Half A Heart

Half A Heart
Chapter 18


__ADS_3

"Non sense dude, isi pikiran loh udah penuh tuh! Karena Adit." – Fira


"Kamu mau makan apa?"


"Mau makan bakso aja," jawab Zerin sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh bazar.


Mereka berdua berjalan menuju pedagang kaki lima yang menjual bakso, mie ayam dan teman-temannya. Zerin memang menyukai makanan dari olahan daging tetapi tidak dengan Adit. Ia sebenarnya kurang suka dengan makanan yang berkuah. Akan tetapi apapun kemauan Zerin, Adit akan selalu memenuhinya.


Setelah memesan makanan, tidak ada lagi obrolan penting di antara mereka. Aneh bukan? Dari awal mereka berpacaran memang sering begini, tidak canggung dan tidak juga saling mencairkan, lalu apa?


Pesanannya pun datang, Zerin langsung melahap semangkuk bakso yang ada di depannya itu. Sedangkan Adit memesan segelas teh es dingin lalu kembali tenggelam pada ponselnya. Sesekali Adit melihat Zerin yang sedang lahap memakan bakso, ia tersenyum gemas.


Dari sekian banyak orang yang ada di halaman gor ini, tidak ada tanda-tanda keberadaan Shila. kemana anak itu? Pasti Pak Kurniawan sibuk dengan anak-anak yang sedang lomba, Bapak itu tak mungkin bersama Shila. Ia juga tidak membawa ponselnya, bagaimana bisa Adit menghubunginya?


"Oh iya, kamu udah ada ketemu Shila belum di kelas?" tanya Adit mencoba mencairkan suasana.


"Sebentar sih, beberapa detik sebelum upacara dimulai tadi," jawab Zerin, Shila bukan hal yang asing lagi untuk mereka bahas berdua, Zerin sudah biasa menjawab pertanyaan Adit seputar Shila.


"Dimana ya dia? Kok belum keliatan dari tadi."


"Nggak usah khawatir, Shila itu otaknya hampir sama kayak kancil, cerdas."


Adit tersenyum lebar membenarkan ucapan Zerin. Shila seseorang yang begitu cerdas dan tekun, apapun tanggung jawab yang di amanahkan kepadanya selalu selesai, ia juga kreatif. Tidak ada yang tahu bagaimana Tuhan mampu menciptakan gadis seindah Shila. Banyak orang yang belum bisa menemukan kekurangan pada dirinya. Mungkin ada, seperti Shila yang suka tidur tidak tepat waktu. Apa itu bisa di hitung sebagai kekurangan? Mungkin bagi Adit tidak.


"Kalau di kelas, dia lucu banget. Di ganggu Aldo cuma diem, di isengin Dino juga diem. Dia kayak cuek ke semua orang, kalau Shila sekali ngomong, cowo-cowo tuh! Langsung pada patuh sama dia."


Adit tertaw membayangkan tingkah Shila yang konyol itu.


"Tolong! Tolong!" refleks Zerin dan Shila melihat ke sumber suara siswa. Ada seorang siswi yang terbaring di tengah-tengah bazar.


Adit spontan berdiri, melihat siapa gadis yang terbaring itu. Matanya membelalak besar ketika melihat sepatu yang di pakai gadis itu. Converse hitam memudar, sepatu yang sangat Adit ingat betul bentuknya.


"Shila!"


Adit berlari mendekati keramaian yang sudah mengelilingi Shila. Ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.


Bibir Shila begitu pucat, matanya setengah tertutup dan berair seperti habis menangis. Hidungnya mengeluarkan darah segar yang tidak berhenti keluar. Shila mimisan? Mohon Tuhan, jangan titipkan hal buruk apapun pada gadis ini.


Adit meletakkan punggung tangannya diatas kening Shila, lalu meraih tangan Shila dan meletakkan jempolnya tepat di urat nadinya. Masih berdenyut. Adit mengusir siswa-siswi yang mengelilingi mereka berdua membuat udara semakin pengap. Selagi ia masih sanggup membantu Shila, maka ia tak butuh satu tangan pun bantuan dari orang lain.


"Shil, bangun Shil."


Adit merogoh ponsel di saku celananya, dan segera menelepon pihak rumah sakit.


***


Shila terkena tifus. gastric acid dan maag-nya kambuh secara bersamaan, karena itulah Shila pingsan dan mengeluarkan mimisan siang tadi. Beberapa hari ini Shila akan dirawat dirumah sakit untuk beristirahat dan menenangkan pikirannya.


Di dalam ruangan opname, Shila terbangun karena mendengar lantunan musik jazz dari MP3 yang terletak persis di samping jendela ruangannya, musik jazz itu salah satu playlist kesukaannya yaitu 'Good Morning Heartache' oleh Scott Hamilton. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore, mungkin indah sekali jika jam segini berada di rooftop rumah sakit sambil melihat sunset, tetapi Bunda belum mengizinkannya.


Shila ingin bangun tetapi gerakannya terhenti saat melihat sebuah infus yang melekat di punggung tangannya.Untuk pertama kalinya Shila memakai infus.


"Alhamdulilah, anak Bunda sudah bangun." Ucap Bunda senang melihat anak sulunya sudah sadarkan diri..

__ADS_1


Fira melambaikan tangan kepada Shila.


"Semoga cepat sembuh ya Nak, agar kamu bisa pulang ke rumah," ucap Bunda sambil mengelus-ngelus puncak kepalanya


"Ponsel kamu Ayah simpan dulu ya, kamu butuh waktu untuk menenangkan pikiran." Jelas Ayah yang berdiri di samping Bunda.


"Adik-adik dimana Bun?" tanya Shila.


"Mereka Bunda titipin di rumah tante Inel Shil, takut malah jadi menyusahkan kalau ikut."


Shila mengangguk paham.


Setelah lama mengobrol Ayah dan Bunda pun pamit untuk mengurus administrasinya lalu pulang ke rumah karena hari mulai larut malam.


Tinggalah Fira yang masih ingin menemani sahabatnya itu.


"Hahaha, akhirnya lo saki." Ucap Fira asal-asalan sambil menarik kursi dan duduk persis di samping kasur Shila.


"Gue butuh klarifikasi nih dari lo, kok bisa nyasar ikut olimpiade fisika?" tanya Fira meledek. Padahal ia sendiri juga sudah tahu cerita detailnya bagaimana.


"Nggak ngerti banget sih, gue nggak boleh banyak pikiran kata Dokter, biar cepat sembuh.."


"Non sense dude, isi pikiran loh udah penuh tuh! Karena Adit."


"Nggak usah sebut nama dia! Benci."


"Makin sakit, makin banyak omong kosongnya ya."


"Tapi Adit yang udah bawa lo ke rumah sakit Shil, dia yang ngurusin lo pas pingsan."


"Jangan lupa catat di diary lusuh lo. Kalau hari ini lo ngerasain jadi anak yang tertukar, ngerasain gimana itu mimisan, pingsan dan terakhir ngerasain make infus.


"Hah? Gue pingsan? Terus mimisan?"


"Iya lo pingsan, mimisan tadi. Untung ada pahlawan Adit datang membantu."


Shila memutar bola matanya kesal.


Pintu ruangan terbuka. Adit berdiri di depan dengan seragam putih abu-abu dan ransel sekolah yang masih disandangnya.


"Izin kalo mau masuk," oceh Fira. Shila yang mengetahui kedatangan Adit langsung membuang pandangannya ke arah jendela, ia tak mau melihat medusa itu untuk saat ini.


"Maaf Shil gue baru bisa jenguk lo, soalnya baru pulang olimpiade tadi."


"Sebenarnya sih gue pilih nggak ikut lomba biar bisa nemenin lo, tapi nggak di bolehin sama Pak Kurniawan."


Siapa yang nanya?


"Maafin gue ya."


Nggak mau!


"Udah pulang sana, badan lo tengil banget sumpah!" oceh Fira yang mengerti bahwa Shila tak ingin bertemu Adit.

__ADS_1


Tetapi untuk apa Shila marahan dengan Adit? sedangkan Adit tidak ada membuat kesalahan apa-apa.


"Shil, gue bawain martabak kubang. Dimakan ya," ucap Adit sambil meletakkan sebungkus martabak yang harumnya memenuhi ruangan.


Fira keluar dari ruangan, sepertinya ada urusan mereka yang harus diselesaikan.


"Shil."


"Maaf gue nggak bisa deket-deket, belum mandi soalnya."


"Shil."


"Shila."


"Sana pergi! Gue nggak mau ketemu sama lo," jelas Shila yang akhirnya mengeluarkan suara, Shila menahan air matanya yang hampir keluar, mengingat hidupnya yang monoton dan kisah cintanya yang gagal itu.


Shila bosan jika alur ceritanya terus-terusan begini. Ia akan selamanya terjebak friendzone jika perasaannya masih untuk Adit.


"Shil."


"Gue bilang pergi, ya pergi!" nada ucapan Shila sedikit meninggi, tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia butuh waktu untuk tidak di ganggu oleh makhluk itu, ia butuh waktu untuk berbaikan dengan dirinya, ia butuh waktu untuk mengubur perasaan dalam-dalam, ia butuh waktu untuk tidak berharap dengan Adit lagi.


Untuk apa berjuang jika yang di perjuangkan saja memperjuangkan orang lain? Untuk apa menangis jika yang ditangisi saja tidak peduli itu? Untuk apa berharap sedangkan kehadiran Shila saja hanya peran pengisi hidupnya, bukan pemeran utama dalam ceritanya. Untuk apa?


***


Evan berpamitan kepada Bunda untuk ke rumah sakit menjenguk Shila. Bunda menitipkan uang kepada Evan agar membeli roti-roti yang akan di berikan kepada Shila.


Setelah membeli roti titipan Bunda dan tiba dirumah sakit, Evan langsung menaiki lift dan segera menuju kamar Shila tempat ia di rawat.


"Evano," Evan terkejut, mendengar namanya dipanggil secara utuh


Ia menoleh ke sumber suara.


"Kamu jenguk siapa disini Nak?" tanya Tuan Calley, Papa kandung Evan.


Melihat Papa bersama seorang Ibu dan gadis kecil yang berdiri sampingnya, Evan kecewa bukan kepalang.


"Evano, kenapa setiap kali Papa hubungi tidak pernah dijawab? Apa kamu sudah ganti nomor?"


"Untuk apa menghubungi aku, jika Papa sudah bahagia dengan kehidupan yang baru."


"Kamu dengarkan perkataan Papa dulu Nak, ini bisa kita bicarakan bersama. Kamu nggak pernah ngasih tau Papa buat jelasin."


Evan tak menghiraukan dan berlalu pergi meninggalkan Papa.


Papa menarik tangan Evan kuat, ia begitu ingin Evan mendengar penjelasan darinya.


"Lepasin!"


PRAK!


Hantaman kuat dari Papa tepat mengenai pipi Evan, banyak ekor mata yang mulai melihat pertengkaran Ayah dan anak di tengah-tengah podium rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu nggak boleh pulang sebelum kita selesaik permasalahan ini!"


__ADS_2