
"Engga Pak, saya nggak bisa ngitung. Apalagi liat rumus mata saya langsung sakit Pak."-Shila
Setelah hampir dua minggu Bunda dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Bunda sudah boleh pulang dengan bayi yang sebelumnya sempat di inkubator. Sang bayi dominan mirip dengan Bunda apalagi matanya, duplikat mata Bunda. Sampai hari ini Bunda dan Ayah belum mendapatkan ide untuk memberi nama anak kedua mereka yang memiliki jenis kelamin laki-laki itu.
Karena keadaan Bunda belum optimal, Ayah memutuskan untuk mencari pembantu yang dapat menyelesaikan pekerjaan rumah sampai Bunda benar-benar pulih. Sejak Evan tahu bahwa Bunda tidak boleh banyak bergerak, ia rajin menemani Rara, mencuci piring atau sekedar menyapu pekarangan rumah. Karena Ayah masih sibuk dengan pekerjaannya bahkan sesekali keluar kota.
Evan sama sekali tidak menghubungi Papanya, hatinya masih terkunci rapat sejak terakhir kali mengetahui Papa nikah lagi. Mungkin butuh waktu bagi dirinya untuk bisa menerima itu.
Akhir pekan ini Evan memutuskan tidak kemana-mana dan menghabiskan waktunya di rumah untuk membersihkan kamar terlebih lemari pakaiannya yang sungguh berantakan. Gerakan Evan terhenti , ketika menemukan sweeter hitam yang bergambar Garfield di dadanya. Sweeter ini ia gunakan saat sedang liburan bersama Bibi Chess di tebing Moher, Irlandia. Saat itu Evan tak mau bertemu Papa dan sengaja memilih liburan di Limerick bersama Bibi Chess. Evan sadar bahwa sudah lama sekali ia tidak ke Irlandia, negara kecil yang berjulukan 'Negara Zamrud 'itu bagaimana pun adalah tempat lahirnya.
Setelah usai membersihkan pakaian, Evan pun keluar kamar dan segera makan siang lalu bermain dengan Rara. Bunda masih banyak diam dan menghabiskan diri di kamarnya, biasanya Bunda memanggil Evan untuk makan siang, beberapa hari ini panggilan yang terkadang sedikit mengganggu itu tidak kedengaran.
"Rara, udah makan belum?"
"Udah tadi disuapin Bibi."
Evan pun memainkan rambut Rara yang sedang fokus dengan tontonannya lalu mulai menyantap makan siangnya.
"Bunda udah ketemu nama yang cocok belum untuk adik baru Rara?"
"Belum," jawabnya lemas lalu menggeleng-geleng kepalanya.
"Rara ada ide nggak? Kasih nama buat adiknya?"
"Rara mau kasih nama adik Rara, Oggy."
"Oggy? Kenapa Oggy?"
"Karena Rara sayang sama Oggy, kayak Rara sayang sama adik Rara."
Evan tertawa gemas mendengar jawaban Rara yang lucu itu.
***
"Shil, lo dipanggil ke lapangan tuh!" tukas Aldo teman sekelasnya. Shila mengerenyutkan dahi, ada apa? Padahal atribut upacaranya lengkap, malah ia juga memeriksa atribut adik kelas tadi. Mau nggak mau, Shila pun menuju lapangan utama yang masih dipenuhi siswa-siswi yang sedang mengantri pemeriksaan atribut. Shila melihat sekelilingnya siapa yang mencarinya, tetapi semua orang tampak sibuk.
__ADS_1
"Kak Shila."
Shila pun membalikkan badan, terlihatlah seorang adik kelas cowok berkacamata memanggilnya.
"Kakak dipanggil Pak Kurniawan, disana," jelas junior cowok itu lalu menunjuk ke arah gerbang sekolah. Shila berterima kasih lalu berjalan cepat ke arah gerbang, manatahu ada hal penting. Disana Pak Kurniawan sedang berdiri disamping bus sekolah yang bersiap-siap ingin pergi. Shila semakin kebingungan, mungkin ada data OSIS yang di perlukan Bapak itu.
"Ada apa Pak?"
"Ayo! Cepat masuk! Kita udah telat ini," ucap Pak Kurniawan sarkas, seperti di hipnotis Shila pun memasuki bus sekolah yang tidak sebesar bus pada umumnya. Saat baru saja ingin mencari tempat duduk, matanya berhenti melihat dua sejoli yang duduk bersampingan, Adit dan Zerin.
Shila semakin bingung saat melihat Zerin. Karena setahunya Zerin pergi untuk mengikuti lomba mading tiga dimensi. Lalu untuk apa ia di panggil ke sini?
Perasaannya mulai tidak enak.
"Shil, lo ikut olim ceritanya nih!"
Mata Shila terperanjat mendengar perkataan Adit barusan.
"Olim?"
Bukan sekedar terperanjat lagi, rasanya darah Shila juga berhenti mengalir. Tidak mungkin seseorang seperti Shila mengikut olimpiade fisika, karena ia sama sekali tidak pernah minat olimpiade ini, apalagi ia membenci semua hal yang berhubungan dengan angka.
Dalam keadaan bus yang sudah berjalan, Shila menghampiri pak Kurniawan yang duduk di samping supir bus.
"Permisi Pak, saya nggak ikut olimpiade fisika Pak," ucap Shila lemas.
"Loh? Tapi kamu ikut di perlombaan rangking satu olimpiade fisika."
Rangking satu? Olimpiade fisika? Mimpi buruk apa lagi ini.
"Engga Pak, saya nggak bisa ngitung. Apalagi liat rumus mata saya langsung sakit Pak." keluh Shila mulai cemas.
Pak Kurniawan diam tidak memberi respon, ia langsung mengecek lipatan kertas yang ada di saku kemeja PNS nya.
"Nama kamu Sheila Rahmadhani kelas sepuluh IPA empat kan?"
__ADS_1
"Bukan Pak, nama saya Shila bukan Sheila."
"Dan saya kelas sebelas IPS dua, bukan IPA," jelas Shila pasrah. Bus sudah terlanjur membawa mereka jauh dari sekolah.
Shila menjadi anak yang tertukar hari ini.
***
Karena olimpiade fisika yang membawa mimpi buruk ini dilaksanakan di gor yang jauh dari sekolah, tidak mungkin bus ini kembali ke sekolah hanya untuk mengantar Shila seorang. Shila memohon-mohon bahwa ia tidak bisa menggantikan posisi Sheila dalam perlombaan rangking satu, jadi pihak sekolah
Kabar buruknya Shila tidak membawa apa-apa kesini, kecuali topi upacara yang masih terpakai di kepalanya.
Setelah lumayan lama mengitari gor dan melihat-lihat pedagang kaki lima yang menjual berbagai makanan, Shila terduduk lemas di bawah pohon yang lumayan jauh dari keramaian. Ia memeras perutnya, sepertinya maag-nya kambuh karena tadi pagi belum sempat sarapan. Shila pun kembali berjalan mencari Adit untuk meminjam uangnya agar Shila bisa membeli makanan yang dapat mengganjal perutnya yang kosong.
Shila memasuki gor dan melihat ratusan anak berpakaian seragam putih abu-abu sedang duduk tenang di kursi penonton yang melingkari gor itu, langkahnya berhenti ketika ada salah satu pengawas yang menghampirinya.
"Ikut ujian tulis olimpiade fisika Dik?"
"Engga kak, saya ingin mencari teman saya."
"Maaf Dik sebelumnya, selain peserta tidak boleh masuk."
Shila pun kembali berjalan menelusuri bazar-bazar yang ada di depan gor, sesungguhnya rasa sakit di perutnya sudah semakin merangsang dan kepalanya teras begitu berat. Ia harus segera menemukan Adit, sebelum hal buruk terjadi di dirinya.
"A-Adit?" terlihatlah Adit sedang memakan bakso sambil bersenda gurau dengan Zerin.
"Ini rasanya di terbangkan lalu di hempaskan itu?"
Diterbangkan beberapa hari yang lalu dengan sikap manis dan perhatiannya. lalu bersenang-senang berdua tanpa mengetahui Shila yang semenderita ini?
Shila berjalan jauh dari keramaian. Shila ingin kabur, kabur dari bumi ini jika bisa. Perut dan kepalanya sakitnya tidak bisa ditahan lagi, akhirnya mata Shila memberi reaksi, ia menangis. Menangis sambil menahan sakit di tubuh dan di hatinya. Menyedihkan bukan? Tiba-tiba semua orang yang di halaman gor ini menghilang, Hanya Shila dan ingatannya tentang Adit tersisa, ujung matanya gelap dan kepalanya sangat berat. Belum lagi urusan perutnya yang dari tadi tidak berhenti meminta makan itu.
Tubuhnya jatuh ke tanah dan nyawanya seperti terbang entah kemana.
Ini tidak berakhir kan?
__ADS_1
***