Half A Heart

Half A Heart
Chapter 11


__ADS_3

Ini hari kedua classmeeting yang di adakan di SMA Perdana. Hari ini pertandingan futsal antar kelas yang menjadi top trending bagi seluruh siswa-siswi SMA Perdana, semua heboh dan memenuhi bibir lapangan untuk melihat jagoan kelas mereka. Sedangkan Evan dan Adit yang merupakan jagoan dari kelas XI IPA 2 siap lahir batin untuk mengikuti pertandingan, Evan yang merupakan kala pertamanya tampil di depan banyak orang merasa sedikit nervous bahkan berpikir untuk tidak mau ikut. Padahal penampilannya sangat ditunggu-tunggu oleh siswi SMA Perdana karena Evano Calley resmi menyandang gelar The Most Wanted SMA Perdana saat ini.


Evan dan Adit melihat dengan seksama pertandingan antara kelas XI IPA 3 dengan XI IPA 4 yang masih memanas di detik-detik terakhir. Setelah pertandingan ini, giliran mereka untuk berjuang di lapangan melawan XI IPS 1.


"Lihat tuh! Adik kelas, kakak kelas, seletingan ngeliatin elo Van," bisik Adit kepada Evan saat mereka duduk rapi menunggu pertandingan futsal yang selesai beberapa menit lagi.


Evan tak merespon perkataan Adit, matanya tetap fokus melihat ke lapangan.


"Siap-siap aja banyak hadiah di bawah meja lo nanti."


Tentu saja perkataan Adit itu sangat terekam jelas di kepala Evan, sebenarnya membuat Evan semakin tidak percaya diri untuk ikut pertandingan, mencari pengganti pun tak mungkin di detik-detik terakhir seperti ini.


"Hai Adit," sapa seorang perempuan yang langsung duduk di samping kiri kirinya. Siapa lagi kalo bukan pacarnya, Zerin.


"Setelah ini kamu yang tanding?" tanya Zerin lembut.


"Iya, doain ya nggak malu-maluin," terdengar dari suaranya Adit terlihat senang karena Zerin mendatanginya sebelum pertandingan. Mereka pun berbicara bagai dunia milik berdua, memancing mata-mata liar yang iri dengan keuWuan mereka. Adit yang tampan, bijak dan jabatan Ketos dipunggungnya berpasangan dengan Zerin yang memiliki paras nan cantik dan telaten sekali di dunia perhitungan, dua sejoli yang sangat serasi.


"Aku balik ke kelas dulu ya, anak-anak sedang ngumpul di sana."


" Semangat Adit!"


Tak lama setelah itu kelas mereka pun dipanggil untuk segera mengumpul di lapangan.


***


"Iya, jangan lupa bilang ke anggota lo, siang ini semua perlengkapan panggung udah harus siap dan jangan ada yang kurang," perintah Shila mengintruksi Winda sang ketua panitia perlengkapan agar pensi yang diadakan besok berjalan dengan lancar.


"Siap Shil."


Shila pun pergi meninggalkan panggung dan kembali ke ruang OSIS untuk memeriksa tugas yang belum diselesaikannya. Saat berjalan menuju ke sana, Matanya tak berhenti melihat pertandingan yang riuh dilapangan. Ia mencari tahu siapa yang sedang bermain sampai pertandigannya se-riuh itu. Langkahnya terhenti saat melihat Adit yang sedang lincah menggiring bola dengan keadaan rambutnya yang terkibas-kibas. Panorama yang indah sekali dimata Shila.


Shila sudah hafal nomor punggung Adit, yaitu nomor 2. Tak hanya itu ia juga hafal warna sepatu futsal milik Adit. Sudah banyak sekali apapun hal tentang dirinya terekam jelas di kepala Shila.


Hanya hati Adit yang mungkin takkan pernah ia milki, Salty girl.


Shila mendelik saat menyadari bahwa Evan juga mengikuti pertandingan. Ia mengira Evan adalah anak yang pendiam, lugu dan suka membaca, ternyata sebaliknya. Shila terus melihat Evan dan tertawa sumringah.


Kabar baiknya, hubungan Evan dan Shila semakin dekat. Shila nyaman berteman dengannya, begitu juga dengan Evan. Pantas saja supporter di lapangan dipenuhi oleh supporter cewek, Jelas alasannya karena mereka ingin melihat penampilan Evano Calley yang sedang hangat-hangatnya di telinga para siswi SMA Perdana.


***


Hari penutupan classmeeting di istimewakan dengan digelarnya pensi. Kali ini, pensi diadakan di lapangan utama yang sudah dipenuhi oleh susunan kursi dan bazar-bazar kecil dipinggirnya.


Yang paling sibuk disaat-saat seperti ini adalah panitia pensi, apalagi Adit sebagai penanggung jawab pensi harus kesana kemari untuk memeriksa dan memastikan agar pensi berjalan dengan lancar. Shila membantu sedikit-sedikit bagian belakang panggung dan sound system, ia telah menyumbangkan keringatnya sebelum pensi ini diselenggarakan mulai dari surat izin, membentuk panitia dan lainnya selesai di tangannya.

__ADS_1


"Panitia konsumsi gimana? Aman?" tanya Adit melalui walky talky.


"Aman Dit."


"Dit, bilangin dong kita disini belum dapat makanan," keluh Dino yang merupakan panitia dari dokumentasi dan HID.


"Tuh makanan dan minuman apalagi?" tunjuk Adit ke arah meja yang diatasnya adalah konsumsi untuk mereka.


"Sesekali usil, nggak masalah kan Dit. Ckckck."


Adit mengedipkan mata setuju dengan ide Dino


"Panitia konsumsi, tolong datang ke pojok kiri panggung , kami lapar nih!"


"B-baik, makanannya sedang di jalan."


Mereka pun tertawa terpingkal-pingkal.


***


Pensi berjalan dengan lancar dengan mengangkat tema 'Colorful Day'. Semua penampilan sukses menarik perhatian penonton. Mulai dari drama, musikalisasi puisi, dance, nasyid, akustik dan lain-lain mereka berhasil menampilkan yang terbaik.


"Liburan kemana lo?" tanya Fira yang berdiri pas disamping Shila.


"Buat schedule jalan-jalan yuk Shil? quality time kita berdua."


Shila mengerenyitkan dahinya.


"Quality time gimana lagi lo? Tiap hari ketemu, tiap hari bareng, bahkan lo tidur di rumah gue Fir. Masih kurang?" tanya Shila kesal sambil melipat kedua tangannya.


"Hehehe, lo nggak mau ya liburan sama gue?" gura Fira lagi.


Shila tak menghiraukan pertanyaan Fira.


Shila berjalan sendirian mengelilingi bazar-bazar kecil di pinggir lapangan. Manatahu ada barang yang menarik untuk dibeli. Langkahnya terhenti tepat di sebuah bazar yang menjual novel dan alat-alat tulis dengan beragam bentuk.


Toko buku, bazar buku, apapun hal yang berhubungan dengan buku pasti akan selalu mnarik perhatiannya. Ia menulusuri rak-rak kecil yang memajangkan novel- novel best seller. Mulai dari buku Tere Liye, Boy Candra, Kata Kokoh, Alvi Syahrin dan Rintik Sedu ada di bazar itu.


"Yang ini berapa harganya?" tanya Shila kepada Adik kelasnya yang menjaga bazar buku itu, ia berkeinginan untuk membeli novel Rintik Sedu yang berjudul 'Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang' buku kolaborasi antara Rintik Sedu dan Sapardi Djoko Damono.


"Tujuh puluh dua ribu Kak Shil," jawab adik itu ramah, tentu saja Shila sudah dikenal akrab oleh adik kelasnya. Tidak hanya sebagai sekretaris OSIS, Shila juga akrab dengan junior SMA Perdana karena sebagian dari mereka sering konsultasi masalah OSIS bahkan curhat tentang apapun yang merek mau. Dimata merek Shila seorang pendengar yang baik.


"Mau dong, bungkus ya."


"Cuman satu Kak? Nggak beli yang lain lagi?" tanya Qonita adik kelasnya.

__ADS_1


"Satu aja dulu." Jawabnya lalu tersenyum.


"Nih Kak, aku beliin satu untuk Kakak. Pokoknya kakak harus baca!" kata Qonita sambil meyerahkan buku yang berjudul 'Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta' karya Alvi Syahrin. Pas sekali dengan suasana hatinya.


"Ih beneran? Aku orangnya nggak bisa nolak kalau di kasih buku."


"Beneran Kak, Kakak kan udah sering bantuin aku."


Shila berterima kasih kepada Qonita dan memeluknya sebentar sebelum keluar bazar.


"Selamat liburan Kak Shila."


Shila pun pergi meninggalkan bazar dan kembali ke pinggir panggung. Saat ia fokus dengan ponselnya sebuah lagu yang sedang di tampilkan menarik perhatiannya.


'Im broken, do you hear me?'


'Im blindid, cause you are everthing I see'


Shila tidak tahu yang tampil dari kelas mana, ia tertuju dengan lagu yang dibawakannya siswa itu dengna petikan gitar akustiknya.


'Im Dancing alone, im praying'


'That your heart will just turn around'


'And as I walk up to your door'


'My head turns to face the floor'


'Cause i cant look you in the eyes and say'


Lagu itu sukses membuat Shila menangis, lagu yang bisa menggambarkan isi hatinya, lirik-lirik lagu itu begitu menyentil hatinya. Ditambah suara siswa yang bernyanyi sopan sekali masuk ke telinga Shila.


Lagu One Direction yang berjudul More Than This.


'When he opens his arms and holds you close tonight'


'It just won't feel right'


'Cause I can't love you more than this'


"Hum, pantes dipanggil nggak kedengaran. Lagu kesukaan lo ternyata," ucap Adit yang tiba-tiba yang sudah berdiri disampingnya. Shila membeku dan deg-degan tak karuan, ia bingung ingin menjawab apa.


"Eh lo nangis Shil?" tanya Adit saat mengetahui Shila mengelap air matanya.


Shila semakin membeku.

__ADS_1


__ADS_2