
"Pas gue tau, kalo Zerin adalah cewe pilihan dia. Gue rasanya pingin jauh-jauh dari dia. Nggak usah ada Adit lagi di cerita-cerita gue selanjutnya." – Shila
Hampir seminggu Evan menginap di rumah Adit dan menghabiskan waktu bersama, ia memilih tidak balik ke rumah Bunda Dian hingga liburannya berakhir sekitar lima hari lagi.
"Lumayan dekat sekarang lo dengan Shila, cocok kok."
"Ah, kami cumanteman nggak lebih," bantah Evan sejujur-jujurnya. Setelah mendengar itu Adit pun kembali untuk merenggangkan seluruh tubuhnya sebelum berolahraga.
***
Sudah jelas Shila takkan menolak ajakan Evan untuk bertemu sore ini, lagi pula secara tak resmi Evan sekarang adalah sahabatnya. Setelah rapi dan izin ke Bunda Shila pun menghidupkan motor dan berangkat pergi ke kafe dimana ia dengan Evan janjian bertemu disana.
Setelah memarkirkan motor dan menggantungkan helm-nya di kaca spion, Shila pun mengecek ponselnya untuk memberi tahu Evan bahwa ia sudah tiba di kafe, "Lo tunggu aja, gue otw" kata Evan melalui Whattsapp, Shila pun berlalu dan memasuki kafe yang kelihatan aestetik dan memiliki banyak sekali pojok-pojok untuk memotret.
Shila pun memilih tempat yang berada dilantai 2 yang bernuansa outdoor. Karena tidak ada Ac para lelaki yang nongkrong disini bebas untuk merokok. Shila melihat suasana di lantai 2 tidak seramai di lantai 1.
Kafe ini kelihatan begitu indah karena tumbuhnya tanaman anggur yang merambat lebat di atap transparan kafe ini. Dengan dihiasi pemandangan susunan gedung-gedung tinggi yang ada di kota, akan lebih indah lagi jika nongkrong disini di malam hari.
Lamunan indahnya buyar, ketika ponselnya bergetar menandakan ada notifikasi yang masuk, Shila segera menyerogoh tas dan mengambil ponselnya.
"Lo ketemuan dengan Evan kan?" bunyi isi Whattsapp Message dari Adit. Ah, untuk apa? Untuk apa Adit menanyakan hal yang tidak penting ini? Seolah-olah Adit lah yang berkuasa atas segala tindakannya. Shila lebih memilih untuk menghafal biografi seluruh gurunya dibandingkan memikirkan hal yang membuang waktu dan tenaganya ini.
Saat Shila membalasnya, Adit lebih dulu membalas "Tau kok, Evan ngasih tau gue tadi."
Shila tak menjawab apa-apa, ia menunggu pesan Adit selanjutnya.
"Evan belum datang kan? Dia baru aja otw."
Shila mendengus kesal, Adit selalu saja bersikap seenaknya. karena tak tahan lagi Shila pun langsung menelepon Adit.
"Terus, urusan sama lo apa sih?"
"Nggak ada, ngasi tau aja."
__ADS_1
"Ohh gitu."
"Kenapa kalian nggak pacaran aja? Cocok kok, gue nge-ship kalian berdua."
Ah, bukan Adit yang tidak seperti ini, tentu saja perkataan Adit yang ke seratus kalinya menampar habis-habisan hatinya. Apa tujuan Adit yang tak henti-hentinya mencomblangi dirinya dengan Evan. Toh! jika Shila menyukainya, ia akan menyukai Evan dengan sendirinya.
Tapi rasa itu belum sedikit pun muncul di hati Shila.
***
Sudah cukup lama Evan bercerita, ia meminta Shila untuk bercerita suatu hal kepadanya.
"Lo nggak mau cerita?"
"Hah? Apa ya? Gue nggak ada cerita yang menarik sih," bantah Shila seolah-olah semua baik-baik aja, ia pun menyeruput cappucino latte pesanannya.
"Hari kemarin juga udah termasuk sebuah cerita Shil," Shila sumringah sambil memainkan sedotan cappucino latte-nya, ia membuang pandangannya ke arah lain takut ketahuan oleh Evan.
"Lo sama Adit dekat sejak kapan?" Shila terperanjat dan berusaha bersikap biasa-biasa saja. Kenapa harus Adit sih? Evan seperti berhasil membaca pikirannya, Shila bungkam bingung ingin menjawab apa.
"Shil."
Mungkin ada baiknya, Shila menceritakan semua.
Shila memperbaiki posisi duduknya dan mendeham kecil.
"Sampai kapan pun, gue dan Adit ini tetaplah teman," kata Shila.
"Lo beneran mau denger cerita gue?"
"With pleasure."
"Saat itu, ketika di hari kedua MOS kami pas kelas sepuluh, banyak banget kegiatan yang dibuat kakak-kakak panitia MOS. Temen-temen gue banyak yang dari SMP yang sama, so mereka udah akrab dan punya circle teman sendiri. Sedangkan gue, satu-satunya dari luar kota. Gue juga susah memulai pertemanan, alhasil gue menyendiri di koridor kelas yang ujung, terus Adit datang."
__ADS_1
"Lo ngapain sendirian?" Adit nanya ke gue. Ya, gue terkejutlah, sebelumnya juga belum pernah jumpa, wajahnya asing banget tapi gue dapet pesonanya yang belum pernah gue dapetin di cowo lain. Pas itu, gue bungkam dan nggak jawab pertanyaan dia. Nggak gabung sama anak lain? tanyanya lagi, tapi gue tetep nggak jawab apa-apa. Gue emang susah ngobrol dengan baru dulu. Adit nanya lagi ke gue, Kenapa? Karena alasan lo yang kurang pandai bergaul itu? Gue tercengang, kok bisa anak itu tau isi kepala gue?"
"Mau sampai kapan, nggak punya teman karena nggak pandai bergaul jadi alasannya? Dia nyengir kuda terus duduk disamping gue, pas nggak lama duduk tiba-tiba dia bilang, yuk ke gor, nggak usah peduliin rasa khawatir yang ada di otak lo sekarang."
Shila tersenyum mengingat kejadian itu.
"Pesonanya dia bukan di penampilannya Van, dari semua anak MOS waktu itu, cuman dia yang anggap gue ada di sekolah ini. Panitia MOS aja nggak sadar kalau sebenarnya gue ada beberapa kali cabut saat program mereka." Jelas Shila diakhir ceritanya kepada Evan.
"Sejak itu, gue pengen buktiin ke dia kalo masa SMA gue indah kayak yang dia bilang. Tapi makin kesini, ya, lo tau sendiri ceritanya kan?"
"Karena Adit bukan milik lo?"
Shila menggangguk pelan.
Evan yang mendengar itu tentu bersikap seolah-olah biasa saja. Ia kira Adit yang memiliki perasaan kepada Shila, nyatanya sebaliknya. Ada sedikit kekecewaan pada diri Evan saat mendengar itu, akan tetapi ia mencoba menutupinya dari Shila.
"Pas gue tau, kalo Zerin adalah cewe pilihan dia. Gue rasanya pingin jauh-jauh aja dari dia. Nggak usah ada Adit lagi di cerita-cerita gue selanjutnya."
"Kalian nggak bisa jauhan, apalagi lo masih sekretaris OSIS Shil."
"Gue mau jabat, karena ada alasan lain Van, yang jelas bukan karena Adit," jelas Shila. Adit mengangguk-angguk mengerti.
"Btw, bukannya anak kelas lo pada liburan bareng ya?" Evan berusaha mengalihkan pembicaraan, cukuplah sudah cerita manis dan wajah Shila yang sedih itu.
Shila mengangguk santai.
"Terus kenapa lo nggak ikut bareng mereka?"
"Gue ngga diajak," Evan kaget, ia kembali menatap raut wajah Shila yang memang menggambarkan sedang tidak bercanda, Shila tidak berbohong.
"Salah satu alasan gue terpaksa jadi sekretaris OSIS Van, supaya gue bisa dihargai."
"Yang seharusnya gue bisa jauh dari Adit tapi malah sebaliknya, yang harusnya gue dihargai oleh teman-teman, eh nyatanya malah nggak ngaruh apa-apa."
__ADS_1
Evan bungkam dan sama sekali tak mengerti cerita Shila. Masa iya, seorang Shila yang baik dan pintar ini punya cerita seperti benang kusut? Lebih kusut dari hidupnya?