
"Maafkan Papa karena gagal menjadi orangtua yang baik untukmu," - Papa
"Bagaimana keadaanmu nak?"
Isi pesan dari Papa begitu, Evan tidak berkeinginan untuk menjawabnya.
Walaupun sikapnya yang dingin itu perlahan mulai terkikis, kebenciannya terhadap Papa masih tertanam seperti sedia kala. Keluarga Bunda Dian memperlakukan Evan bak anak kandungnya, perhatian mereka terhadap Evan dibagi rata antara Evan, Naura dan calon bayi. Karena Bunda dikabari sedang mengandung yang sudah berumur tiga bulanan.
Sederhana bukan? namun itulah yang mengisi kekosongan dalam diri Evan.
"Evan ikut nggak? ke Dokter untuk mengecek kehamilan bunda?"
"Nggak usah Yah, Evan dirumah aja."
"Baiklah, kalau begitu Naura nggak usah ikut. Dia masih tidur kasihan kalau dibangunin."
"Iya Yah, Naura biar sama Evan aja."
Setelah Bunda dan Ayah pergi, Evan mengambil beberapa makanan ringan di dalam kulkas dan segera menuju ruang TV dan bersantai disana. Sayangnya, tak ada siaran TV yang menghiburnya, siaran berita yang selalu mengabari permasalahan itu-itu saja. Tentang seorang politikus yang tiba-tiba ketahuan berkorupsi atau seorang nenek tua dihukum setahun penjara karena mencuri kayu, membosankan sekali.
"Mas Evan," panggil Naura saat keluar dari kamar dengan muka bantalnya
"Naura?"
"Rara takut."
"Kok takut?"
Naura berjalan mendekati Evan dan memeluk lututnya.
"Tadi Rara mimpi buruk, pokoknya Rara takut."
"Sini sama Mas yuk, nggak papa kan cuman mimpi," bujuknya dan membopong Naura ke pangkuannya
"Naura lupa baca doa ya?"
"Hum iya, tadi Rara ketiduran jadi nggak sempet doa."
Mendengar jawaban Naura yang ada benarnya, Evan tertawa renyah sambil mengelus-elus kepala gadis kecil itu.
"Rara boleh nggak pinjem HP bang Evan?"
"Boleh, tapi HP-nya di kamar. Kita ambil dulu ya."
Ketika layar ponselnya dihidupkan, Evan keheranan melihat notifikasi yang tiba-tiba membanjiri ponselnya.
__ADS_1
'8 missed calls'
'5 Whattsapp Messages'
Evan yakin pasti ada hal yang mendesak terjadi, ia pun melepas Naura dari bopongannya dan segera memeriksa notifikasi itu satu per satu.
From : +62823****
P
P
P
Evan! Angkat telpon gue!
Adit masuk rumah sakit!
***
Adit terserang tifus sejak kemarin sore, kepanikannya karena proposal agenda OSIS yang di tolak itu, membuatnya tidak mengenal waktu untuk merevisinya. belum lagi kelas tambahan, latihan futsal membuat Adit kekurangan istirahat dan jatuh sakit.
"Kapan masuk sekolah?"
"Makin lama sakit, makin nggak selesai tuh proposal."
"Shit!"
"Gue kangen Zerin," kata Adit tiba-tiba membuat Evan berhenti memainkan ponselnya.
"Dia tau lo sakitkan?"
"Humm, dia sibuk jadi belum gue kasi tau, nanti aja."
Evan mengangguk-ngangguk sambil melihatnya yang sedang menatap dinding rumah sakit yang berwarna putih. Mereka berdua tenggelam di pikiran masing-masing.
"Zerin ngga kesini?" tanya Evan mencoba menarik perhatian Adit.
"Kan belum gue kasi tau, ****!"
"Eh lupa," jawab Evan cengengesan.
Setelah lama bertukar cerita, menyadari waktu yang hampir gelap, Evan pun memutuskan untuk berpamitan dengan Adit.
"Gue pulang dulu ya Dit," ucap Evan berpamitan.
__ADS_1
"Baik-baik lo ya, jangan lupa minum obat."
"Get well soon."
Evan pun meletak di atas meja buah-buahan dari Bunda untuk Adit yang ia bawa dari rumah. Saat Evan ingin beranjak pergi, Adit memanggilnya.
"Gue minta tolong kasih map ini ke sektos ya," katanya lalu memberikan Evan map berwarna marun.
Entah rasa aneh apa yang membuat Evan tiba-tiba tak siap bertemu dengan gadis itu lagi, Kenapa nggak siap? Kan belum ada cerita apa-apa.
***
Setelah selesai upacara Senin, semua anak berhamburan ke kelas mereka masing-masing. Evan membuka topi upacaranya dan mengipas-ngipaskannya ke arah wajahnya.
"Evan, disuruh Bu Milda ke kantor," kata Wildan, teman sekelasnya saat memasuki kelas.
Evan mengangguk. Apa ia ada melakukan kesalahan? Rasanya seluruh perlengkapannya upacara lengkap, lalu mengapa Bu Milda mencarinya?
Saat sampai di depan kantor, Evan terkejut melihat Papa yang sedang berbincang-bincang dengan Bu Milda.
Bu Milda menyadari kedatangan Evan lalu mempersilahkannya untuk masuk ke bilik tamu yang ada di dalam kantor.
"Ada apa kemari?" tanya Evan dingin. Papa pun mengode kepada Bu Mida untuk meninggalkan mereka berdua.
"Kita udah tujuh bulan nggak ketemu. Nggak salah kan, jika Papa mencarimu."
"Akhir pekan ini Papa libur, kamu mau nggak pulang ke rumah kita?"
"Untuk apa? Kan Papa udah mengirimku kesini."
"Dua hari saja Nak, seenggaknya kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama.
Evan terdiam.
Papa menepuk-nepuk pundak Evan lalu memeluk anak satu-satunya yang sangat rindukan itu.
"Maafkan Papa karena gagal menjadi orangtua yang baik untukmu," bisik Papa lirih membuat Evan merasa bersalah karena selalu bersikap dingin kepadanya. Ketika mengingat-ingat hari itu, sebetulnya Papa tidak seratus persen salah. Jika sudah jalan Tuhan demikian, bagaimana pun kita harus menerimanya bukan?
"Nggak bisa Pa, aku ada janji dengan teman-temanku untuk menghabiskan waktu bersama akhir pekan ini.
Papa tersenyum bangga mengetahui Evan yang mulai memiliki banyak teman, betapa banyaknya perubahan di diri anak itu. Semoga lukanya hilang dimakan oleh waktu.
"Yasudah, Papa juga senang tau kamu punya banyak teman sekarang."
Evan tersenyum. Apakah mereka menyadari percakapan hangat di antara mereka? Persis ketika Evan menjadi Evan yang sebenarnya.
__ADS_1