannya yang berada di bibir kafe
"Nah! itu Dim, kawan gue, kenalan dulu." Kata Adit hangat sambil merangkul Dimas. Mereka pun bersalaman dan saling memperkenalkan diri.
"Jadi Evan, ini temen gue. Anak SMA Jagad Raya."
"Lo tau nggak SMA Jagad Raya?" tanya Adit kepada Evan.
"Enggak."
"Seriusan lo nggak tau? Belum gue ceritain ya?"
Evan mengangkat bahu.
"Yang futsal sekolahnya keren itu loh! Yang pernah lawan SMA kita," jelas Adit bersemangat, Evan menggeleng kepala tidak ingat. Adit pun menceritakan kepadanya tentang kehebatan dan prestasi-prestasi yang sudah di raih SMA Jagad Raya dalam pertandingan futsal.
"Nggak pesan minum nih?" tanya Dimas ramah.
"Zerin, sama cewe lo mereka pergi barengkan?"
Evan, Adit dan Dimas melanjutkan obrolan ngalor kidul mereka membahas tentang banyak hal. Tak lama, dua gadis datang mendekati mereka. Dua-duanya merupakan wajah yang asing bagi Evan.
"Loh? Zerin mana?" bisik Evan kepada Adit kebingungan, bukannya gadis yang ia temui di minimarkat kemarin?
"Lah? Seriusan lo nggak kenal?" Adit terkejut bukan main, Evan menggeleng.
"Itu Zerin yang pake baju warna abu-abu."
"Hai Adit, Dimas Hum-"
"Lo yang salah orang ngasih data OSIS ya?" tanya Zerin menyelidiki.
"Ohh jadi lo salah orang Van?" tanya Adit murka.
"Gue nggak tau, gue nitip ke Riski soalnya," jawab Evan makin bingung.
"Gini loh, waktu itu Evan nitip ke aku melalui Riski data yang kamu kasih. Kayaknya Evan kira sekretaris OSIS-nya itu aku. Tapi udah aku kasih kok ke Shila data yang kamu titipin," jelas Zerin hati-hati.
__ADS_1
*Intermezo mulai*
Saat Adit keluar dari kantor dan menemui Papanya, ia baru ingat kalau Adit menitipkan data yang harus ia beri kepada Sekretaris OSIS. Ia mengira bahwa pacarnya Adit yang bernama Zerin itu adalah Sekretaris OSIS. Padahal sekretaris OSIS adalah Shila teman sekelas Zerin.
"Riski, lo anak XI IPS 2 kan?" tanya Evan.
"Iya."
"Gue minta tolong kasih data ini ke Zerin ya, terus bilang ini titipan dari Ketos."
*Intermezo selesai*
"Oh, jadi lo kira cewe gue itu sekretaris OSIS? Shila maksudnya?" gas Adit. Evan cengengesan merutuki dirinya.
" Shila bukan cewek gue Evano. Cewe gue itu Zerin," jelasnya murka melihat tingkah absurd-nya Evan.
"Yakan gue kira cewe lo sekretaris OSIS juga, sama-sama di OSIS."
"Betul kata pepatah. Nggak bertanya, sesat di jalan."
Mereka pun tertawa bersama melihat tingkah Evan. Ada kelegaan saat Evan mendengar kabar ini.
***
"Teman-teman silahkan ke perpustakaan ya, Bu Intan udah nunggu disana jangan ada yang telat katanya," jelas Inel, sang ketua kelas. Bagaikan ayam yang baru saja dilepas dari kandangnya, mereka pun bergegas untuk pergi ke perpustakaan sekolah yang lumayan jauh dari sini.
Saat Adit dan Evan baru saja memasuki perpustakaan, mereka tak sengaja berpapasan dengan Shila yang sedang membawa segunung buku pelajaran yang tebal-tebal.
"Shila, bisa bawanya?" sergah Adit menawarkan diri untuk membantu. Sedangkan Evan entah kenapa gelagapan salah tingkah ketika bertemu dengan Shila apalagi mengingat-ingat kejadian 'salah orang' itu.
"Bisa kok bisa." jawab Shila tentu saja berbohong.
"Mau di bantuin Evan nggak? Dia nawarin nih!" kata Adit usil.
"Ha! Engga kok, gue juga ngga kuat angkatnya," kata Evan gelagapan.
Adit tertawa, " Kok lo salting sih?" sedangkan Shila melongo melihat mereka berdua.
"Gue duluan Dit."
__ADS_1
Saat memasuki perpustakaan Evan menampar-nampar pipinya, kenapa ia mengatakan hal bodoh seperti tadi? Apalagi di depan Shila.