
Sosok kuntilanak merah tampak mengambang,jaraknya tak jauh dari dua orang Ulama yang masih saja berdiri dengan satu tangan dari masing-masing orang memegang tasbih.
Suara istigfar terus terdengar,seluruh jamaah membantu dengan membaca apa saja yang mereka bisa,ada yang membaca tiga kulhu dan alfatihah,ada juga yang membaca ayat kursi bahkan surat yasin.
Apapun itu yang di baca,yang penting adalah tujuan dari semuanya yang berada di sana hanya satu yaitu berserah diri,memohon ampun dan berlindung kepada Alloh Swt.
Sosok kuntilanak merah itu kini melayang lebih tinggi,di rentangkannya kedua tangan,dan tiba-tiba angin kencang bertiup,semua orang sempat berhenti membaca kalammulloh karena mereka kaget mendengar ledakan di atas atap rumah Mbak Siti,kecuali Pak Ustadz dan Pak Haji,mereka tau betul jika itu adalah cara setan itu mengecoh kekhusyuan mereka.
Seperti bara api yang semakin surut terkena air,demikian pulalah kuntilanak merah itu berubah dari sinar merah yang menyelimuti jiwa tanpa raganya beransur menghilang dan membentuk wujut yang lebih terlihat.
Baju putih kumal,rambut panjang menjuntai dan mata putih semua dengan lingkaran hitam pucat di area mata.
"Mas Seno..."
Suaranya terdengar mengambang,seperti terbawa angin,dengan tatapan mata lurus ke depan entah melihat siapa,tapi yang jelas tak ada satupun dari mereka yang mau bersitatap dengannya..."
"Lepaskan aku..."
Ucapnya lagi,masih dengan posisi dan expresi yang sama.
Pak Ustadz tampak menghentikan bacaannya,ia menatap kuntilanak merah itu.
"Pergilah ke alam mu,jangan mau diperbudak ataupun memperbudak manusia."
"Tempatmu bukan lagi di sini,biarlah yang di dunia ini kami yang masih hidup yang menyelesaikan."
"Iya Warsi...bukankah dendam mu sudah terbalaskan,semua sudah menyadari kesalannya terhadapmu,meminta maaf,menyesal,bahkan telah menerima hukuman,pergilah Warsi,berbahagialah di alam mu,kita berbeda,tak sepatutnya kau masih di sini,terlebih jika itu hanya untuk mengganggu kami."
Hantu Warsinah dengan wajah pucat itu sedikit bergeser ke arah tempat Seno berada,tampak Seno sedikit mundur,terlihat jelas jika ia ketakutan.
Sekitar tiga meter Kuntilanak itu berdiri menghadap Seno,ia menatap lurus dengan mata putihnya.
"Pergilah Warsi,iklaskan semua yang telah terjadi,sudah cukup apa yang terjadi selama ini,tenanglah di alam mu."
Semua orang terpana,mereka hanyut dalam pikiran masing-masing,terlintas tanya dalam benak mereka tentang siapa Seno dan Nyai Warsi itu,lalu apa hubungan mereka?entahlah hanya kedua mahluk beda alam itu serta alloh yang tau.
Kedua Ulama itu tampak tersenyum penuh arti.
Keduanya lantas menengadahkan tangan dengan mengucap basmallah,kemudian membaca beberapa ayat yang mereka khususkan untuk mengantar kepergian Warsinah menuju sebuah titik putih yang semakin lama semakin terang.
Namun belum lagi tubuh Warsinah terangkat menuju titik itu,tampak sebuah sinar merah terpancar kembali di kepalanya,retakan di kepala Warsinah pun kembali menganga,nanah membanjiri hidungnya,dan kuku-kuku panjang dan runcing berwarna hitam tampak tumbuh di kedua tangannya.
__ADS_1
Warsinah tertawa cekikikan...
"Hihi hihi hi...hi..ihi..hihh...."
Ia kemudian terbang mengambang,sehingga cahaya putih yang tadi terlihat terang itupun meredup dan sirna.
Hantu Warsinah dengan mata merahnya sedikit terbang ke atas hingga sejajar dengan pucuk pohon rambutan.
Kini tampak rambut gimbalnya yang panjang tak berujung karna hanya menjuntai ke bawah namun tak terlihat menyentuh tanah terlihat berkibar-kibar.
Baju kumal dengan sinar merah itu meriap-riap seperti di terpa angin.
Ia mengankat kedua tanganya tinggi-tinggi hingga tercabutlah beberapa pohon kecil yang tumbuh liar di sekitar tempatnya berada.
Pak Ustadz hanya tersenyum,sedang Pak Haji masih saja fokus pada tasbih yang melingkar di tangan kanannya.
"Aku ingin menjemput budakku."
"Pergi kalian jangan ikut campur !"
Ucap Kuntilanak merah itu dengan suara melengking dan lantang.
"Pergi atau akan kami kirim ke tempatmu secara paksa."
Ucap Pak Ustadz,kemudian beliau kembali membaca beberapa ayat,dan kali ini tampak kuntilanak merah itu meraung kepanasan.
"Panass...."
"Lepass..."
"Baiklah aku akan pergi."
Ucap Kuntilanak merah itu,bersamaan dengan itu,sekelebat sosok bayangan tinggi besar tampak menjauh dari kuntilanak itu.
Kuntilanak merah itu tampak seperti terbakar,hingga keluarlah sebuah cahaya merah yang membentuk seperti sebuah permata dari kepala kuntilanak itu,setelahnya sinar itu pun menghilang bersama terdengarnya suara ledakan.
Di dalam rumah terlihat Mutdah jatuh pingsan,sekujur tubuhnya dingin,bibirnya pun pucat.
Beberapa Ibu-ibu mencoba menyadarkan Mutdah dengan cara mengoleskan minyak angin kehidungnya.
Mendengar teriakan dari dalam Pak Ustad sempat terkecoh hingga Warsinah pun menghilang sebelum sempat beliau sempurnakan jiwanya.
__ADS_1
Pak Ustad lantas menghela nafas dalam setelah melihat keadaan Mutdah.
"Sukmanya dibawa oleh mahluk itu Pak Haji,kita harus segera mendatangi dan memusnahkan tempat itu,agar tidak banyak lagi yang tersesat olehnya dan menjadi sumber kekuatan baru baginya."
"Baiklah,kita tunggu pagi baru kita ke sana,ajak warga dan aparat desa juga,karna itu adalah tempat untuk umum jadi kita tidak bisa sembarangan bertindak."
"Untuk saat ini sebaiknya kita terus berdoa dan perbanyak tadarus di rumah ini,hanya itu yang bisa kita lakukan."
"Begitu bukan Pak Ustadz?"terang Pak Haji kepada Pak Ustadz dan juga Bapak-bapak yang berada di sana.
Matahari mulai bersinar,terasa hangat menyentuh kulit,beberapa orang warga mendatangi Kantor Desa Mbacem meminta surat izin untuk melakukan penebangan pohon yang selama ini dijadikan tempat pemujaan dan sudah pasti meresahkan masyarakat.
Pak Ustadz bersama Pak Haji dan beberapa aparat desa serta warga dari dua desa itu berada di depan pohon beringin yang sekian puluh tahun lamanya tetap setinggi itu dan serimbun itu,bahkan semakin rimbun.
Telihat banyak sesaji dan sisa-sisa dupa di bawah pohon itu.
Pak Ustad memimpin doa,dan seperti sebuah kolaborasi saat itu pula lah Pak Haji kembali fokus pada tasbihnya.
Tukang potong sudah menyalakan mesin gergajinya,ranting demi ranting mulai dari yang paling bawah sudah terpotong.
Salah satu tukang potong memanjat naik kedahan yang berada dibagian atas berniat ingin menebang terlebih dahulu karna takut mengenai pohon lain sehingga banyak tanaman yang rusak jika langsung dipotong dari batang.
Saat memanjat si tukang potong tiba-tiba melompat turun,nafasnya tersengal,dia berkata jika ia merasa ada yang menarik kakinya hingga hampir terjatuh.
Pak Ustadz lantas mendekat,dibacanya bacaan rukiyah,kemudian di siramnya batang pohon itu menggunakan rendaman daun bidara.
Pak Ustadz meminta si tukang potong untuk mencoba sekali lagi,dan dengan sedikit was-was si tukang potong pun naik kembali ke atas pohon.
Ranting pohon telah bersih,kini hanya tampak sebatang pohon beringin dengan daun yang hanya tinggal di pucuknya saja.
Senso kembali dinyalakan,pohon beringin yang tidak terlalu tinggi tapi sangat besar,hingga ketika tangan tiga orang pria dewasa direntangkan pun tak akan cukup untuk mengukur lingkarannya,pohon itu sudah siap di robohkan.
Dengan di iringi doa akhirnya pusat kemusrikan itu telah rubuh,kini semua laki-laki ikut serta memotong rantingnya kecil-kecil untuk dijadikan satu lalu dibakar.
Api terlihat sangat besar membakar tumpukan pohon beringin itu,bagai api neraka yang membakar dosa tanpa ampun.
Pak Ustadz,Pak Haji,dan yang lainya mengucap hamdalah saat api telah padam dan tumpukan batang dan ranting pohon beringin itu sudah lenyap jadi abu,hanya meninggalkan bagian-bagian batang yang besar itu pun sudah berubah jadi arang.
Di rumah tampak Mutdah menggeliat kepanasan,demikian juga seorang lelaki yang sudah cukup umur dan biasa menjadi kuncen dari pohon itu,ia tampak kepanasan,matanya melotot,kejang-kejang,hingga berhembuslah nafas terakhirnya dalam keadaan masih sebagai penyembah setan.
Orang yang biasa dipanggil Ki Dukun itu mati bersamaan musnahnya jin penunggu Mata air sembilan sumber itu yang selama ini ia sembah.
__ADS_1