
"Kalo gue jadi elo. Gua ngga bakal ngebuang waktu, yang ujung-ujungnya cuman buat gue nyesal." - Evano
We will find the way
To be honest make no mistake
Sometimes I pray
Tell me how to make you stay
And you always going to be the one for me
Though we'll be fine today
Have a drink for the old time
Perfect time to stay
You're my happiness
And you always going to be the one for me
Setajam apapun angin malam yang menggerogoti tubuh Evan, ia takkan kedinginan jika sambil mendengarkan lagu yang selalu menghangatkannya. Fine Today karya Ardhito Pramono. Lagu ini seolah-olah membawanya terbang ke masa lalu saat Mama masih hidup. Kala itu, saat ia masih berusia enam tahun, sesibuk apapun mama, ia akan menyempatkan diri untuk menjemput Evan sepulang sekolah.
"Evan, sampai rumah bantuin mama bersihiin kolam ikan ya," tanya Mama sedang menyetir mobil arah pulang ke rumah.
"Kolam ikan? Pasti air nya bau kan ma?"
"Enggak mau! Evan ngga mau bantuin."
"Mending Evan main sama Farel daripada harus bantuin Mama," jawab Evan polos sambil membayangkan betapa baunya air kolam ikan itu.
Mama tersenyum gemas melihat tingkah putranya.
Senyuman yang paling terang se-dunia. Senyuman yang mampu membuat beban di tubuhnya terbang dibawa angin menuju Ethiopia dan hilang dimakan waktu. Walaupun itu hanya dilihat dari selembar foto yang menguning, senyuman itu masih terlihat abadi. Senyuman milik Mama.
Seketika pikirannya berhenti saat mengingat Farel teman kecilnya yang sampai sekarang tidak ada kabar. Farel pindah rumah ke Malaysia saat usia mereka masih menginjak 9 tahun, tiga tahun setelah Mama meninggal.
Sambil menyelusuri taman komplek yang tak jauh dari rumah, Evan berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannnya ke kantung jaket yang ia kenakan, ia pun kembali menenggelamkan pikirannya pada lagu Fine Today.
There were times when it rains
Just the thing, kept me sane
It's too much for a little time of fame
But you saved the day
Cause you saved the day
__ADS_1
***
"Apa guna hidup Icha sama Nadin? Masa aku terus sih yang bersiin gudang."
"Ahh nyusahin aja sih!" berang Shila saat mengingat ia dimarahi oleh Bundanya barusan. Karena itu ia memilih keluar rumah untuk meredakan emosinya. Shila menyandarkan punggungnya di bangku taman dan melipat kedua tangannya.
"Hei," sapa seseorang dari sisi kirinya. Shila yang merasa dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara.
Ia mendelik, saat menyadari orang yang menyapanya itu adalah Evano. Dengan santai Shila memperbaiki duduknya dan berusaha tetap terlihat biasa saja. Ia berusaha tidak mengingat-ingat kejadian saat mendapatkan WhattsApp message dari Evan tempo lalu.
"Hai, Evan."
"Temennya Adit kan?" tanya Evan sakral.
Shila tertohok mendengar nama 'Adit' berani-beraninya ia menyebut nama anak itu disaat suasana hatinya sedang tidak enak begini. Shila menjawabnya dengan anggukan.
Tanpa izin, Evan duduk tepat disamping Shila yang kira-kira berjarak satu meter.
Sayangnya Evan tidak memulai percakapan lagi, akhirnya mereka tenggelam di pikiran masing-masing. Hening.
"Yaudah, gue balik dulu," dengan tidak masuk akalnya Evan izin untuk berpamitan, lalu apa gunanya ia duduk disamping Shila? Kok ada ya manusia aneh kayak dia?
Shila mendeham agar Evan tidak pergi dulu.
"Eh, sebentar gue mau nanya."
"Hum?"
Evan mengerenyutkan dahi.
"Pesan yang lo kirim ke gue via WA tempo hari."
"Pesan? Via WA?" mendengar pertanyaan Evan begitu membuat Shila semakin canggung, takut jika itu bukanlah Evan.
Shila buru-buru memeriksa ponselnya dan melihat pesan itu lagi.
"Pesan ini," tunjuk Shila ke wajah Evan yang sedang berdiri, Evan membungkukkan badannya.
"Gue ngga pernah kirim pesan itu ke elo."
"Terus ini bukan nomor lo?"
Evan tak menjawab apa-apa, ia langsung memeriksa WhattsApp-nya.
"Gue tau ini ulah siapa, itu bukan gue."
"Hah? Gimana?"
Evan kembali duduk di bangku, dan menghela napas. Matanya tak sekali pun berani melihat wajah Shila se-intens ini.
__ADS_1
"Adit iseng, tempo lalu dia ngerampas ponsel gue dan mungkin dia kirim pesan itu ke elo," untuk pertama kalinya Shila mendengar seorang Evano Calley berbicara lebih dari lima kata.
Mereka kembali hening, Evan merasa malu jika harus memulai obrolan, Evan menunggu jawaban Shila lebih daripada 'Ohhhh' saja. Tetapi Shila tak melontarkan satu kata pun.
"Terus lo ngapain malam-malam di taman?" Evan mengalah, sudah hukum alam cowok harus terbiasa untuk 'mulai duluan'.
"Hum, gue abis adu mulut dengan Bunda tadi di rumah," jelas Shila yang sebenarnya emang butuh seorang pendengar.
Evan terdiam, pandangannya kosong ke depan.
"Mending lo pulang aja."
Shila mendelik mendengar ucapan Evan barusan, terdengar seperti mengusir dirinya.
"Kalo gue jadi elo. Gua ngga bakal ngebuang waktu, yang ujung-ujungnya cuman buat gue nyesal."
***
"Undur, undur terus sampe nggak jadi ni acara!" Adit mengomel-ngomel karena proposal yang sudah mereka revisi kemarin masih tidak bisa diterima oleh sekolah, ia takut event 'besarnya' itu tidak sempat diselenggarakan berhubunga sekitar tiga minggu lagi mereka UAS.
Mana sempat, keburu telat!
"Kalo di paksain juga, nggak bakal bisa Dit. Nggak lama lagi kita UAS,"saran Hani sang bendahara OSIS.
"Gini aja deh Dit, mending kita fokusin dulu sama pensi, gue yakin pas classmeeting sekolah ngadain pensi," Firman sang wakil ketua OSIS mengangkat opininya.
"Tahun lalu nggak ada pensi karena kelas sepuluh ngadain fieldtrip mendadak. Nggak ada yang bisa janjiin tahun ini sekolah ngadain pensi lagi, " bantah Adit.
"Gini aja deh, entar gue datengin pak Irham buat nanyain tahun ini ada pensi pas classmeeting atau enggak. Oke?" Shila akhirnya membuka suara melihat diskusi mereka tak ada ujungnya.
"Yap, itu jalan satu-satunya. Ntar lo pergi nemuin pak Irham bareng gue ya Shil. Ada yang harus gue omongin juga dengan pak Irham," kata Adit mengakhiri diskusi mereka.
"Nggak usah Dit, gue istirahat kedua nemuin pak Irham- nya," tolak Shila, ia masih kesal melihat Adit sok nyomblangin dirinya dengan Evan. Rasa cemburu menguasai Shila, bagaimana mungkin orang yang Shila suka nyatanya menyomblangkan dirinya dengan orang lain.
"Yaudah, barengan aja nanti pas istirahat kedua," kata Adit sedikit keheranan menyadari tingkah Shila.
"Yaudah ntar lo aja Han yang nemenin Adit untuk nemuin pak Irham."
"Kalian sekelas juga kan? Biar urusannya semakin cepet selesai."
"Gue balik ke kelas dulu. Kelas IPS jauh soalnya."
Shila pun dengan sigap menyusun berkas-berkas OSIS yang selalu dibawanya ketika rapat. Setelah berpamitan dengan mereka, ia pun pergi meninggalkan ruang OSIS yang letaknya bersebelahan dengan koridor kelas XI IPA dan jauh dari kelasnya, XI IPS. Dari tim inti OSIS, hanya Shila sendiri yang anak IPS.
Adit,Firman dan Hani anak IPA dan mereka bertiga sekelas.
Tentu saja sikap Shila yang tidak seperti biasanya itu membuat Adit bertanya-tanya.
"Jangan-jangan Evan ngasi tau Shila lagi, kalo pesan WA itu ulah gue."
__ADS_1
*****