Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Menyesal.


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji,ayat-ayat Al-qur'an terdengar menentramkan,Mutdah semakin memantapkan langkah kakinya menuju rumah yang tengah memutar murotul qur'an tersebut.


Mutdah sudah dekat dengan rumah itu,tampaklah sosok yang memakai gamis biru dengan hijab senada itu tersenyum menatap Mutdah.


"Mbak Mutdah,mari masuk,"


Ucap Ibu Siti pemilik rumah itu mempersilahkan.


Mutdah sedikit malu memasuki rumah itu,dia kemudian duduk di ruang tamu yang nampak rapi dan bersih meski berukuran kecil.


Mutdah duduk membelakangi pintu,di depannya ada sebuah tivi yang di letakkan di sebuah meja kecil,di atas tivi tersebut tampak sebuah dvd player dan tampak pula berjajar dua sound sistem di sampingnya.


Mutdah terhanyut dalam indahnya lantunan ayat-ayat suci,dengan mata yang terus menatap ke arah sound warna hitam itu,anganya melayang,hati Mutdah sangat pedih,bak di hujam begitu banyak Anak panah.


Kali ini ia benar-benar tengah menyesali apa yang tengah diperbuatnya selama ini.


Biasanya rasa sesal itu menghilang seiring kembalinya bayangan dendam namun kali ini tempat yang tepat nyatanya benar-benar bisa membuat Mutdah sadar atas dosa besar yang tengah ia lakukan.


Air mata mengalir begitu saja tanpa ia sadari,Mutdah tau betul jika dalam hal ini ia adalah orang bodoh yang mau terus terusan berkorban demi orang yang telah lupa diri.


Suami yang sangat ia cintai dan hormati,selalu mentap jijik padanya yang semakin kurus kering dan selalu pilek serta sakit-sakitan.


"Mbak Mutdah ini minumnya,silahkan di minum mumpung masih anget."ucap Mbak Siti dengan lembut.


Mutdah meraih segelas teh hangat itu kemudian meneguknya hingga habis setengahnya.


"Mbak,kalau ada yang ingin diceritakan atau butuh untuk bertukar pendapat saya siap untuk menjadi pendengar yang baik,dan insya alloh amanah dalam menjaganya."ucap Mbak Siti pelan namun penuh penekanan.


"Saya bingung Mbak Siti,harus dari mana saya mulai bercerita..."tampak Mutdah menarik nafas dalam kemudian membuangnya perlahan .


Untuk sekian detik...


Tik tik tik tik tik...


Hanya suara jarum jam yang terdengar.


Keduanya saling diam,hingga....


"Mbak Siti..."panggil Mutdah.


"Iya Mbak Mut..."jawab Mbak Siti.


"Sa...ya..."ucap Mutdah dengan sedikit terbata.


"Hmm...." Jawab Mbak Siti dengan mata membulat sempurna dan alis bertaut.

__ADS_1


"Ada apa Mbak Mut?"tanya Mbak Siti akhirnya.


"Sejujurnya saat ini saya sedang sangat menyesal Mbak,saya tidak mau melanjutkan semua ini,saya lelah."


"Saya merasa seperti orang lain,tidak bisa menjadi diri saya sendiri,saya sangat tersiksa dan tidak bisa menikmati hidup ini layaknya orang-orang."


Mbak Siti tampak sesekali mengangguk dan menepuk halus lengah Mutdah tanpa menyela sedikitpun.


Mbak Siti lebih memilih menjadi pendengar yang baik,ia membiarkan Mutdah mengeluarkan segala beban pikiran dan gemelut dari hatinya.


Mutdah merasa lebih baik saat semua beban di hati dan pikirannya bisa terungkapkan,terlebih pada orang yang ia yakini bisa dipercaya.


Mbak Siti memberi saran agar Mutdah banyak-banyak beristigfar memohon ampun pada Alloh.


Di tempat itu juga Mutdah di ajak untuk mensucikan diri dengan cara berwudhu.


Mutdah tampak mengenakan mukena terusan warna putih,ia menengadahkan kedua tanganya pada sang pencipta memohon ampun dan meminta petunjuk agar bisa keluar dari kemusyrikan itu.


Di dalam kamar,Sugeng tengah membaca mantra untuk memanggil Nyai Warsi sesembahannya.


Tampak Sebuah nampan sesaji penuh dengan bunga tujuh rupa dan perlengkapan sesaji yang lainya.


Tanpak pula darah segar di dalam batok kelapa,darah ayam cemani dan juga ingkung ayam cemani itu diletakkan di satu bakul yang sama.


Sebuah damar kecil menyala,api yang awalnya tenang kini tampak seperti tertiup angin,dan tak lama api itu padam.


Nyai Warsi yang biasanya tak mau menampakkan diri secara langsung dan hanya mau menemui Sugeng di alam mimpi itu kini terlihat jelas di depan mata Sugeng.


"Kau sudah melanggar janji.."


"Hih..ih..ih..hi...hi...hihi..ihi...hihi..."


Ucap kuntilanak Merah dengan kepala retak serta hudung penuh nanah yang baunya sangat busuk dan amis itu.


Mata Nyai Warsi terlihat merah menyala,ia melayang mendekat ke arah Sugeng yang masih saja dalam posisi jongkok dan baru saja berusaha untuk berdiri.


Sugeng segera berdiri dan beringsut mundur,di tariknya engsel pintu yang tadi ia kunci dari dalam.


Sugeng lari keluar,betapa kagetnya ia ketika mendapati dapurnya sudah hampir ludes terbakar.


Flash back on.


"Bapak mau makan sekarang apa nanti?"


Tanya Mutdah Istri Sugeng saat melihat Sugen tengah duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


"Sekarang Buk."jawab Sugeng singkat tanpa sedikitpun menoleh pada Istrinya.


Mutdah hanya menghela nafas kemudian beranjak menuju rak piring.


Di ambilnya satu piring dan sendok kemudian ia letakkan di meja tepat di depan Suaminya duduk.


Mutdah lantas menyendokkan nasi untuk Suaminya.


Mutdah berniat mengambil lauk untuk Suaminya saat...


"Ha..jj...jing..."Mutdah dengan sigap menutup mulut dan hidungnya saat bersin disamping suaminya.


Ia kemudian mengeluarkan ingus menggunakan sapu tangan yang tadi ia pakai untuk menutup mulut.


Tampak Sugeng bergidik jijik lalu membuang pandangan menjauh dari Mutdah.


Mutdah akhirnya memilih menjauh,meninggalkan Suaminya yang lebih memilih mengambil lauk sendiri.


Mutdah mengambil sebuak korek jes,korek api dengan bungkus kotak keratas warna biru dan bergambar petani palem itu ia buka dan di ambilnya satu biji.


Segera ia nyalakan kompor gas yang masih menggunakan sumbu itu dengan cara membakar ujung lidi terlebih dahulu lalu ia masukkan ke tengah kompor yang mana di sana terdapat berjajar sumbu yang menghubungkan api dengan minyak gas.


Mutdah menaruh panci kecil yang di dalamnya terdapat sisa sayur lodeh kemarin dengan berlinang air mata.


Begitulah Mutdah,kebahagiaan yang ia pamerkan hanyalah pura-pura.


Mutdah hanya akan makan sayur sisa kemarin,dan jika masak pagi itu hanya untuk menyiapkan untuk Sugeng.


Sering kali Sugeng menegurnya hanya karna membuang sayur sisa,ia dikatakan sok kaya oleh Sugeng,tak jarang Sugeng juga mengatakan jika Mutdah tak pantas di perlakukan baik karna ia tak lagi ada gunanya,Anak pun tak punya,dan ia juga menjijikkan,begitulah menurut Sugeng.


Mutdah hanya akan dibelikan baju bagus dan perhiasan untuk pamer pada tetangga,dan setelahnya perhiasan itu akan kembali Sugeng jual di pasar kota.


Mutdah tak sanggup untuk menahan gejolak kesedihan,ia beranjak ke belakang dapur sekedarnya untuk duduk menenangkan diri,di saat bersamaan Sugeng tampak masuk ke kamar pemujaan dan mengunci pintu dari dalam.


Sudah dapat di pastikan jika Sugeng hanya akan keluar kamar di esok hari menjelang subuh.


Mutdah yang tengah berperang dengan gemelut di hati itu mendengar sayup-sayup suara orang mengaji,ia tertuntun untuk mencari sumber suara itu.


Mutdah tak sadar jika ia tengah meninggalkan kompor yang apinya tengah menyala dan panci di atas kompor itu terlihat mulai kering dan sudah tercium bau gosong.


Sesosok Hantu Kuntilanak merah mengikuti Mutdah namun ia tak mampu menahan panas saat mencoba masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya tengah terdengar lantunan murotul qur'an.


Kuntilanak Merah itu tampak sanagat marah,dengan mata menyala merah dan gaun berwarna merah kumal,serta darah hitam dan nanah yang berjatuhan kuntilanak itu melayang menembus diding rumah seseorang yang tengah memuja dan menyebut namanya untuk memberi persembahan kepadanya.


Kuntilanak itu menghempaskan kompor yang masih menyala hingga berguling di lantai dengan minyak gas yang berantakan sehingga api dengan cepat menyambar ke seluruh ruangan itu,terlebih di samping tempat itu terdapat tumpukan sabut kelapa kering yang ditumpuk rapi.

__ADS_1


Flash back off.


__ADS_2