
"Bunda lahiran Van, kunci rumah Ayah titipkan dengan bu Hanum tetangga disamping rumah, kalo lapar kamu beli junkfood dulu ya, jangan lupa istirahat. Setelah shalat magrib, kamu ke rumah sakit ya jenguk Bunda."- Ayah
Secarik memo yang membawa berita bahagia dan menegangkan itu tertempel di depan pintu rumah. Evan merasa bersalah, dari tadi ponselnya mati karena baterainya kosong sehingga Ayah pasti sudah meneleponnya berkali-kali. Evan duduk di kursi jati halaman rumahnya, mengkhawatirkan keadaan Bunda maupun calon bayi, karena Bunda melahirkan sebelum jatuh tempo dari dokter, kecepatan lahiran. Semoga kali ini semua akan tetap baik-baik saja.
Evan meletakkan ransel sekolahnya di kursi dan membuka kerah kancing bajunya sambil berjalan ke arah rumah Bu Hanum. Bu Hanum merupakan tetangga yang akrab sekali dengan keluarga mereka, jadi pertolongan apapun yang pertamakali yang di cari itu selalu Bu Hanum .
Evan memasuki rumah dengan keadaan rumah yang masih dibilang berantakan , malah TV belum sempat di matikan. Evan membayangkan betapa cemasnya Ayah tadi, sehingga kondisi rumah pun masih tak beres begini.
Evan buru-buru membereskan rumah dan tak lupa mengabari Shila bahwa sore ini, ia tak bisa menemani Shila membeli pot bunga di DIY.
Setelah shalat dan semua pekerjaan rumahnya selesai, Evan pun bersiap-siap untuk pergi menjenguk Bunda Dian di rumah sakit. Tetapi sampai sekarang ia belum menemukan kunci motor, biasanya tergantung di gantungan ini. Tak satu pun ada kunci di sana. Hampir dua puluh menit mencari, ia belum juga menemukan kunci motornya, Evan pun memutuskan untuk memesan GoJek saja.
Setelah sampai di rumah sakit, Evan berulang kali menelepon Ayah tapi tidak diangkat, ia panik. Evan berlari ke arah suster yang sedang berjalan ke arah salah satu orang pasien.
"Permisi Suster, pasien Ibu yang baru saja melahirkan itu dimana ya ruangannya?"
Evan bilang apa? Ia sungguh panik hingga pertanyaan yang di lontarkannya pun jadi tidak begitu jelas.
"Maaf Tuan, saya tidak merawat pasien ibu melahirkan, Tuan bisa bertanya pada petugas administrasi."
Evan pun melangkah cepat kesana, Suster itu benar. Mengapa sebelumnya ia tidak bertanya di ruang adminitrasi yang berada di koridor depan rumah sakit ini. Memalukan sekali.
Banyak raut wajah orang-orang disini yang sama paniknya dengan Evan. Selain penjara, Evan juga tak menyukai rumah sakit. Tak hanya aroma tempat ini yang menyengat, tetapi tempat yang membuat orang-orang sadar bahwa yang paling mahal di dunia ini adalah kesehatan, bukan baju-baju branded.
Tak lama, Evan pun menemukan Ayah yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Mata Ayah begitu sembap mulutnya tak berhenti komat-kamit membacakan doa agar Bunda di permudah saat persalinan nanti.
Setelah mata Evan dan Ayah bertemu, mereka pun berpelukan.
"Bunda caesar Nak, doakan agar semua baik-baik saja."
Seketika kaki Evan mendadak lemah, menurutnya operasai caesar tidak menjanjikan keselamatan Bunda. Ya Tuhan, semoga nggak ada kabar buruk nantinya.
***
"Fir, gue nanti tes TOEFL nih! Untuk seleksi olimpiade bahasa inggris dua minggu lagi."
"Amin, semoga lulus ya! Btw lo cabang apa?"
"Tahun ini gue pilih TOEFL Fir."
Fira membelalak mendengar penjelasan Shila, ia menepuk-nepuk bahu Shila memastikan bahwa ia tak salah dengar dengan jawaban Shila.
"Lo bohongkan? Kayak nggak ada cabang lain aja. Mading tiga dimensi, cosplay, scrabble kan ada yang lebih mudah sih?"
"Iya tau, tapi pesertanya udah kebanyakan dan gue telat daftar."
__ADS_1
"Gue ngga yakin l lulus sih, tapi moga aja ya," ejek Fira asal-asal membuat Shila naik pitam dan mencubit sahabatnya itu.
Tetapi, perkataan Fira ada benarnya. Toh! Kenyataannya nilai bahasa inggris Shila tidak terlalu bagus, apalagi banyak siswa yang lebih pintar darinya. Tak apalah mencoba dahulu, jika ini rezeki Shila bagaimana pun ia pasti lulus.
Shila memakan Cheetos yang di bawanya dari rumah, mereka selalu membawa makanan setiap hari Rabu. Karena Fira dan Shila memilih tidak ke kantin pada hari itu. Hari Rabu hari yang istimewa bagi SMA Perdana. Bu Minah penjual siomay ter-enak se antero sekolah mengadakan siomay gratis untuk lima puluh pembeli pertama dengan porsi se harga sepuluh ribu. Seluruh siswa-siswi hingga guru pun ikut mengantri untuk beli siomay ter-enak itu. Karena amal mingguan bu Minah ini, rezekinya terus mengalir hingga membuat keluarga mereka mampun naik haji tahun kemarin. Tukang Siomay Naik Haji ehehe.
Shila bolak-balik mengecek ponselnya menunggu notif dari Evan, tak tahu alasannya yang jelas notif Evan adalah hal yang paling di tunggunya selain jam pelajaran MTK berakhir. Kemarin sore, Evan sempat mengabarinya bahwa ia tak jadi menemani Shila untuk membeli pot bunga sehabis acara di rumah Adit. Bundanya akan menjalankan persalinan. Semoga semesta berpihak kepada Bunda dan calon bayi.
"Shila," panggil Adit yang sedang mengobrol bersama Zerin di depan kelas. Menganggu sekali, Shila tak ingin suasana hatinya hancur sampai tes TOEFL nanti.
"Lo ikut seleksi TOEFL kan? Udah disuruh kumpul tuh! Dari tadi di kelas gue," jelas Adit dengan wajah yang tidak berbohong.
Shila mengerenyutkan dahi. Setahunya, mereka akan tes TOEFL setelah jam sekolah berakhir bukan di jam istirahat.
Shila mengangguk dan langsung pergi ke sana tanpa membawa pensil dan alat tulis lainnya. Shila berjalan menelusuri koridor demi koridor, semua anak tampak santai-santai saja. Si Erik yang paling jago bahasa inggris dan mengikuti seleksi itu, masih sibuk dengan latihan basketnya di lapangan. Ah, mungkin Erik sudah pasti lulus tanpa seleksi.
Shila pun tiba di kelas XI IPA 2, terlihat bangku di samping Adit kosong, sudah jelas bahwa hari ini Evan tidak sekolah. Tetapi, dimana peserta seleksi TOEFL yang kata Adit sudah berkumpul ya? Apa Shila salah masuk kelas? Shila keluar lagi memastikan dan ternyata ia tidak salah kelas.
Shila kebingungan, melongok kesana-kemari tidak ada segerombolan siswa yang berkumpul. Saat Shila menoleh ke belakang, berdirilah Adit dengan wajah tanpa dosanya.
Shila memasang wajah tak terima dan berlalu pergi meninggalkan Adit. Ia kesal sekali, jarak koridor IPA dan IPS juga sangat jauh. Ia muak tentunya, Adit selalu membuatnya marah.
"Jangan marah dong Shil, gue kan cuma bercanda!" pekik Adit. Shila tak menanggapi dan terus berjalan kembali ke kelasnya.
Ia benar-benar kecewa dengan Adit yang selalu seenaknya.
***
Lanjut ke bagian listening, Shila menutup matanya dan memasang telinganya tajam, kata-kata yang membentuk kalimat itu dengan teliti di dengarnya. Tetapi yang terbayang di pandangannya adalah cengengesan Adit yang menyebalkan tadi. Shila memukul kepalanya dan berteriak di dalam hati 'Get out of my head!'
Tes TOEFL pun selesai, semua anak keluar kelas dengan wajah yang damai kecuali Shila. Shila meletakkan kepalanya di atas meja dan tak lama ia menangis. Shila tidak yakin bisa lulus, usahanya tadi jauh dari kata maksimal. Apalagi yang diterima hanya tiga orang dari tiga puluh delapan murid yang tes. Mana mungkin dirinya menjadi salah satu murid yang beruntung lulus.
Shila berjalan keluar ruangan sambil membiarkan air matanya jatuh, tiba-tiba ia mendapati diri Adit yang sedang duduk di atas rak sepatu sambil memainkan ponselnya.
Mata mereka bertemu, Shila pura-pura tidak peduli. Ia harus terlihat marah di depan Adit. Kok bisa sih? Seorang sepintar dan setelaten Shila tampak idiot oleh cinta?
"Kok nangis?" tanya Adit, tetapi Shila tetap diam saja.
Adit menyusuli Shila dan mereka berjalan beriringan menuju parkiran.
"Soalnya susah?" tanya Adit lagi.
Shila tetap tak peduli, keberadannya Adit disini semakin membuatnya merasa sedih.
"Shil, gue nanya loh Shil."
__ADS_1
Shila mendengus dan melihat ke arah Adit seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Nggak usah sok wawancara deh! Nggak usah buat mood gue makin hancur!" teriak Shila tak bisa menahan lagi,
"Minta maaf Shil, seriusan gue tadi nggak ada maksud bu-"
"Buat gue nggak lulus tes hah? Lo tau kan dari dulu gue pingin ikut olim bahasa inggris? Lo tau kan ini kesempatan terakhir bisa ikut?"
"Iya gue tau, gue cuma iseng aja."
"Iseng? Lo bilang iseng? Iseng untuk gagalin impian orang lain?!"
"Iya deh, besok gue adain olimpiade deh, janji."
"Ngga lucu!"
"Minta maaf ya?"
"Janji deh, besok gue sepenuhnya bantu biar impian lo tercapai terus."
"Non sense Dit, gue muak!"
Shila jalan lebih cepat meninggalkan Adit, penjelasan Adit akan terus membuat dirinya semakin kesal.
"Shil, gue minta maaf ya?"
Shila tak menghiraukan, ia memasang helm-nya lalu menghidupan mesin motor.
"Shil, gue tau lo nggak bakal lulus tes TOEFL itu."
Shila menatap tajam Adit, apa maksudnya perkataannya?
"Karena yang pasti lulus itu udah ditentuin kepsek orang-orangnya. Tes seleksi tadi cuma untuk embel-embel aja."
"Gue nggak bohong Shil, seriusan. Lo tau sendiri kan, kantor bukan tempat yang asing lagi bagi gue."
Tatapan Shila menjinak, ia mematikan mesin motornya.
Adit tersenyum senang melihat Shila yang masih kebingungan
"Gue minta maaf ya? Udah sekarang cepat pulang nanti dicari Bunda."
"Besok aja kita bahasnya ya? Atau nanti malam gue telfon lo."
"Nih, a gift special for you, sampe rumah jangan lupa dibuka." Kata Adit lembut dan memasukkan sekotak hadiah ke dalam tas Shila.
__ADS_1
Shila membeku.