
"Apa diam-diam mereka lebih deket dari yang gue liat?"-Evano
"Terus gimana responnya pas tau kalo itu gue yang iseng?"
"Dia diam aja sih, gue juga diam."
"Terus?" serbu Adit lagi yang masih tak puas mendengar jawaban dari Evan.
"Gue bilang, kita diam. Nggak ada bahas pesan itu lagi," geram Evan.
Adit pun terdiam mendengar perkataan Evan, ia membuang pandangannya ke arah lain.
Sejujurnya, Evan bingung mengapa Adit terlalu mengkhawatirkan Shila. Toh! Adit sudah memiliki pacar, untuk apa mengkhawatirkan gadis lain. Pikiran buruknya muncul karena ada ketidakterimaan melihat Adit perduli dengan Shila.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo khawatir kalo Shila marah?" tanya Evan to the point.
"Gue? Khawatir? enggak lah. Gue kepo doang Van,"
"Shila kalo marah warna, ngeri banget. Galak orangnya."
"Ntar urusan OSIS nggak kelar-kelar kalo dia marah," jawab Adit memberi penjelasan lagi.
Obrolan mereka pun terhenti saat Pak Ade, guru fisika mereka memasuki kelas. Pelajaran yang mudah bagi seseorang yang memiliki IQ tinggi, pelajaran yang paling dibenci Evan. Obrolan singkatnya dengan Shila malam itu berhasil memenuhi isi kepalanya.
"Kenapa gue mikirin dia mulu sih?"
"Gue curiga, kalo ternyata Adit dan Shila ada hubungan lebih dari teman."
"Apa mereka sahabatan ya? Atau mereka satu geng?"
"Tapi selama ini, gue ngga pernah nemuin Adit dan Shila hangout bareng."
"Apa diam-diam mereka lebih deket dari yang gue liat?"
"Woi! Bengong mulu. Mikirin apa lo?" Adit menyenggol bahu Evan yang sontak membuatnya kaget.
Evan menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal.
"Udah sampe mana pak Ade jelasin?" menghindari pertanyaan dari Adit tadi.
"Sampe gen dan keturunan sifat," dengan polosnya Evan menggangguk dan membuka buku fisikanya.
Adit menutup mulutnya dengan dasi dan menahan tawanya yang hampir meledak.
"Aditya!" panggil pak Ade dengan suara lantang membuat semua murid melihat ke arah Adit.
"Kenapa kamu cekikian sendiri? Ada yang lucu dari pelajaran saya?" tanya pak Ade dengan pertanyaan sakralnya.
Adit termangu mendengar pertanyaan Pak Ade, ia mencoba mencari alasan agar lolos dari serangan Pak Ade itu.
Tok Tok Tok
Seseorang siswi mengetuk pintu kelas XI IPA 2. Semua murid termasuk Pak Ade melihat ke arah sumber suara.
"Permisi Pak, bisakah saya menemui Evano?"
Mendengar namanya disebut dari sebelah pintu, Evan celingak-celinguk ingin tahu siapa yang mencarinya.
"Suara Shila itu, kenapa dia bisa nyariin lo?" lontar Adit yang sudah hafal betul dengan suara Shila.
Evan mendelik ketika mendengar ucapan Adit, ia sendiri juga tak tahu mengapa.
" Evano, ada yang mencari," kata Pak Ade dan mengizinkan Evan untuk bertemu dengan siswi yang mencarinya itu.
__ADS_1
Terlihatlah Shila berdiri disana yang sedang menyandarkan tubuhnya di tiang. Saat Shila mengetahui Evan sudah berada di depan pintu, Shila tersenyum sumringah.
"Iya?" tanya Evan dingin.
"Gue boleh pinjam sesuatu nggak?" tanya Shila dengat muka sedikit memelas.
"Apa?"
"Lo bawa buku paket Seni Budaya? Setelah jam ini gue ada kelas Seni Budaya."
"Dan gue lupa bawa buku," sambungnya. Evan terdiam sebentar mengingat kembali apakah hari ini ia ada pelajaran Seni Budaya.
"Ada, sebentar gue ambil."
Tak lama Evan pun datang dengan buku Seni Budaya bersampul cokelat yang dipegangnya.
"Jauh juga lo minjem buku."
"Gue alasannya izin ke ruang OSIS, padahal gue nyari buku ini."
"Pinjam ya!"
Shila pun berlalu. Terbentuk bulan sabit di wajah Evan, ia bahagia akhirnya bisa dekat dengan gadis itu. Gadis periang yang ia temui di minimarket. Ah, seribu terima kasih pun nggak cukup karena minimarket sudah menjadi tempat awal mereka bertemu.
***
Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua anak bergegas memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas. Ada yang memeriksa notifakasinya dulu, ada yang menghabiskan sisa makanannya di bawah meja dan ada juga yang dari sebelum pelajaran habis tadi sudah memasukkan buku serentak keluar kelas.
Evan dan Adit masuk tipe yang kedua, yaitu memeriksa notifikasi ponsel merek dahulu.
"Adit, lo udah nemuin Pak Irham?" tanya Hani tiba-tiba dan mendekati meja Adit
"Ya ampun lupa gue," Adit menepuk-nepuk jidatnya.
Dengan cepat ia mengantongkan ponselnya di saku celana dan buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Van, gue ke kantor dulu ya, kalo mau pulang duluan aja ." Pamit Adit buru-buru.
Evan pun menyusun barangnya ke dalam tas untuk bersiap-siap pulang.
"Evan! Tunggu!" Shila mempercepat langkahnya ke arah Evan dengan buku Seni Budaya yang di pegangnya.
"Makasih ya bukunya," Shila mengembalikan buku itu kepada pemiliknya.
"Percuma gue nyari ke koridor sebelah, eh pas belajar cuman dikasih kisi-kisi untuk UAS." Keluh Shila dengan mimik wajahnya yang masih kesal mengingat itu.
"Ya, namanya juga Seni Budaya."
Evan mengangguk.
"Oh iya, gue mau nanya." Kali ini Shila tidak terlalu canggung di hadapan Evan.
Sedangkan Evan, masih sepeti rasa yang sama saat pertama kali bertemu dengan Shila.
"Apa?"
"Lo bule darimana?"
"Maksud gue, lo blasteran apa?" tanya Shila memperjelas sambil mengenakan helm bogo abu-abunya.
"Papa gue dari Irlandia."
Shila menutup mulutnya, ia terlonjak kaget.
__ADS_1
"Irlandia? Sumpah lo!"
Evan mengerenyutkan dahi.
"Lo kenal pernah ketemu Niall horan nggak? Dia asal Irlandia juga," pekik Shila antusias.
"Nggak pernah sih, dia dari Mullingar kan, gue dari Limerick."
"HAH? LO TAU NIALL DARI MULLINGAR?" kali ini Shila benar-benar tak bisa menahan antusiasnya saat mengetahui Evan adalah blasteran Irlandia-Indonesia. Tempat lahir idolanya, Niall Horan, anggota boyband dari One Direction itu.
Lagi-lagi Evan mejawabnya dengan anggukan.
"Ih gue seneng kalo lo berasal dari Irlandi. Gimana sih rasanya disana?" Evan bingung menjawab apa, karena baginya tak ada beda antara Irlandia dan Indonesia.
"Ngapain nih berdua-berdua," dengan wajah tanpa dosa, Adit menyelonong menyenggol bahu Evan, raut wajah Shila berubah menjadi murung saat Adit menganggu obrolan seru mereka.
Tak ada jawaban.
"Oh iya Shil, for your information nih! Ternyata tahun ini sekolah kita ngadain pensi, jadi kita urusin pensi dulu deh. Kayak yang udah pernah kita omongin sebelumnya," Adit mulai memainkan perannya.
"Yaudah. Atur aja rapat dengan OSIS kapan, adik kelas kapan dan paling penting yang nggak ganggu waktu buat persiapan UAS."
"Gue duluan ya, takut macet," Pamit Shila tiba-tiba. Sikap Shila semakin membuat Adit merasa bersalah, sebegitu marahnya ia kepada Adit?
***
Seperti malam-malam sebelumnya, Evan, Rara, Bunda dan Ayah selalu makan malam bersama. Tetapi ada yang berbeda dari hari ini, Bunda dan Ayah mengadakan 'Baby Shower' acara syukuran dalam rangka menyambut kandungan Bunda yang sudah menginjak usia sembilan bulan.
"Adik Rara, cewek ato cowok Bun?" tanya Naura dengan polos.
"Hum, coba tebak dulu deh," ucap Ayah jahil.
"Cewek kan Bun? Rara nggak mau punya Adit cowok nanti, nanti adiknya nakal." Keluh Naura lalu melipat kedua tangan mungilnya di depan dada.
"Gimana Yah? Bun? Cewe atau cowo?" tanya Evan yang ikutan penasaran.
Bunda dan Ayah nyengir kuda, melihat kedua anaknya sedang dilanda kebingunan.
"Sebenarnya, Bunda sama Ayah juga belum tau bayinya cewek atau cowo," jelas Bunda akhirnya.
"Sengaja biar agak suprise gitu," sambung Ayah.
"Yuk dimakan yuk! sebagai syukuran dengan Bunda dan bayi juga, alhamdulillah nggak ada masalah sampe sekarang," Melihat raut wajah Ayah dengan senyum lebarnya, pasti ia tak sabar menunggu anggota baru di keluarga kecilnya.
"Nanti Bang Evan bantuin Bunda ya, kasih tumpeng itu ke tetangga sebelah," ucap Bunda sambil memotong-motong sepiring bolu brownies.
"Siap Bun."
Setelah acara syukuran mereka usai, Evan kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk tidur. Sebelum itu, ia pun menyempatkan diri untuk membereskan meja belajarnya yang masih berantakan. Tiba-tiba mata Evan tertuju dengan kalender diatas meja belajar.
"Dua minggu lagi UAS, duh! Pertama kali nih gue ngerasain UAS," keluhnya saat menyadari bahwa Ujian Akhir Semester hanya tinggal di hitung hari. Evan bingung bagaimana persiapan yang tepat untuk menghadapi UAS ini, apakah ia harus ngambis agar nilai dia tidak anjlok? Di hati kecilnya, Evan tak ingin Papa kecewa dengan nilainya yang selalu mengecewakan.
Drttt Drrttt Drtttt
Layar ponselnya mengerjap dan menampilkan sebuah notifikasi masuk.
*Via WhatsApp*
Dari : Shila XI IPS 2
'Pokoknya, lo harus ceritain gimana rasanya di Irlandia!'
Evan tersenyum sumringah membaca ini, ia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa yang aneh tetapi menyenangkan.
__ADS_1