Half A Heart

Half A Heart
Chapter 13


__ADS_3

"Kalo ada sesuatu yang bisa buat gue balik ke masa lalu dan ngga balik-balik lagi, gue bersedia untuk hilang dan berada di masa itu."-Evano


"Bangun Van, tidur dikasur aja sana," Adit membangunkan Evan yang tertidur di atas sofa ruang tamu rumahnya. Karena permasalahan kemaren Evan melarikan diri ke rumah Adit dan menceritakan seluruh permasalahannya kepadanya. Diam-diam Adit tetap memberitahu Bunda Dian jika Evan kabur ke rumahnya, Adit takut keluarga Evan mencemaskan keadaannya.


"Jam berapa ini?" tanya Evan serak sambil mengusap-usap matanya.


"Setengah sepuluh malam Van, lama juga lo tidur."


"Lo lapar ngga? Makan dulu sana, Mama juga udah masak tuh," Adit kasihan sekali dengan keadaan Evan yang sangat terpukul itu. Jika Adit berada di kondisi Evan saat ini, mungkin Adit sudah melakukan hal yang tidak-tidak.


"Gue ngga selera Dit, mau tidur lagi aja."


Adit menarik napasnya panjang, ia takut keadaan Evan semakin tidak membaik, wajahnya terlihat kusut sekali seperti tak ada kemauan untuk hidup lagi. Padahal baru kemarin Adit melihat Evan tersenyum lebar saat kelas mereka resmi mendapatkan juara satu dalam tandingan futsal.


***


Tiga hari berlalu, Adit tidak ada keluar dari kamarnya, ia sedikit bicara dan selalu termenung atau tidur. Evan juga sengaja mematikan ponselnya, padahal Bunda dan Ayah sudah seribu kali menelepon dan mengiriminya pesan. Shila yang mengetahui keadaan Evan seperti itu, membuatnya hampir setiap hari menanyakan keadaan Evan melalui Adit. Adit sudah menceritakan semua permasalahan Evan kepada Shila.


*Via Telepon*


"Shil, lo ada rencana nggak untuk menghibur Evan? Gue kasian banget liat dia nih."


"Bawa jalan aja gimana? Nge-mall atau ke pantai?"


"Ngemall dia nggaK mau Shil, udah gue tawarin."


"Gue ada ide sih, tapi ga yakin kalo dia beneran mau."


"Kemana?"


"Mending lo ke rumah gue dulu Shil, kita bahas disini."


"Gapapa? Cewe lo gimana?"


"Dia lagi liburan di kampungnya, nggak ada jaringan juga di sana."


"Yaudah, otw."


Adit memutuskan teleponnya dan kembali melihat keadaan Evan yang masih merenung di dalam kamar.


"Van, gue ajak Shila mau jalan-jalan, lo ikut nggak?"


Evan mendeham dan melihat Adit.


"Lo ud h punya pacar kan Dit, kenapa masih jalan dengan cewek lain?"

__ADS_1


Adit menarik napasnya, ia mengerti bahwa suasana hati sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Perkataan Evan ada benarnya, tapi ini semua dilakukannya hanya untuk menghibur Evan.


"Zerin lagi di kampungnya Van, lagipula gue udah izin kok," alasan Adit yang tentu saja berbohong.


"Gue mau jalan dengan Shila aja."


Adit mendelik dan tersenyum miring.


***


Evan juga tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin menemui dan menghabiskan waktu bersama Shila saja. Ia masih ragu untuk jatuh cinta, karena setelah mencintai pasti ada rasa kehilangan selanjutnya, Evan tak sanggup lagi untuk merasakan kehilangan.


Akhirnya Evan dan Shila pergi menggunakan taksi, Evan mengajak Shila untuk ke toko buku dahulu, Shila mengiyakan kemauan Evan. Karena ia ada disini untuk menghibur Evan yang malang itu.


"Nanti kabarin gue kalo udah ketemu buku yang lo mau ya," kata Shila saat mereka berdua baru saja memasuki toko buku. Evan mengangguk dan berlalu pergi.


Saat Shila sedang berdiri diantara rak yang memajangkan novel-novel fiksi, seseorang meneleponnya.


"Lo dimana? Nggak kenapa-napa kan?" serbu Adit yang mengkhawatirkan keadaan Shila. Aneh kan? Namanya juga Adit, suka melakukan hal seenaknya.


"Ya nggak papalah! Eman lo kira Evan mau nyulik gue?"


"Lo ga pacaran dengan Evan kan?"


"Engga, kita cuman temenan."


"Kok lo protektif banget sih? Tumben."


"Gue ngga mau kehilangan sekre gue, ntar nggak ada lagi yang bisa nyelesein laporan pertanggung jawaban OSIS."


"Ewh!"


Shila tersenyum miring, ia tak suka jia Adit selalu menyangut pautkan dirinya dengan OSIS, seharusnya dari dulu Shila sadar diri jika Adit menempatkan Shila di posisi prioritas karena 'urusan OSIS'.


Shila pun kembali mencari novel yang tertarik untuk dibeli.


"Udah?" tanya Evan saat Shila sedang membayar novel-novelnya di meja kasir.


Shila menggangguk dan memberikan senyuman.


"Gue bakal ngajak lo ke suatu tempat."


***


Shila mendelik ketika Evan membawanya ke sebuah toko mainan anak-anak. Untuk apa Evan kemari? Namun Shila memilih untuk mengikuti kemauan Evan saja. Mereka pun akhirnya memasuki toko yang berwarna-warni itu.

__ADS_1


"Pilih mainan yang mau lo beli, terus kita ke tempat lain lagi."


"Dasar anak aneh!"


Shila mengangguk mengiyakan.


Setelah mereka membeli mainan yang dipilih dan membayarnya di kasir, Evan pun menelepon taksi lagi dan membawa Shila ke suatu tempat.


Evan membawa Shila ke kafe yang letaknya tak jauh dari toko mainan tadi. Mereka duduk di bangku kafe paling depan dan langsung memesan minum.


"Lo nggak curigakan gue bawa lo ke tempat yang ngga masuk akal?" tanya Evan melihat gadis di depannya yang kelihatan anteng-anteng saja.


"Nggak kok, gue seneng lo bawa lo ke tempat yang ga pernah gue bayangin sebelumnya," jawab Shila jujur. Walaupun di awal tadi ia merasa sedikit kesal.


Setelah pesanan mereka datang, keduanya saling diam dan tenggelam di i isi kepala masing-masing. Pandangan Evan tidak terlalu kelabu seperti sebelum mereka jalan-jalan tadi. Mungkin ia sudah sedikit terhibur dengan rute aneh yang dibuatnya.


"Perjalanan tadi, kala terakhirnya gue ngabisin waktu dengan almarhumah Mama."


Shila mendelik mendengar kejujuran Evan barusan. Ia iba mengerti bagaimana rasanya diposis Evan.


"Toko buku, toko mainan dan kafe ini."


"Kalo ada sesuatu yang bisa buat gue balik ke masa lalu dan ngga balik-balik lagi, gue bersedia untuk hilang dan berada di masa itu."


Badan Shila merinding mendengar curahan hati Evan barusan, melihat keadaan keluarga Shila yang masih lengkap dan selalu harmonis, membuat Shila harus lebih bersyukur lagi selanjutnya.


"Mama pergi pas gue berumur enam tahun, Mama kecelakaan besar ketika menjemput Papa untuk mencicipi masakan yang sudah dihidanginya untuk Papa."


"Cuman untuk makan malam Shil, sebegitunya Mama menganggap kehadiran Papa itu penting."


"Papa yang brengsek itu, dengan bodohnya menghabiskan waktu di sebuah club malam. Menenangkan diri disana karena masalah dari perusahaannya yang begitu banyak saat itu."


"Karena itu gue belum bisa maafin Papa."


Mata Shila mulai memanas tetapi ia berusaha menahannya, kehadiran Shila saat ini untuk menghibur Evan bukan malah membuatnya semakin sedih.


Namanya perempuan pasti gagal kalau disuruh menahan nangis.


"Maaf gue udah buat lo nangis Shil, tapi gue ga kuat nahan semua ini sendirian."


"Selain Adit, lo juga orang yang gue percaya untuk bangkitin gue berdiri lagi." Kata Evan lirih dan serak.


"Gue nggak mau nge-benci Papa, tapi bagaimana buat dia biar sadar?"


Shila menghapus air matanya dan berusaha senyum selebar mungkin. Pandangannya mulai buram dan sedikit pusing, tetapi ia ingin terlihat kuat di depan Evan, sahabatnya.

__ADS_1


Hatinya hancur berkeping-keping saat Evan menceritakan luka yang sebenarnya terjadi di hidupnya. Shila merasa bersalah jika tadi ia sempat berpikir yang tidak-tidak. Ia begitu iba dengan keadaan Evan.


"Apapa pun masalah lo, gue siap dengar Van. Kapan pun lo butuh gue, gue siap ada buat lo."


__ADS_2