
Pagi sekali Warsinah sudah bangun dari tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak.
Warsinah yang sudah rapi dan wangi itu kini tampak segar meski hanya mengenakan baju terusan batik warna kuning.
Ia menuju dapur untuk mencari Mbok Rum dan Amin,namun sayangnya di dapur hanya ada dua juru masak yang keduanya adalah orang baru.
Yah,begitulah keadaan di tempat tinggal Warsinah saat itu.
Tidak ada satu orang pun yang tau tentang seluk beluk Seno dan keluarganya.
Mereka hanya tahu Seno dan Warsinah adalah juragan mereka.
Warsinah sangat bingung,kenapa di saat ia menydari tentang adanya kejanggalan malah jalan untuk mencari tahu kebenaran seolah buntu.
Harus pada siapa ia bertanya,sedangkan semua yang ada disini adalah orang baru,ia hanya bersama Seno Suaminya,itupun jika Seno datang berkunjung,Seno....atau Karsin entahlah,Warsinah pun tak yakin.
Bagaimana bisa ia yakin jika laki-laki yang menikahinya itu adalah benar-benar Seno,sedangkan tidur saja selalu terpisah,bahkan tak pernah sekalipun ia disentuh oleh sang Suami.
Hingga saat itu,tengah malam Seno pulang dengan keadaan mabuk berat,Warsinah menggerutu,bahkan ia marah sekali,karna melihat Suaminya pulang di antar oleh dua orang Perempuan dengan baju kurang bahan.
Seno yang melihat Warsinah mengomelpun naik pitam,ia menggebrak meja dan berkata...
"Apa hak mu melarangku,sedang kau hanya Istri pinjaman,kau itu Istri Seno..."
Warsinah terbelalak,ia tak percaya jika apa yang selama ini ada dalam pikirannya ternyata benar.
Bak disambar petir rasa hati Warsinah,ia luruh di lantai yang cukup dingin itu karna terbuat dari plester semen.
"Kenapa kalian mempermainkan aku,apa salahku?"
Ucap Warsinah dalam tangis.
Ia merasa sangat sedih,ingin rasanya ia mati saat itu juga,rasa putus asa benar-benar datang menghampiri.
Warsinah berjalan gontai memasuki kamarnya.
Keesokan harinya,Warsinah yang baru saja membantu Bik Mur memasak di dapur kaget akan kedatangan Karsin.
Yah,setelah membongkar kenyataan pahit itu Karsin pun tak mau lagi di panggil sebagai Seno.
Karsin hari itu menjelaskan sebab musabab kenapa ia harus menikahi Warsinah denga menggunakan nama Seno,atau lebih jelasnya kenapa ia menggantikan posisi Seno.
Warsinah hanya bisa menelan kepahitan yang lagi-lagi menghampiri hidupnya.
Semenjak saat itu sikap karsin pada Warsinah tak lagi seperti dulu.
__ADS_1
Karsin bersikap seolah-olah dia adalah seorang boss dan warsinah adalah abdinya.
Sedang Seno,ia tak sekalipun terlihat,ia juga tak pernah memberi uang,hingga untuk makanpun Warsinah harus berbagi dengan para pekerja,itu pun Warsinah harus mau ikut serta membantu di dapur terlebih dahulu.
Semakin hari keadaan Warsinah semakin memprihatinkan.
Gelar juragan putri tak lagi ada.
Karsin yang tengah mabuk berat memaksa Warsinah melayaninya.
Malam itu adalah pertama kalinya bagi Warsinah,tapi tak selayaknya pasangan Suami Istri melainkan orang mabuk dengan korbanya.
Setelah kejadian itu,bak candu bagi Karsin,ia selalu mau lagi dan lagi.
Tak hanya berhenti di situ saja,sesekali karsin membawa temannya untuk ikut serta bermain dengan Warsinah.
Warsinah tak bisa berbuat banyak,ia hanya berharap Seno benar-benar akan datang.
Tapi sayang,ia tak kunjung datang,jika saja ada Seno,mungkin Warsinah bisa menuntut tanggung jawab Seno terhadap janji yang sudah dibuat oleh mendiang Orang tua mereka.
Bukan tentang harta,tapi perlindungan pada Warsinah yang sudah dijanjikan oleh Ayah Seno terhadapnya.
Malam itu,Warsinah tengah mengguyur tubuhnya tanpa melepas daster Warna putih yang panjangnya hanya selutut yang ia pakai.
Warsinah menangis meratapi nasib,bagaimana tidak,tak hanya hati,harga diri,bahkan tubuh Warsinah pun kini penuh luka.
Salim yang tampaknya masih punya belas kasihan itu hanya sesekali mengangkat tubuh Warsinah saat ia sudah tergeletak,sedang Warso tanpa ampun terus menendang seluruh tubuh Warsinah yang sudah penuh dengan luka cambuk.
Lima hari lamanya,Warsinah menerima perlakuan buruk,meski tak lagi dihajar, namun tetap saja ia harus tersakiti karna harus melayani para teman dan anak buah Karsin,tak lain Warso dan Salim pun ikut serta.
Hari itu,setelah mengguyur tubuhnya yang menyedihkan,Warsinah berniat kabur dan mencari keberadaan Seno yang Asli.
Tapi baru saja ia keluar dari pintu belakang,nampaklah seorang pelayan tengah berjalan ke dapur dengan membawa gelas kotor bekas kopi.
Sang pelayanpun berteriak,hingga mengundang kedatangan Warso.
Sekian menit ia menelepon seseorang,kemudian ditutupnya panggilan tersebut,lalu diseretlah tubuh Warsinah kedalam sebuah gudang dalam keadaan basah kuyup.
Warsinah pingsan sesaat setelah dilempar masuk ke gudang.
Malam berganti pagi,dan pagi pun kembali berganti dengan malam,Warsinah pun terjaga,ia bingung berada dimana,tubuhnya lemas,terasa remuk hingga tulang belulangnya.
Warsinah mencoba berdiri namun ia terjatuh lagi,dari luar terdengar sebuah suara.
"Jangan ada yang berani membuka pintu apalagi memberi makan,kalau sampai dia kabur,bukan hanya kalian,tapi anak dan keluarga kalian akan jadi sasaranya."
__ADS_1
Suara Warso terdengar sangat kencang mengancam para Abdi dalem,bukan lagi...
Seorang abdi dalem adalah mereka yang diperlakukan dengan layak.
Tidak seperti di tempat itu,perlakuan tidak manusiawi itu lebih pantas disembut *memperbudak pelayan*.
Mata Warsinah kembali berkunang-kunang,pandangannya pun kabur,ia kembali tak sadarkan diri,karna memang keadaan fisik yang telah tersakiti,mental yang tertekan ditambah lagi,hampir dua hari ia dikurung dan tidak diberi makan.
Atas perintah Karsin akhirnya di hari ketiga Warsinahpun di bawa keluar.
Alih-alih mendapat perlakuan baik,Warsinah malah kembali harus menerima perlakuan buruk lagi.
Salim yang mengingatkan seolah di anggap angin lalu oleh Warso.
Ia terus melakukan hal menjijikkan itu berulang kali dengan keadaan Warsinah yang tak sadarkan diri.
Salim tak bisa berbuat banyak,karna Warso memang lebih dulu bekerja pada Seno,dan menjadi kaki tangan Karsin,sang tangan kanan Seno.
Setelah selesai dengan kelakuan bej*tnya,Warso dibantu Salim membopong tubuh Warsinah keatas mobil bak.
Malam itu hujan turun dengan sangat deras,Tubuh Warsinah digulung menggunakan terpal yang biasa mereka pakai sebagai penutup sayuran.
Di bawanya ia kesebuah jalur menuju mata air yang terkenal sangat angker.
Mereka sudah memperkirakan jika Warsinah tak akan selamat.
Melihat banyaknya darah yang terus mengalir dari hidung,dan juga denyut nadi Warsinah yang kian melemah.
Sesampainya di sebuah kebun sayur,dekat perkebunan kopi kedua pria itu pun menghentikan mobilnya dan menyeret tubuh Warsinah turun.
Warsinah yang masih pingsan dibiarkan begitu saja terbaring di pingir jalan bak sampah yang dibuang.
"Tok tok tok..."
"Den,makan malam udah Mbok Rum siapkan lo,ayo makan dulu..."
Ketukan pintu dan suara Mbok Rum membangunkan Seno dari lamunan,ia masih saja tengkurap menatap foto Warsinah bersanding dengan Karsin.
Perbuatan bodoh yang ia lakukan,yah sangat bodoh,hingga menyisakan sesal yang sangat mendalam.
Andai,hanya itu yang bisa ia ucapkan kini.
Seno menutup Album foto itu,ia menyeka air mata yang entah kapan mengalirnya pun Seno tak tahu.
Dikembalikannya album itu di sebuah rak buku.
__ADS_1
"Aku harus mencari Mbak As,hanya dia yang tau."
Seno bergumam...