Half A Heart

Half A Heart
Chapter 10


__ADS_3

"Jangan membuang waktu Shila, Tuhan ngasih gold teenage year ke kita bukan dari kisah cinta" -Fira


"Menurut gue, gimana kalo pensinya nyanyi semua? Nggak usah ada drama, puisi dan yang lain."


"Nge-bosenin soalnya, anak-anak pasti bakal nggak betah," sambung Adit saat rapat tim inti OSIS yang membahas tentang pensi di hari terakhir classmeeting.


"Yakin lo cuman nyanyi doang? Namanya udah nggak pensi lagi tapi konser Dit," sanggah Firman dan disusuli anggukan dari Shila.


"Tapi, bener kata Adit sih karena biasanya anak-anak lebih tertarik dengan nyanyi doang. Pas penampilan lain malah dicuekin," Hani membenarkan opini Adit.


"Pensi itu singkatan dari Pentas Seni. Seni nggak cuman nyany doang. Bisa drama, musikalisasi puisi, teater banyak pokoknya," Shila memberi pendapatnya yang menyanggah ide dari Adit dan Hani. Tidak biasanya jalan pikiran Shila bertentangan dengan ide Adit, membuat Adit semakin merasa tak nyaman dengan sikap Shila.


"Potensi anak-anak nggak cuman dinyanyi guys, gue yakin kalo pensinya harus nyanyi mereka jadi sulit untuk nyiapin penampilan. Mana pensinya juga sehabis ujian," Shila mengeluarkan pendapat cemerlangnya.


Mereka berempat terdiam memikirkan kembali opini dari Adit tadi.


"Oke, gue setuju dengan ide Shila," ucap Adit mengiyakan pendapat Shila disusuli anggukan setuju dari mereka bertiga.


"Sore nanti kita rapat dengan semua bidang OSIS untuk nentuin panitia pensi. Tolong Shila kabarin dengan tiap-tiap ketua bidang," perintah Adit bijak, Shila menggangguk mengiyakan.


"Yaudah kita tutup dulu rapat kita, sehubungan lima menit lagi bel masuk berbunyi," Adit merenggangkan badan lalu menutup notebook-nya. Firman, Hani dan Shila beranjak keluar dari ruangan OSIS dan segera balik ke kelas masing-masing. Disaat Shila ingin keluar dari ruangan OSIS, langkahnya berhenti karena Adit memanggilnya.


"Tungguin! Gue mau nemuin Zerin juga," tahan Adit dan menyusul Shila. Sedangkan Shila masih diam membeku, mengulang kembali kalimat Adit pada. 'Nemuin Zerin' dalam hatinya.


Mereka berjalan beriringan ke kelas XI IPS 2 tanpa obrolan sedikit pun. Shila berusaha tampak seperti biasa aja. Padahal jantungnya sudah dag-dig-dug tidak karuan.


"Shil, gue ada salah ya?" tanya Adit sambil melihat wajah Shila yang tidak mengekpresikan apa-apa.


Shila tak menjawab apapun, pandangannya tetap lurus ke depan.


"Shila!" panggil Adit sekali lagi dengan nada yang lumayan tinggi, Shila tersentak. Langkah mereka berdua berhenti.


"Kalo keusilan gue yang kemarin buat lo marah, gue minta maaf."


"Lo kenapa? Mau nyomblangin gue dengan Evan?" tanya Shila dengan wajah kesalnya. Tetapi hanya ia yang tahu bahwa alasannya kesal bukanlah itu.


"Niat gue cuman bantuin biar lo biar dapat crush yang pas Shil," jelas Adit sejujur-jujurnya. Perkataan Adit lagi-lagi menampar hati Shila dengan kuat.


"Lo ngga usah nyari crush untuk gue Dit, lo tau apa? Gue bisa sendiri kok buat suka dengan orang."


"Terus sikap lo, nunjukin seolah-olah gue ada buat lo tersinggung. Nggak kayak biasanya," keluh Adit lagi

__ADS_1


"Seolah-olah gue ada buat lo sakit hati."


Shila mendongakkan kepala dan melihat wajah Adit yang lebih tinggi darinya. Sudah berapa kali perkataan Adit itu membunuh perasaannya dengan perlahan. Shila sendiri yang memilih untuk tetap bertahan, tetap menjadi Shila seperti yang pertama kali Adit kenal. Namun, ini beda cerita. Berbeda dari rencananya.


Ia senang melihat Adit bahagia, tetapi ia belum menerima bahwa nyatanya yang berhasil membuat Adit bahagia itu bukanlah dirinya. Yang ada di cerita manis Adit itu bukanlah dirinya.


"Ngga usah sok tau Dit, gue tau apa yang harus gue lakuin."


"Jangan buat sikap gue berubah ke elo Shil," kata Adit dengan wajah serius. Shila tersentak, ia tak salah dengarkan? Untuk pertama kalinya Adit mengancam dirinya.


Mata Shila memanas tapi ia menahannya. Adit takkan mengerti bagaimana rasanya bermuka dua di depan orang banyak. Bertingkah seolah- olah tidak ada apa-apa di depannya. Jika diri Shila disamakan seperti daging, daging itu sudah tak terbentuk lagi karena dimakan hewan buas. Seperti itulah diri Shila saat ini.


Ia pun meninggalkan Adit yang masih menatap wajahnya.


***


"Jangan buat sikap gue berubah ke elo Shil."


Perkataan Adit sangat terekam jelas di otak Shila, ia sempat menangis sendirian karena posisinya yang serba salah. Menyukai seseorang yang sudah dimiliki oleh temannya sendiri. Parahnya, menyukai seseorang yang tidak pernah menyukainya, sakit bukan?


Shila tak selera makan dan tak sedikit pun menyempatkan diri untuk membuka ponselnya. Shila juga tidak ikut rapat OSIS tadi sore, ia beralasan harus menjemput adiknya sehingga tak sempat mengikuti rapat. Padahal alasan yang sebenarnya adalah ia tak ingin bertemu dengan Adit dulu, suasana hatinya begitu kacau.


Tok Tok Tok


"Shila, buka dulu pintunya Nak. Fira datang nih!" panggil Bunda dari balik pintu.


"Untuk apa Fira datang malam-malam begini?"


Tok Tok Tok


Shila pun menghapus air matanya dan beranjak untuk membuka pintu kamar.


"Hai! Teman seperburikan gue!" Ledek Fira dan langsung memeluk Shila.


"Lo ngapain malam-malam kesini?"


"Nggak liat gue bawa tas, terus make piyama," oceh Fira.


"Besok sekolah Fir, kerasukan apa lo?"


"Ah udah-udah. Nggak usah wawancara, minggir dulu! Gue mau masuk," Fira pun menerobos Shila dan memasuki kamar Shila layaknya kamar sendiri. Rumah Shila selalu menjadi tempat tongkrongan mereka, keluarga mereka berdua pun sudah saling mengenal. Dimata Shila, Fira sudah dianggap sebagai keluarganya.

__ADS_1


"Gue tau lo ada masalah Shil. Cepat sini gosip dulu," ajak Fira dari atas kasur seolah-olah ialah tuan rumahnya. Mereka sebelumnya sudah sering begini, jika salah satu diantaranya sedang ada masalah, mereka akan saling tukar pikiran tak kenal waktu.


Setelah Shila selesai memakai skincare routine-nya, ia pun mendekati Fira dan menceritakan apa yang terjadi di dirinya.


"Lo dari dulu juga udah tau kan Adit nolak elo, terus kenapa masih lo kejar?" tanya Fira setelah dongeng dari Shila selesai.


"Pertanyaan retorik Fir, gue juga nggak tau kenapa."


"Yaudah, coba anggap aja Adit emang ngga mau sama lo dan seumur hidup ngga akan pernah suka sama lo."


Itu sama saja kan, merelakan Adit dengan orang lain.


"Lo sampai kapan mau begini Shila? Ini udah setahun," geram Fira sambil memainkan pipi Shila.


"Karena enggak juga bukan jawaban Shil. Dari dulu jelas kok he never love you."


"Sama aja kan gue kayak nge-bohongin diri sendiri Fir? Lo nggak tau gimana sulitnya ngilangin Adit dari kepala gue.


"Apalagi nge-hilangin hal yang udah buat gue bahagia."


"Ck, apa lo bilang bahagia? Lo tersiksa Shila" Ketus Fira ada benarnya. Justru sejak keadaan Adit dihidup Shila, membuat cerita-ceritanya jadi seburuk ini.


"Ya gue bahagia aja Fir, bisa ngehabisin waktu bareng dia. Liat dia seneng aja gue bisa ikutan seneng."


"Awam banget Shil alasan lo.Kalu semisalnya lo dapetin Adit, posisi lo juga ngerebut Adit dari Zerin."


"Tapi ngga mungkin sih, Adit suka sama lo."


"Seganteng apa sih Adit? Ganteng juga Aldo, Dino, Evan,Dito daripada dia," Fira mengomel tak henti-hentinya.


"Jangan membuang waktu Shila, Tuhan ngasih gold teenage year ke kita bukan dari kisah cinta. Kita boleh gagal dalam cinta, tapi makin sedih lagi kalo gagal dalam pertemanan kan?"


"Sadar kalau di sekeliling lo banyak orang baik kayak gue."


Shila menyeringai.


"Mungkin cerita-cerita lo tentang Adit nggak bakal muat kalo cuman satu buku. Gue juga bosan dengarnya." Goda Fira.


Shila menyipitkan matanya ke arah Fira tak terima, lalu memukul muka nya dengan bantal guling.


Mereka tertawa, riuh, tak ingan waktu yang sudah selarut apa.

__ADS_1


Setidaknya kehadiran Fira yang kapan pun ada untuknya itu membuat Shila semakin sadar untuk memerdulikan orang-orang yang ada disekitarnya.


__ADS_2