
"Oya, cewe lo yang mana? anak XI IPS 2?" -Evano
Setahun berlalu dengan status anak SMA dipundak Evan. Ia sering menghabiskan waktu untuk bersenang-bersenang dan mulai mengizinkan orang-asing untuk masuk ke dunianya. Secara tak langsung, sifat Evan yang dingin itu, mulai terkikis karena munculnya warna-warna baru. Evan begitu akrab dengan Adit sejak pembicaraan mereka di kala itu. Adit juga banyak mengenalkan Evan ke teman-temannya dan ia diterima dengan baik. Adit seorang teman yang periang. sering menularkan energi positifnya ke banyak orang, tak ada alasan lain lagi jika Adit terpilih menjadi ketua OSIS di SMA Perdana.
"Berapa putaran?"
"Sepuluh, kuat?"
"Nggak nambah?" tantang Evan.
"Dua puluh!" Adit berlari kencang bak angin tornado mendahului Evan. Lari di pagi Minggu adalah rutinitas mereka yang tidak boleh diganggu oleh kegiatan apapun. Bisa saja mereka menghadiri Car Free Day di yang diselenggarakan di tengah kota. Hanya saja CFD terlalu ramai sehingga mereka tidak bebas untuk melakukan hal yang diinginkan.
***
"Evan, Bunda minta tolong boleh?" Evan telah terbiasa memanggil Tante Dian dengan sebutan 'Bunda' dan Om Nug dengan sebutan 'Ayah'.
"Boleh Bun."
"Tolong belikan susu bubuk untuk Naura di minimarket yang ada depan bisa? Soalnya stok susu Naura udah habis."
"Bawa Naura boleh ya Bun, sekalian jalan-jalan sore."
"Huaa, Mas baik dehh!" Sorak sorai gadis kecil itu lalu berlari mengejar Evan yang sedang mengeluarkan motor dari garasi.
Sebenarnya di depan komplek tempat tinggalnya ada minimarket langganan Bunda. Karena Evan juga merasa bosan di rumah, ia memilih minimarket yang lumayan jauh sekalian jalan-jalan sore.
Suasana kota sore ini, hangat seperti biasanya. Kendaraan empat dan dua tak henti-hentinya memenuhi jalanan raya, Evan pun sampai di depan minimarket dan memarkirkan motornya.
"Kamu boleh jajan, tapi jangan banyak-banyak ya."
"Siap Mas Evan," gadis kecil itu berlari lebih dulu memasuki minimarket. Evan pun menyusuli langkah kecilnya, tetapi anak itu sudah hilang di antara rak-rak yang ada di minimarket. Ia pun memilih untuk mencari titipan Bunda dulu.
"Hum? Naura suka yang coklat atau vanila ya?" Tanya Evan kepada diri sendiri. Ia pun mulai celingak-celinguk mencari Naura di setiap sudut minimarket untuk menanyakan rasa susu kesukaan Naura.
Evan mulai cemas sudah hampir setiap sudut minimarket ia cari, Naura belum kelihatan juga.
"Naura," panggil Evan lega saat melihat anak itu sedang digendong oleh seorang gadis yang tidak di kenalinya.
__ADS_1
"Eh? adik kamu ya?" tanya gadis itu, Evan melihatnya sebentar dan tak menjawab pertanyaannya.
"Maaf, tadi adik kamu mau ambil jajan yang itu. Karena ketinggian, jadinya aku ambilin deh," jelas perempuaan itu agak gugup. Evan membalasnya dengan senyuman simpul.
"Kamu mau beli ini Ra?" tanya Evan menunjuk jajanan yang di genggam Naura
"Iya , boleh kan Mas?"
"Boleh kok, satu lagi mau apa?" tanpa berpamitan dengan gadis itu, Evan menggenggam tangan kecil Naura dan mengajaknya pergi.
"Rara, mau kesana!" tunjuknya ke arah es krim.
"Eh tunggu, kayaknya kita pernah ketemu ya sebelumnya," sergah gadis itu tiba-tiba. Evan mendelik bingung ingin menjawab apa, karena ia sendiri tidak kenal dengan gadis itu.
"Kita satu sekolah ya?"
"Mungkin," jawab Evan sambil mengangkat kedua bahunya.
***
"Van, temenin gue ke kantor yuk!" ajak Adit saat bel istirahat sudah berbunyi.
"Gue dipanggil pak Irham, mau bahas rancangan acara OSIS di bulan besok."
"Mager."
"Dih! Sok imut lo!" Evan tetap memainkan ponselnya, membiarkan Adit yang sudah berdiri dengan beberapa map yang dipegangnya.
"Oke, nggak akan ada futsal besok malam," ancam Adit kesal dan pergi meninggalkan Evan.
Mau tak mau, Evan berjalan gontai mengikuti Adit.
***
"Nggak bisa gini Dit, latar belakang proposalnya masih kurang, seharusnya dicantumkan salah satu dari target sekolah kita."
"Tapi Pak, latar belakang acara ini nggak ada yang sejalan dengan target sekolah."
__ADS_1
"Yakin kamu nggak ada? Tiga belas loh target sekolah kita."
"Pokoknya jika acara ini ingin terlaksana sesuai kemauan OSIS, proposalnya nggak boleh ngasal."
"Intinya salah satu target sekolah harus dicantumkan Dit."
"Mohon di revisi ulang," Adit menerima map yang diberikan Pak Irham lalu bersalaman dan berpamitan dengan beliau. Kelihatan sekali dari wajahnya, Adit keberatan dengan keputusan Pak Irham.
"Kemana lagi man?" tanya Evan, Adit tetap diam tak menghiraukan pertanyaannya.
Mereka tidak menuju kelas, juga tidak menuju kantin apalagi toilet. Adit berjalan ke koridor bagian kanan sekolah yang jarang sekali Evan kunjungi sebelumnya. Ingin sekali Evan bertanya kepada Adit, tapi ia yakin suasana hati Adit sedang tidak enak. Setelah sampai di depan salah satu kelas, Adit minta tolong kepada seorang murid dari kelas itu untuk memanggil seseorang yang namanya tidak terlalu kedengaran oleh Evan.
Evan mengalihkan pandangannya ke lapangan, membiarkan Adit menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang sedang ditemuinya.
"Hah? Ulang?" Pekik Shila.
"Kok bisa sih? Apalagi yang harus di revisi?" mendengar suara itu, mengingatkan Evan dengan seorang gadis yang pernah ditemuinya di minimarket.
"Ternyata benar. Kami satu sekolah," bisik Evan dalam hati
"Nanti gue bantuin buat ini, daripada acaranya nggak jadi, sayangkan?"
"Pokoknya lo harus bantuin gue, bengek lama-lama."
"Iya, iya," jawab Adit lesu.
Setelah sampai di kelas, raut wajah Adit masih sama, ia tak berhenti membaca kertas-kertas yang ada di mejanya. Ada pertanyaan yang sedang menghantui diri Evan, mungkin nggak masalah bertanya kepada Adit sekarang.
"Tadi sekretaris OSIS ya?"
"Kenapa?"
"Gue pernah nggak sengaja ketemu dia di minimarket."
Adit mengangguk-angguk.
"Oya, cewe lo yang mana? Anak XI IPS 2?"
__ADS_1
"Iya."