
Adit menaiki tangga menuju kamarnya dengan lunglai, ia kelelehan sekali karena sehabis turnamen Futsal dan harus mengikuti kelas akuntansi tambahan setelahnya. Punggung, lengan dan betisnya pegal apabila di gerakkan, karena begitu banyak aktivitas yang mengisi waktunya. Saat Adit membuka tas, ia melihat sebuah map berlogo OSIS SMA Perdana yang berisi proposal acara yang harus diselesaikannya. Ia mengerang, mengurus hal-hal seperti ini sebenarnya bukanlah hobinya. Kedua orangtuanya memaksanya untuk menjabat di dalam OSIS, karena itu Adit terpaksa memenuhinya.
Layar ponsel Adit mengerjab sejenak lalu menampilkan notifikasi masuk di ponselnya, ia pun memeriksanya
From : Zerin
"Udah sampe di rumah?"
Isi pesannya begitu, membuat seluruh rasa pegalnya hilang begitu saja. Mungkin ini yang dikatakan orang-orang dengan sebutan 'bucin' yang membuat segala sesuatu terasa lebih indah. Adit pun membalasnya, "Udah kok, baru aja."
From : Zerin
"Oh okay, jangan lupa istirahat ya"
Adit tertawa, apa iya percakapannya saat berpacaran itu menjadi se-konyol ini? Rasanya aneh dan sedikit geli. Tetapi namanya juga rasa, suka datang secara tiba-tiba dengan orang yang tidak disangka pula.
Adit pun menelepon Shila, menceritakan hari pertamanya memiliki seorang pacar.
"Gue ngakak, hahaha! Geli gitu ya Shil rasanya?"
"Geli gimana?"
"Ya, gimana ya? Absurd banget menurut gue."
"Oh paham, karena itu juga gue nggak mau pacaran."
"Berarti lebih asik punya temen dibandingkan punya pacar kan?"
"M-maksud lo?"
"Pacaran suasananya canggung banget, kalo temen kan gue bisa blak-blakan."
"Terus lo mau putusin Zerin gitu?"
"Kalo iya gimana?"
"Lo gila?!"
"Enggak lah, gue seneng kok bisa dapatin dia ehe."
Karena suara Adit saat menelepon Shila lumayan besar, Mamanya pun mendatangi kamar Adit.
"Kamu nggak belajar?" dengan cepat Adit memutuskan panggilan.
"Malam ini istirahat dulu ya Ma. Badan Adit pegel-pegel."
__ADS_1
"Terus tadi nelpon siapa? Nggak kayak orang sakit."
"Shila Ma, soalnya mau bahas OSIS besok ada rapat."
Mama pun pergi menutup kamar Adit, Adit tersenyum lega dapat lolos dari sergapan Mama yang selalu menyuruhnya belajar. Padahal baginya, dunia bisa lebih asik lagi jika tidak seserius itu.
***
"Nih Fir, Bunda buatin lo pecel." Kata Shila sambil menyodorkannya sebungkus pecel buatan Bunda.
"Maaf nggak make tupparware, Bunda trauma soalnya. Tupparware-nya banyak yang hilang."
"Elo salah satu tersangkanya kan?"
"Hah?"
"Iya, pas kita berenang. Kan lo bawa indomie sama telur dadar tuh! terus tupparware nyokap lo, lo ilangin entah kemana."
"Huu, giliran kesalahan gue, baru aja ingat."
"Dosa-dosa lo semua gue tau Shil, hahaha." Ledek Fira lalu tertawa keras, untung saja penghuni kelas tidak begitu ramai.
"Eh ngomong-ngomong," kata Fira dan memperbaiki duduknya.
"Adit pacaran sama Zerin ya?" tanyanya sedikit berbisik hampir tidak kedengaran.
"Ah gosip anak sekolah sekencang wiFi di rumah gue man. Ya tau lah!" ujarnya lalu menyenggol bahu Shila. "Iya, mereka pacaran baru aja dari minggu kemarin."
"Terus hati lo apa kabar?" ledek Fira.
"Fine kok, Fine."
"Alah, tunggu aja ntar lagi lo nangis darah liat crush lo pacaran sama orang lain."
"Tapi gue curiga Shil, dia selama ini deketnya sama lo. Kok pacaran sama orang lain?"
"Gue malah ngira dia suka sama lo."
"Enggak lah, gue sama dia temen doang. Apalagi di kelas sebelas ini sejak jabat kan emang harus banyak yang diomongkan." Jawab Shila membela diri, karena Shila tahun ini terpilih menjadi sekretaris OSIS.
"Iya, iya setuju. Lo kan buteq mana mau cowok se-ganteng Adit suka sama lo."
Shila melempar tas Fira ke lantai, benar juga kata orang-orang. Semakin dekat pertemanan, semakin tipis akhlak di depan keduanya.
***
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Shila memikirkan apa yang selama ini sudah terjadi di hidupnya. Mengetahui Adit berpacaran dengan teman sekelasnya belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tenggalamkan pikirannya pada susunan-susunan gedung yang satu per satu dilewatinya. Entah mengapa melihat nama-nama toko, melihat spanduk yang berwarna-warni merupakan salah satu alasannya yang suka menaiki metromini. Ada rasa tersendiri dari panorama seperti itu, yang jelas Shila tidak bisa menjelaskannya mengapa.
Hari ini Shila memilih pulang dengan metro mini menghindari Adit yang pasti cerita banyak hal yang membuatnya sakit hati.
Sebelum tiba di rumah, Shila memilih untuk menyempatkan diri ke toko buku langganannya. Selagi uangnya bersisa, ada baiknya Shila membeli buku sebelum uang itu digunakan untuk membeli seblak Kang Ahmad yang tiap malam sering lewat di depan rumahnya.
Bercampurnya bau buku dan pendingin AC adalah salah satu kenikmatan yang hakiki, Shila menelusuri rak satu per satu untuk mencari dua buku yang ingin dicarinya. Yakni buku karya Ahmad Fuadi yang berjudul Merdeka Sejak Hati dan buku karya Tere Liye yang berjudul Nebula.
Akhirnya di urutan rak kedua yang ia cari, Shila telah menemukan kedua bukunya. Ia berjalan mendekati meja kasir untuk segera membayar kedua bukunya. Tiba-tiba Shila mendapati Adit yang sedang mencari buku.
"Woi, lo ngapain disini? Nggak salah tempat kan?"
"Alhamdulillah do'a gue terkabul."
"Hah?"
"Tadi gue berdo'a biar dapat pertolongan, noh di depan gue jawabannya."
"Kenapa?"
"Gue nyari buku majalah seputar BTS Shil, kok dari tadi nggak nemu ya?"
"Elo sih, nyarinya di rak bagian resep makanan, nggak mungkin ketemu lah," omel Shila.
"Beda ya?"
"Dasar otak udang," olok Shila dan mengajak Adit ke bagian rak yang berisi buku seputar selebritis.
"Tuh, banyak. Kesambet apa lo tiba-tiba suka oppa-oppa Korea Dit?"
"Bukan untuk gue, Zerin nitip buku ini sama gue."
Shila tertawa.
"Lo babu atau pacarnya sih?" ledeknya tak hirau mereka ada dimana.
"Enak aja babu, pacarnya lah."
Mereka pun mengantri di kasir dan membayar total buku masing-masing.
"Sini, buku lo gue aja yang bayar."
"Yeyay, gue nggak bisa nolak Dit."
Mereka pun berjalan berdua keluar dari toko buku dan sempat-sempatnya membeli boba. Adit bercerita bahwa ia berteman akrab dengan anak baru yang ada dikelasnya ia juga tak henti-hentinya menceritakan bahwa hari-harinya semakin ringan sejak kehadiran Zerin di hidupnya. Shil tetap Shila, ia terus memajangkan muka manisnya di depan Adit.
__ADS_1
***