
"Seharusnya cowo memberi perhatian lebih ke pacarnya, Adit jarang banget gitu kalo enggak gue pancing." -Zerin
Liburan pun usai, semua kegiatan kembali seperti biasanya. Burung-burung merpati komplek berbaris di kabel listrik seolah menyambut hari yang baru ini, nenek disamping rumah Shila sudah rapi dengan syal marun yang selalu melingkar dilehernya, wajahnya begitu riang sambil terus menyirami bunga-bunga di depan rumah. Ayah sibuk memanaskan mobil untuk mengantarkan Shila sekolah lalu kembali bekerja.
Harum roti bakar dilapisi selai srikaya sesak memenuhi isi ruangan, membuat Shila tak sabar untuk menyantap roti bakar buatan Bunda itu. Setelah semua beres dan sempurna, Shila menyusuli ayah masuk ke mobil dan tak lupa berpamitan dengan Bunda.
Shila pun sampai di sekolah dengan terus bersiul dan menyebarkan senyumnya ke semua orang yang dilaluinya, Shila yakin hari ini akan menjadi hari yang lebih baik, begitu juga selanjutnya.
"Bahagia banget ya sekarang Shil," ejek Adit tiba-tiba sambil menarik tas sandang Shila sehingga ia tak bisa berjalan. Shila menepis tangan Adit dan menggerutu kesal, suasana hatinya seketika rusak karena kedatangan alien dari dunia lain ini.
"Pulang sekolah nanti ke rumah gue ya, nyokap ngajak makan-makan katanya."
Shila memutar balik badannya sehingga pas di depan Adit, mereka berdua berhenti melanjutkan jalan ke kelas.
"Gue nggak bisa, sore ini ada jadwal bimbel."
"Bimbel apa? Mtk? Jadwal bimbel lo bukannya hari Rabu sampe Jumat ya?"
Yap, Adit benar. Ia hafal semua rutinitas Shila, apapun tentang Shila anak itu tahu.
"Jadwal bimbel baru gue di semester dua ini," tentu saja Shila bohong.
"Oke deh, nanti gue ajak Evan juga ya."
Shila mengerenyutkan dahi, kok nggak nyambung sih?
"Iya, pulang sekolah. Lo mau numpang sama gue?"
"Hah?"
__ADS_1
"Ngga bisa Shil, Zerin udah duluan booking tadi."
"Pokoknya, pulang sekolah titik!" dengan seenaknya ia meninggalkan Shila yang masih kebingungan, bukan Adit namanya jika tidak suka seenaknya.
Shila seharusnya senang karena Bundanya Adit masih mengundang dirinya di acara kecil-kecilan keluarga mereka. Keluarganya Adit sudah lama mengenali Shila karena itu jika ada acara kecil-kecilan di rumahnya Shila pasti di undang.
Kenapa sih anak itu semakin dilepas semakin sulit saja untuk hilang? Bisa nggak Adit di telan bumi dulu sampai rasa Shila kepadanya hilang dimakan waktu? Apa iya akan begini terus hingga mereka tamat SMA?
***
Tempat ini kembali dipenuhi oleh siswa-siswi yang berjalan kesana-kemari . Ini hari pertama sekolah, mungkin anak-anak masih bermalasan untuk memulai semester baru, padahal memulai hal yang baru itu menyenangkan, rasanya seperti terlahir kembali dengan tanpa dosa.
Evan duduk di bangkunya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Adit di kelas. Padahal di atas meja sudah ada tas Visval Raga Brown miliknya, tetapi dimana tuan dari pemilik tas itu? Ah, mungkin ngapel di kelas IPS tempat Zerin berada.
Mengingat Zerin tentu saja pikiran Evan berhenti pada Shila, satu-satunya perempuan dari ratusan perempuan yang berhasil menyelinap di hatinya. Semakin banyak bab baru dalam cerita ini, Semaki besar perasaannya kepada Shila. Evan tak boleh jatuh semakin dalam, tak boleh ada kehilangan lagi setelah Mama. Maka dari itu, agar kehilangan tak ada lagi di kamus hidupnya, ia tak boleh jatuh cinta dengan seseorang.
Yang harus Evan lakukan sekarang ini berusaha membuat Shila tak merasa bersalah lagi atas perasaannya kepada seseorang yang tidak tepat, senasib dengan posisinya sekarang.
Adit memasuki kelas dengan senyum yang terbit dari wajahnya, mata mereka bertemu, Evan memberikan senyuman.
"Nanti sore ke rumah gue ya? Bunda ngundang makan-makan tuh!"
"Bunda ngundang Shila juga, sekalian aja lo barengan sama dia."
Mendengar nama Shila membuat semangat empat limanya berapi-api, Evan mengangguk mengiyakan ajakan Adit, paling tidak ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Shila hari ini.
***
Shila mengambil ponsel di dalam tas nya, dan mendapati pesan bahwa Bunda meminta tolong untuk membeli pot-pot bunga di toko grosir sehabis pulang sekolah. Bunda sangat suka mengoleksi bunga, tak salah lagi jika di halaman depan dan belakangan rumah mereka terdapat banyak sekali tanaman bunga. Mulai dari bunga matahari, bugenvil, petunia terbilang lengkap. Dari semua bunga yang Bunda tanam, Shila sangat menyukai bunga matahari, selain warnanya yang kuning yang merupakan warna favorit Shila, baginya bunga matahari memiliki filosofi tersendiri yang menggambarkan dirinya. Yaitu, ada untuk bermanfaat bagi orang lain, seperti bunga matahari nggak hanya warnanya yang cerah dan mempesona, bunga yang bernama Helianthus Annuus L menghasilkan biji (kuaci) yang disukai banyak orang.
__ADS_1
"Shila," panggil Zerin yang membuatnya spot jantung seketika. Mereka berdua memang sekelas tetapi jarang sekali ngobrol kecuali mengobrol tentang Adit, itu bukan karena mereka saling rival satu sama lain, tetapi Zerin yang perfeksionis dan merupakan anak mall itu, bertolak belakang sekali dengan Shila yang anak rumahan dan penggemar berat novel fiksi.
"Lo ikutkan acara di rumah Adit nanti?" Shila mengangguk tersenyum. "Gue bareng lo aja ya?" mata Shila membelalak lebar dan mengerenyutkan dahi.
"Bukannya gue nggak mau, tapi Adit bilang dia barengan sama lo."
"Gue ngga mood bareng dia Shil, akhir-akhir ini dia keliatan berubah," Zerin memperlihatkan wajah kecewanya dan duduk di bangku milik Fira tempat disamping Shila. Fira masih belum kelihatan batang hidungnya.
"Kenapa? Kalian berantem?"
"Apa gue yang buta ya Shil? Kayaknya dari awal kami pacaran dia emang selalu gitu," Zerin tak menjawab pertanyaan Shila. Toh! Selama ini mereka kelihatan relationship goals, emang gitu gimana nih maksud Zerin?
"Kalo sama lo, sikap dia gimana Shil?" ini kenapa Shila yang di interogasi? Adit tak pernah memberi perhatian istimewa kepadanya, hubungan mereka hanya sebatas urusan. Jangan berharap kisah cinta mereka seperti yang lumrah di dalam *******, karena itu tidak mungkin terjadi di cerita ini.
"Gue nggak ngerasa gitu feel- pacarannya, apa dia anaknya gitu ya Shil?"
"Yang seharusnya cowo memberi perhatian lebih ke pacarnya, Adit jarang banget gitu kalo enggak gue pancing."
"Perhatian gimana maksud lo Rin?"
"Ya perhatian, kayak nanya udah makan, ucapin selamat tidur setiap malam, Adit jarang banget ngelakuinnya," Shila mengingat ucapan Adit setahun yang lalu, bahwa saat itu ia mengatakan percakapan dengan pacar terlihat konyol.
" Setau gue ya, Adit anaknya nggak suka basa-basi Rin," jelas Shila memberitahu salah satu fakta Adit.
"Tapi kan, secara gue pacarnya harus diperhatiin lebih dong dari yang lain" sergah Zerin.
Shila tersenyum.
"Percaya sama gue Rin, Adit itu anak baik dia nggak mungkin jahat sama lo."
__ADS_1
***