
"Itu keputusan gue. Kalian sebagai bawahan harus ikutin apa yang gue bilang." - Adit
Pelajaran Sejarah pun usai, Evan menutup buku dan merapikan mejanya yang dipenuhi oleh buku-buku dan alat tulis lainnya. Karena hari ini adalah hari Rabu, banyak teman- teman sekelasny berhamburan ke kantin untuk mengejar siomay gratis, makanan terenak seantero sekolah itu. Evan merasa janggal melihat Adit yang banyak diam dan sempat mengantuk di jam Sejarah tadi. Wajahnya begitu lesu, tidak energik seperti biasanya.
"Tumben lo nggak ngantin, bukannya lo salah satu penggemar beratnya siomay Bu Minah?" tanya Evan melihat Adit yang sedang meletakkan kepalanya diatas meja.
"Hah?"
"Telinga itu dipasang, sedekat ini juga nggak denger."
Adit diam tidak menghiraukan.
Adit memutuskan Zerin beberapa hari yang lalu. Ia mengakui sudah tidak nyaman lagi dengan Zerin. Berita putus Zerin dan Adit beredar sekencang topan, pagi tadi ketika Adit baru saja memasuki kelas sudah banyak wartawan-wartawan SMA Perdana yang mengerumuninya. Adit memberikan deklarasi, walaupun hubungannya denga Zering kandas, mereka akan tetap berteman satu sama lain. Dan berita panasnya, Adit takkan menerima gadis mana pun yang mencoba-coba mendekatinya.
"Dit, yuk! Ke ruang OSIS. Kita belum rekap hasil rapat kemarin sore," ajak Hani,
Adit melihatnya sekilas lalu kembali menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Sekretaris pasti udah buat notulensi sendiri, jadi nggak usah di rekap sama-sama."
"Hah? Bukannya Shila selalu buat notulensi pas hasi final? Biasanya kan sebelum itu juga di rekap sama-sama," Bantah Hani.
"Karena udah ada notulensi, jadi menurut gue mulai sekarang nggak perlu di rekap sama-sama lagi. Itu keputusan gue."
Hani diam terpaku.
"Oh iya, mulai minggu ini semua jadwal rapat tim inti OSIS dihapus, masalah pendataan dan tugas kalian yang lain nanti gue share di grup. Jadi kalian tinggal menjalani aja," jelas Adit dengan wajah yang sedikit muak.
"Itu keputusan gue. Kalian sebagai bawahan harus ikutin apa yang gue bilang."
Adit kembali menyandarkan kepalanya diatas meja.
***
Hari ini Shila lebih cepat pulang dari sekolah tidak seperti biasanya. Ia ada janji dengan teman SD nya untuk bertemu di sebuah kafe. Sebelum pulang, tak lupa Shila berpamitan dengan Fira yang masih belum pulang karena memiliki jadwal latihan paskibra.
Shila berjalan ke parkiran motor sambil meneleponn teman SD nya untuk memberitahu bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kesana. Saat Shila memakai helm bogo miliknya, seseorang memanggilnya.
"Shila."
"Eh Evan," jawab Shila lalu memberi senyuman.
"Udah sembuh total?"
__ADS_1
"Udah kok. Gue udah bisa jogging lagi nih! Di komplek."
"Maaf ya, waktu itu gue nggak jadi jenguk lo pas di rawat."
"Nggak masalah, kan gue udah sembuh-" mata Shila teralihkan ketika seorang medusa berjalan menuju tempat parkiran.
"Eh gue nggak bisa lama-lama nih, ada janji sama teman. Nanti gue kabari lagi ya Van," kata Shila buru-buru sambil menghidupkan mesin motornya. Evan merasa keanehan juga pada Shila. Saat Evan menoleh ke belakang ia melihat Adit sudah berdiri disamping motornya, mukanya masih masam seperti pagi tadi. Motor Shila dan Adit berpapasan, tetapi tak satu kata pun yagn terlontar dari mulut mereka, Evan berjalan mendekati Adit.
"Lo berantem dengan Shila?" tanya Evan sambil menghidupkan mesin motornya, Adit tak menjawab dan berlalu pergi meninggalkan Evan.
Shila pun sampai di sebuah kafe dimana ia dan Sarah janji untuk bertemu. Shila memarkirkan motornya lalu memasuki kafe. Indera penciumannya disambut dengan aroma kopi dan karamel yang menyeruak dimana-mana. Sarah yang tadinya duduk spontan berdiri melihat kedatangan Shila. Ia langsung memeluk Shila erat karena hampir genap lima tahun mereka tidak bertemu.
"How beautiful you're Shila," puji Sarah kagum melihat banyak perubahan di diri Shila.
"Mungkin mantan-mantan lo nyesal mutusin lo Shil," mendengar itu Shila tersipu malu.
"Jadi apa yang harus gue bantu Sar? Buat anniv sekolah lo?" tanya Shila.
"Mungkin ada baiknya kita pesan minuman dulu Shil biar agak santai."
"Sure."
Mereka pun memanggil barista kafe untuk memesan minuman dan sedikit cemilan. Sebelum pesanan datang, mereka mengobrol membicarakan pengalaman masing-masing selama di SMA. Sarah yang sangat telaten di dunia musik itu, kini membuka les musik di rumahnya karena ia jago sekali dalam memainkan semua alat musik. Sarah ingin membantu meringankan beban Ibunya dengan mencari uang melalui membuka les musik. Ayah Sarah sudah meninggal tiga tahun yang lalu membuat Ibunya harus membanting tulang demi menghidupi Sarah dan keempat adiknya. Sarah merasa kasihan denga Ibunya walaupun penghasilan Ibunya terbilang cukup, Ia merasa harus turun tangan juga sebagai anak pertama.
Shila buru-buru memanggil pria itu.
"Permisi Tuan, apakah ini milik Anda?" Pria itu mengangguk cepat dan berjalan mengambil amplop dari Shila dan berterima kasih kepadanya.
Tak lama pesanan mereka pun tiba.
"Silahkan dinikmati," ucap barista itu ramah.
"Maaf Mas, boleh nanya nggak?" tanya Shila tiba-tiba.
"Silahkan Mbak."
"Wanita itu siapa ya Mas?"
"Yang punya kafe ini Mbak, Bu Arisha namanya. Mbak kenal?"
"Enggak sih Mas, Kayak pernah liat soalnya."
Barista itu pu mengangguk dan berpamitan kepada mereka.
__ADS_1
"Jadi Shil, gue buka bazar buku pas anniv sekolah gue, lo mau bantuin gue buat jaga stand nya nggak?"
"Kapan? Ih gue seneng lah kalo soal buku."
Sarah tersenyum bersemangat.
"Dua minggu lagi Shil, tapi jaga stand nya dua hari berturut-turut, apa lo bisa?"
"Hari apa aja tuh?"
"Sabtu sampai Minggu, dari jam sembilan pagi sampai sore," jelas Sarah. Shila memutar bola matanya berpikir apakah di hari yang sama ia memiliki jadwal.
"Insyaallah gue bisa Sar, karena dua hari itu gue juga nggak ada jadwal."
"Wahh! Thank you so much for helping me Shila, abis itu gue janji mau traktir lo, oke!"
***
Shila merenggangkan seluruh badannya, hari ini begitu melelahkan. Ia melihat jadwal pelajaran yang tertempel di mading kecilnya dan ternyata besok ada pelajaran Ekonomi. Shila mengehela napas panjang, karena sadar bahwa belum mengerjakan PR Ekonomi.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Shil, gue ke rumah lo ya. Orangtua gue berantem hebat, gue nggak kuat." Fira berbicara tidak teratur karena menahan isakannya. Shila pun buru-buru memberitahu Ayah untuk tidak mengunci pagar dulu karena sebentar lagi Fira akan tiba dirumahnya.
Bel rumahnya pun berbunyi, Shila yang duduk rapi di sofa pun spontan berdiri dan membuka pintu. Terlihatlah keadaan Fira sangat berantakan, matanya memerah dan suaranya begitu serak, Shila memeluknya.
"Gue capek Shil serius, gue capek dengar adu mulut orangtua gue yang nggak ada habisnya," isak Fira tak karuan.
Gue tau lo kuat Fir, lo pasti bisa ngadapin semuanya," bujuk Shila sambil mengelus-ngelus punggung Fira. Bunda yang mengetahui kedatangan Fira pun langsung memeluk Fira yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri.
"Bunda," panggil Fira semakin terisak dan memeluk Bunda, ini bukan pertama kalinya Fira menginap di rumah Shila karena orangtuanya berantam.
"Fira nggak papa kan? Ada yang sakit?"
"Nggak papa Bunda, Fira nggak kuat lagi Bun liat perilaku orangtua Fira," tangisan Fira pecah.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, Bunda percaya kamu anak yang kuat,"
"Bunda memeluk Fira lagi.
Shila pun mengajaknya beristirahat di kamar, sebelum itu Shila menyempatkan diri untuk membuatkan Fira mi instan dan teh hangat.
"Ini buat lo. Dimakan ya," ucap Shila saat melihat Fira sedang termenung dekat jendela.
__ADS_1
"Gue paling nggak bisa nolak mi instan Shil, pasti gue abisin."