Half A Heart

Half A Heart
Chapter 2


__ADS_3

"Cemen lo, masa nembak cewek pake segulung kertas, emang lo kira surat wasiat." – Shila


"Pagi Shila," Sapa Adit ramah saat menemui Shila yang sedang membaca buku di perpustakaan.


"Sok imut lo. Ada maunya pasti."


Adit tertawa sumringah, ia duduk di depan Shila sambil terus memerhatikannya. Shila tetap fokus pada bacaannya tanpa menghiraukan keberadaan Adit. Adit membiarkan Shila fokus pada bacaannya menanti-nanti ia menutup buku sebagai bertanda Adit sudah dibolehkan untuk berbicara.


Shila pun menutup bukunya dan keheranan melihat Adit tidak berhenti tersenyum dari tadi.


"Lo kenapa?"


Adit tersenyum sambil memainkan alisnya.


"Kenapa?" tanya Shila lagi.


"Lo mau kan tolongin gue?"


"Kalo nggak ngerepotin, gue mau."


Adit membenarkan posisinya agar orang lain tidak mendengar rencananya.


"Jadi, hari ini gue mau nembak cewek."


Tenggorokan Shila tercekat, jantungnya hampir copot mendengar apa yang Adit katakan barusan. Hatinya seperti tergores benda tajam.


"Santai dong mbak mukanya," kata Adit lalu mendorong bahu Shila pelan.


"Terus, terus?"


"Dia temen sekelas lo, Si Zerin."


Mata Shila membelalak dan mencoba tetap tersenyum, ia memasang wajah yang paling naif pura-pura bahagia mendengarnya. "Wah, cocok tuh kalian."


Wajah Adit semakin kelihatan senang mengetahui hubungannya disetujui oleh sahabat yang paling di percayainya.


"Nah, karena dia temen sekelas lo Shil, gue minta tolong sama lo untuk kasih dia ini."


Adit menyodorkan sebuah gulungan kertas berwarna pink dan terikat pita hitam di tengahnya.


Shila tertawa, memaksa tertawa tentunya.

__ADS_1


"Kayak mak lampir ketawa lo, lagi di perpus nih! suaranya mohon dijaga."


"Cemen lo, masa nembak cewek pake segulungan kertas, emang lo kira surat wasiat."


Adit menggaruk punuk kepalanya yang tak gatal."


"Terus gimana dong?"


"Temuin dia, terus lo ungkapin perasaan lo ke dia. Dah siap."


"Emang lo kira semudah itu?"


"Yakan lo cowok Dit, masa mau nembak cewek nggak berani sih. "


"Yaudah, yaudah. Berarti gue nggak usah pake surat kayak yang lo bilang."


Shila mengangguk mengiyakan.


"Oke deh, nanti pulang sekolah gue pulang bareng lo, terus kita bahas lagi."


"Balik dulu, pelajaran habis istirahat biasanya gurunya galak." Sambung Adit yang masih kelihatan bahagia.


Katanya dan sempat-sempatnya memainkan rambut Shila. Shila menutup bukunya setengah hati, mengingat wajah Adit yang se-bahagia itu karena ingin menembak seorang cewek, rasanya ingin menangis mengetahui Adit yang nyatanya menyukai orang lain. Sebagaimananya Shila, ia harus terus mendukung pilihan Adit selagi itu untuk dirinya. Apalagi ini demi perasannya, tak ada salahnya untuk memilih tetap bertahan.


***


Evano Calley, anak baru yang blasteran Irlandia-Indonesia hari ini resmi menyandang sebagai siswa SMA Perdana. Kulitnya yang putih dan matanya berwarna nude, membuat penampilan anak itu begitu sempurna. Papa kandung Evan pemilik perusahaan besar sehingga tak cukup waktu untuk mengurus Evan dengan seorang diri. Karena itu ia menitipkan Evan untuk tinggal bersama adik kandung dari Mamanya yang dikenal dengan Tante Dian. Sayangnya, Mama Evan telah meninggal di saat umurnya masih berusia enam tahun.


"Jadi sebelumnya lo homeschooling?" tanya Adit kepada Evan, anak baru yang duduk bersebelahan dengannya.


"Iya, terakhir sekolah kayak biasa pas kelas dua SD."


Adit mengangguk-angguk paham.


"Hobi main bola nggak? Atau kutu buku?"


"Bola lah, masa buku."


"Sip, nanti sore kita main."


Adit menepuk-nepuk bahu Evan, semoga anak baru ini dapat berteman baik dengannya.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Evan dihidangkan kue panekuk yang disirami saus beri diatasnya yang dibuat oleh Tante Dian. Tante Dian memiliki hobi memasak dan sering membuat resep-resep baru yang membuat lidah ketagihan. Rara yang merupakan anak dari Tante Dian menghabiskan kue panekuk itu dengan lahap, Evan tersenyum melihatnya.


"Gimana hari pertama kamu di sekolah baru?" tanya Om Nug suami dari Tante Dian.


"Lumayan Om."


"Mulai sekarang nggak usah panggil Om-Tante lagi deh, panggil aja Ayah dan Bunda biar lebih nyaman," kata Ayah ramah.


"Baik Yah."


"Hebat ya Papa kamu, temennya ada di mana-mana. Kepala sekolah SMA Perdana aja juga salah satu temennya. Udah tau kan?"


"Udah kok Yah, tadi diajak ngobrol sebentar sama beliau."


Ayah Nug mengangguk-angguk mengerti.


"Bunda, mau anekuk lagi," pekik Rara dengan saus beri yang bercomotan di mulutnya.


"Ya Allah Rara, kok bisa berantakan kayak gini sih makannya," omel Bunda melihat Rara. Bunda menggendong Rara. Rara kelihatan begitu menggemaskan ditambah dengan pipinya yang chubby.


"Nggak malu tuh sama Mas Evan," kata Bunda lalu menunjuk Evan, Rara pun membuang mukanya tidak peduli, menggemaskan sekali.


***


"Pokoknya tugas lo cuman nungguin gue sampe balik lagi ke sini," kata Adit memberi arahan kepada Shila agar ia tetap menunggunya di parkiran motor. Shila mengangguk setuju.


Adit pun pergi meninggalkan Shila, ia memilih untuk memainkan ponselnya agar tidak merasa bosan. Sebenarnya Shila terusik karena harap-harap cemas menunggu kabar dari Adit yang sekarang sedang menemui Zerin. Sejujurnya, Adit tak salah pilih, karena Zerin adalah siswi yang famous-nya hingga alumni, ia tak hanya cantik tetapi juga cair dalam hitung menghitung.


Sekarang semua yang dilakukan Shila agar tetap berteman baik dengan Adit adalah mendukung apa maunya, ia akan mengubur harapannya untuk bisa memiliki Adit karena itu takkan mungkin terjadi. Mungkin semua ini butuh waktu dan pasti banyak sekali rintangan kedepannya. Apalagi melihat Adit bersama orang lain di depannya, Shila harus mulai terbiasa.


"Shila! Gue diterima. Lo orang yang pertama tau kabar bahagia ini."


Ada yang patah namun bukan ranting, Shila memasang mimik wajah yang paling munafik se-dunia.


"Akhirnya nggak jomblo juga," kata Shila pura-pura bahagia.


"Lo mau makan apa? Gue traktirin deh."


"Terserah yang penting gue kenyang."


Tak pernah sebelumnya Adit se-bahagia ini, Hari ini merupakan 'Hari Puteq se-SMA Perdana' karena yang menyukai Adit tak hanya Shila tetapi adik kelas, kakak kelas juga banyak yang kagum dengan anak itu. Apalagi dengan gelar Ketua OSIS di punggungnya, Wah! identitas titisan raja kalo kata orang.

__ADS_1


__ADS_2