Half A Heart

Half A Heart
Chapter 19


__ADS_3

"Kalo gue bisa milih. Gue nggak bakal milih suka sama lo yang udah bahagia dengan teman gue sendiri."- Shila


Dengan terpaksa Evan menuruti langkah Papa untuk keluar dari rumah sakit. Evan berjalan dengan emosi yang masih ditahan-tahannya. Se-plastik roti titipan Bunda untuk Shila masih di genggamnya dengan erat, Papa begitu menariknya dengan kuat untuk masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil suasana hening, anak wanita itu duduk di samping Evan diam tidak melakukan apa-apa. Evan mengedarkan pandangannya ke luar kaca mobil melihat keramaian kota yang tidak ada hentinya. Papa membawanya ke rumah mereka yang sebenarnya.


Sesampai di rumah, Papa memerintahkan semua duduk di sofa tamu. Evan, Ibu dan anaknya menuruti perintah Papa. Permasalahan keluarga ini harus di perbincangkan, sampai kapan Papa tidak berhasil untuk mempersatukan keluarga kecilnya.


"Baik, Evano Calley dengarkan penjelasan saya dengan baik." Tukas Papa lalu membuka kacamata yang dari tadi ia kenakan.


"Maaf jika saya tidak sempat memberitahumu bahwa beberapa bulan yang lalu bertunangan dengan Arisha lalu menikah."


"Apa kamu berpikir, saya semudah itu melupakan Mama? Apa kamu pikir saya siap ditinggal oleh Mama? Apa kamu pikir saya bisa hidup sendirian tanpa pendamping hidup yang sah?"


Wanita yang duduk di samping Papa meneteskan air matanya.


"Tidak ada dari kita yang ingin kepergian Mama secepat ini, begitu juga dengan Arisha almarhum suaminya pergi meninggalkan keluarga kecil mereka."


"Kami sama-sama membutuhkan Nak. Menikah adalah satu-satunya jalan agar kita bisa tetap meneruskan hidup yang belum berakhir ini," jelas Papa panjang membuat suasana di rumah begitu haru,


Evan bungkam.


"Maaf Evan, jika saya menyelip di keluarga kecil kamu," ucap Arisha serak.


Evan bungkam mendengar penjelasan Papa yang menjentik hatinya, kepergian Mama sudah bertahun-tahun dan menangisi Mama setiap hari juga tidak akan membuat Mama bisa hidup lagi. Semakin berjalannya waktu, pasti ada beberapa titik dalam cerita yang berubah, pasti ada di dalam cerita seorang tokoh yang tiba-tiba pergi. Maupun itu hal yang kecil atau hal yang berpengaruh pada cerita selanjutnya. Tugas kita sebagai hamba Tuhan hanya bisa menjalankan cerita yang Ia buat, salah sekali jika Evan yang semakin beranjak dewasa ini masih belum bisa menerima garis hidupnya.


"Lalu apalagi permasalahan yang membuat kamu sebenci itu dengan saya?"


Evan memperbaiki posisi duduknya, sepertinya waktu yang tepat untuk meluahkan segala kekeluan didirinya.


"Dari kecil Evan nggak ada minta Papa punya perusahaan yang sebesar itu, bekerja sebanyak itu untuk mencari uang. Evan nggak ada minta."


"Mungkin di pikiran Papa dengan memiliki banyak uang bisa membuat Evan bahagia. Padahal letak bahagia tidak hanya tentang uang Pa," Evan menyampaikan isi hatinya, secara tidak langsung Evan mengeluh bahwa Papa kurang memberi perhatian kepadanya. Ia selalu sibuk dengan pekerjaan dunia tanpa memerhatikan Evan yang sudah tumbuh sebesar ini.


"Tapi, Evan belum bisa tinggal dengan Papa. Banyak hal-hal berharga yang sudah Evan miliki disana. Dan Evan butuh waktu untuk menerima semuanya."


***


Nanti malam Shila sudah bisa balik ke rumah dan menjalankan rutinitasnya seperti biasa lagi. Senyuman lebar terbentuk di wajah Shila sambil membantu Bunda membereskan barang-barangnya yang akan di bawa pulang. It's a bran new day!


"Bun, Shila nyoba ke rooftop boleh?" Bunda mengangguk mengiyakan, membiarkan anak gadisnya itu melalukan apa saja yang ia inginkan. Shila berjalan dari satu koridor ke koridor lain, menyapa semua orang yang melewatinya, tak ada yang lebih bahagia dari sakit yang sembuh.


Saat Shila sudah tiba di rooftop, hatinya tak berhenti bergetir atas kuasa Tuhan yang membuat langit seindah ini. Ia selalu terobsesi dengan warna jingga dan kuning. Lima hari ini yang dilihatnya hanya dinding rumah sakit yang berwarna putih.


Shila tertegun, ini bukan pertama kalinya ia melihat senja tetapi pertama kali baginya melihat senja se-detail ini. Biasanya Shila hanya bisa melihat saat di sore hari dari rumahnya. Itu pun tertutup oleh pepohonan dan rumah tetangga yang bertingkat. Namun sekarang, matanya dan senja bagaikan bertemu langsung berhadapan tanpa setitik pun yang menghalangi.

__ADS_1


Ia menutup matanya, berdoa dalam hati semoga dirinya ke depan akan selalu baik-baik saja. Berdoa agar ia tidak lagi terpuruk soal rasa. Sudah banyak waktu-waktu berharganya yang ia beri untuk Adit, padahal kurang lebih dua tahun lagi ia akan kuliah dan memulai hal baru.


Ceritanya di SMA akan tinggal menjadi kenangan. Sudah saatnya Shila berhenti mengejar yang takkan pernah berhasil untuk ia miliki. Sudah saatnya ia mematangkan rencana-rencana selanjutnya, apalagi perihal cita-citanya.


Pergilah Adit, pembaca cerita ini sudah lelah melihat peranmu yang sebatas pengisi konflik dan mempersulit cerita. Pergilah!


"Shila."


"Ngapain lo kesini?"


"Gue mau minta maaf soal kemar-"


"Makasih udah ngerawat gue pas pingsan di gor."


"Shila, kok lo marah kayak gini sih? Gue salah apa?"


Shila tidak bisa menahan emosinya, ia benar-benar marah kenapa anak itu masih bisa menemuinya di saat-saat seperti ini.


"Udahlah. Kita cuma sebatas urusan, lo temuin gue pas ada urusan aja."


"Shila, kenapa sih? Gue bingung kenapa tiba-tiba lo kayak gini."


"Nggak usah, banyak tanya."


"Jadi lo nilai selama ini kita dekat karena sebatas itu? Lo nggak ingat dari ratusan murid waktu MOS lo yang pertama kali gue sapa." Jelas Adit yang juga ikut emosi melihat Shila. Shila semakin menangis, mendengar nada Adit agak meninggi seolah-olah membentaknya.


"Udah cukup! Nggak usah ngomong lagi! Nggak usah temui gue lagi!"


"Gue capek Dit, gue capek."


Shila menangis sejadi-jadinya membuat Adit semakin kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi pada Shila.


"Gue capek selama ini berpura-pura nggak ada apa-apa di depan lo. Gue capek selama ini nahan perasaanya yang secara nggak langsung tumbuh tanpa gue mau. Gue capek lo buat senang tapi label di kita berdua cuman sebatas teman."


"Kalo gue bisa milih, gue nggak bakal milih suka sama lo yang udah bahagia dengan teman gue sendiri."


"Tapi nggak masalah, gue ikhlas dan gue pingin semua ini berakhir."


"Gue nggak akan berharap lo balas perasaan gue."


"Mulai sekarang, lo nggak usah anggap gue teman. Soal jabatan sebentar lagi juga selesai." Jelas Shila serak di akhir kalimatnya.


Langit berwarna jingga kemerah-merahan tadi berubah menjadi kelabu yang semakin lama menghitam. Awan-awan kumolonimbus berdatangan seolah-olah semesta tak mengizinkan melanjuti percakapan mereka lagi.


Adit terdiam membeku, tak sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


"Silahkan pergi, anggap aja kita kayak orang yang baru kenal dan belum pernah buat cerita sebelumnya."


Adit terdiam, matanya memerah. Mungkin risih mendengar ucapan Shila barusan.


Tanpa berbicara apa-apa, Adit pergi meninggalkan Shila dari rooftop ditemani hujan yang mulai membasahi tubuhnya.


Shila tersenyum, kini ia sudah tahu jawabannya.


***


Akhir pekan ini Shila dan Fira berjanjian untuk menghabiskan waktu bersama demi merayakan kesembuhan Shila. Tidak jelas seperti apa rutenya, perjalanan mereka dimulai dari mengelilingi plaza Sukaramai untuk mencari baju lalu mengelilingi tempat yang mereka mau. Shila menggunakan jumpsuit polos berwarna hitam dengan kaus lengan panjang corak eskirm kecil-kecil berwarna pink, sangatlah feminim.


"Kemana pun kita, toko buku tetap salah satu rutenya." Kata Shila saat sudah bertemu dengan Fira di bibir plaza.


"Kasih tau gue, buku apa lagi yang belum lo punya."


"Btw Shil, gue mau cari buku One Direction yang judulnya emm-"


"Pokoknya satu buku lagi yang belum gue punya," keluh Fira sambil mengguncang-guncang bahu Shila. Mereka berdua sama-sama menyukai boyband One Direction, bedanya personil favoritnya Shila Niall Horan, sedangkan Fira Zayn Malik. Walaupun Zayn Malik sudah keluar dari band yang memiliki fandom tergila itu, Fira tetap bilang 'Not One Direction without Zayn'.


"Gue juga mau beli albumnya si Lou, favorit banget. Apalagi yang Walls," teriak Shila kegirangan.


"Lo tau kan, judul lagunya yang Miss You?" serbu Shila.


Fira memutar bola matanya berpikir.


"Yang gini, is it my imagination, is is something that im taking? Tau kan?"


"I know, i know, i know for sure," jawab Fira sambil menyanyikan lagu One Direction yang berjudul 'Steal My Girl."


"Everybody wanna steal my girl, everybody wanna take he heart away!," nyanyi mereka berdua serempak.


"HAHAHA."


Begitulah jika Fira dan Shila sudah berdua, gilanya unlimited.


Setelah menonton bioskop dan membeli baju yang dicari, mereka berdua pun memutuskan untuh shalat di mushalla mall dan makan siang setelahnya. Jika perut sedang keroncongan seperti ini sebenarnya tidak ada yang bisa menggantikan kelezatan nasi Padang daripada AW sekalipun, tetapi di mall tidak akan mungkin ada lapak yang menjual nasi padang.


"Shil, ponsel lo mati?" tanya Fira tiba-tiba dengan wajah yang sedikit terkejut. Shila yang mendengar itu langsung menghidupkan ponselnya.


Terlihatlah disana puluhan notifikasi dari Zerin, matanya tertuju dengan satu kalimat-


"Shila, gue putus dengan Adit barusan."


Dan pesan lainnya.

__ADS_1


"Shilaaa, lo dimana? Gue pingin ketemu sekarang."


__ADS_2