Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Puncak Masalah.


__ADS_3

Seno berhenti di sebuah warung nasi.


Ia berniat untuk sarapan,sekaligus mengorek informasi tentang Salim.


Warung nasi yang letaknya tak jauh dari rumah Salim itu,kata tetangga Salim adalah tempat yang biasa digunakan Salim dan temanya untuk mangkal.


"Nasi pecel komplit satu,sama teh hangat manis ya Bu..."ucap Seno sopan.


"Iya Den,"


"Bu...apa boleh nanya sedikit,"ucap Seno lagi saat Mbok Sri pemilik warung tengah menyiapkan pesanannya.


"Iya Den...mau tanya apa ya?"ucap Mbok Sri masih di balik meja dagangannya.


"Manggilnya Mbok aja Den,ndak biasa saya dipanggil Bu,kok kayak nggak enak didengar gitu ya?"


"Eum...itu,Mbok kenal dengan Kang Salim?"


"Salim yang gundul itu apa bukan Den?"


Mbok Sri balik bertanya.


"Iya Mbok,"


"Ya kenal lah Den,wong tiap hari makan di sini."


"Dia itu kalau ndak kerja ya mangkal di sini."


"Tapi itu dulu,waktu belum kecelakaan."


"Setelah kecelakaan,dia udah nggak pernah kesini Den,Mbok juga nggak tau dia kemana."


"Kang salim itu menikah apa belum Mbok?"


Tanya Seno saat Mbok Sri mulai diam.


"Dulu sekali Salim itu nikah sama orang mana gitu loh,Mbok nggak paham,yang pasti orang jauh."


"Tapi pernikahannya nggak bertahan lama,tiga bulan setelah menikah orang tua Istrinya Salim datang,terus anaknya dipaksa pulang."


"Dari kabar yang beredar sih,Salim membawa Istrinya itu kabur dari rumah orang tuanya."


"Semenjak saat itu Salim udah nggak mau menikah lagi."


"Berarti sampai saat ini Kang Salim itu sendirian Mbok?"


"Nggak pernah terlihat sama perempuan gitu?"tanya Seno penuh selidik.


"Setau Mbok sih nggak pernah Den."


"Tapi kalo boleh tau,Aden ini siapa ya?"


"Bukannya apa-apa,cuma kok kayak pengen tau banget gitu tentang Salim?"


"Oh itu Mbok,saya disuruh Bapak buat nyari tau tentang Kang Salim,ceritanya Bapak saya ini lagi nyari mantu."


Jawab Seno sedikit mengarang.

__ADS_1


Setelah selesai makan,diserahkannya selembar uang warna biru.


Seno lantas bergegas pergi dari tempat itu,ia takut kalau-kalau Salim melihatnya.


Bukan masalah takut karna apanya,tapi yang membuat Seno menciut menghadapi Salim,adalah karna ia takut Salim curiga dan misinya untuk diam-diam mencari tau tentang Karsin jadi terbongkar,bagaimanapun Salim tetaplah orangnya Karsin.


Seno melajukan mobilnya kekediaman Warso,dengan alasan memberikan uang pada Anak Warso,di sana ia tengah bertanya banyak hal,dan ada satu hal yang sungguh membuatnya tidak habis pikir atas kelakuan Karsin.


"Lah,apa juragan nggak tau,kalau bosnya Kang Warso itu dulu menikah lagi di desa ini?"


Pertanyaan yang terlontar begitu lancarnya dari mulut Istri mendiang Warso itu sungguh bisa membuat tensi darah Seno naik.


"Kurang apa aku pada Kang Karsin?"


Itulah pertanyaan bodoh yang Seno ucap sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Setelah sekian menit terdiam,akhirnya Seno kembali membuka percakapan.


Ia minta tolong pada Ayah dari Istri Warso untuk mengantarkannya ke rumah Istri Karsin.


Sebelum ke sana,Seno memberi lima lembar uang warna merah pada Istri mendiang Warso untuk membantu kebutuhan bayinya.


Seno duduk di hadapan seorang perempuan yang usianya sekitar 22 tahunan.


Disamping sang perempuan duduklah Pak Kusdi Ayahnya.


Dengan terus berusaha menekan gemuruh emosi di hati dan pikiranya,Seno memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak Kusdi,sesuai yang Bapak katakan di hari meninggalnya Kang Warso saat itu,saya datang menemui Bapak."


Ucap Seno dengan suara yang agak berat.


"Den Seno,saya ucapkan terima kasih banyak sebelumnya,karna Den seno berkenan untuk datang ke sini."


"Berikutnya,saya ingin menunjukkan sesuatu."


Surat nikah yang di sana jelas terpampang nama Seno dan Endang,namun dengan foto orang yang berbeda.


"Benarkah itu nama dan data Aden...?"


Tanya Ayah Endang dengan tatapan nanar,jelas sekali di mata tua itu terlihat kesedihan yang mendalam.


"Iya Pak Kusdi,itu benar data saya,dan itu foto Kang Karsin."


Ucap Seno,dan di balas dengan senyuman getir oleh Bapaknya Endang.


"Orang tua mana tidak sedih dan marah Den Seno,jika anak perempuanya diperlakukan seperti ini."


"Saya akui Den Seno,saya juga salah dalam hal ini,karna tidak menyelidiki terlebih dahulu."


"Saya main percaya saja padanya,hanya karna ia memakai tutur kata yang sopan."


"Kalo boleh saya minta saran,menurut Aden,apa yang seharusnya bisa dilakukan?"


Pertanyaan yang seperti sebuah tamparan terlontar begitu saja dari orang tua Endang.


Seno hanya bisa mengaku salah,ia tau jika ini semua juga akibat dari ulahnya.

__ADS_1


Andai Seno tidak membuat dokumen palsu itu.


Mungkin pernikahan Karsin dan Endang terlebih menggunakan namanya tidak akan terjadi.


Selain minta maaf,Seno pun menceritakan semua yang sudah diperbuatnya bersama Karsin.


Warsinah....yah,perempuan malang itu.


Tanpa ragu Seno pun menceritakan Warsinah,yang di akui Karsin sebagai Istri pertama yang berada di kota saat Karsin menikahi Endang.


Seno bahkan sempat menitikan air mata saat bercerita tentang Warsinah,sungguh ia sangat menyesal.


Beban di hati Seno seakan berkurang setelah ia bertemu keluarga Endang.


Tempat yang tepat untuk berbagi,dan mungkin juga akan berkerjasama nantinya...


Tatapan mata Endang pada Seno terlihat berbeda....


Yah,pandangan yang sulit diartikan.


Sebuah kesepakatan telah diambil oleh Seno dan keluarga Endang.


Seno akhirnya pamit pulang dengan hati yang cukup tenang juga emosi yang sudah reda.


Seno memarkirkan mobilnya di garasi bersisihan dengan mobil cerry yang biasa di pakai oleh Karsin meninjau kebun.


Sedikit amarah kembali merasuki otak Seno kala mengingat semua kelakuan Karsin.


Ia yang merasa sudah berbuat baik cukup banyak nyatanya harus terima dihianati bahkan dimanfaatkan oleh Karsin.


Entah apa salah dan dosanya pada Karsin,itulah yang selalu ada dalam pikiran Seno.


Seno berusaha bersikap biasa saja,seakan ia tak tahu apa-apa.


Ia masuk ke rumahnya,dan ketika Seno sampai di ruang makan,nampaklah Karsin tengah makan lontong tahu.


"Makan Gan?"tawar Karsin pada Seno dengan begitu ramahnya.


Dari wajah Karsin tak sedikitpun tampak rasa bersalah atau pun kepura-puraan.


Entah memang karna ia tak merasa bersalah,atau karna memang Karsin adalah pembohong kelas kakap hingga kebohongannya tampak begitu natural seperti biasa saja.


Seno hanya mengangguk,tak dapat dipungkiri,Seno memang tak lagi sanggup membendung kekecewaan dan kebenciannya pada Karsin.


Ia yang dulu sangat percaya dan mengandalkan Karsin kini menjadi muak dan geram,terlebih saat melihat sikap Karsin yang sok ramah.


Seno masuk ke kamarnya,dikuncinya pintu dari dalam.


Seno merebahkan diri di atas kasur empuknya.


Pikirannya berkelana,berandai-andai jika saja benar Warsinah telah tiada.


Sesak seketika merasuki dada,setitik bening luruh begitu saja dari mata Seno yang sudah memerah.


Seno akhirnya terlelap....


"Mas Seno....."

__ADS_1


Seseorang memanggil Seno dengan suara yang lembut.


__ADS_2