
Dua tahun berlalu,Sugeng semakin sukses dengan usahanya.
Tak hanya dalam bidang jual beli singkong,entah di lapak atau pun di kebun.
Sugeng bahkan kini mulai merambah bisnis lain,ia menjadi pemborong beras dan sayuran juga.
Namun tak seperti padi yang bila mana semakin berisi semakin menunduk.
Sugeng malah sebaliknya,semakin kaya ia semakin congkak dan semena-mena pada orang lain dan bahkan pada Istrinya.
Sugeng juga dikabarkan punya banyak simpanan,ia telah bermain serong karna keadaan Mutdah Istrinya semakin hari semakin membuatnya muak.
Mutdah memang menjadi wanita terkaya di kampungnya,tapi justru semakin kaya semakin ia tak bahagia.
Hidungnya yang mbeler hingga bertahun-tahun selalu menjadi gunjingan,dan hal itu juga sangat mengganggu aktifitasnya.
Mutdah selalunya tak bisa tidur,tak lebih dari tiga sampai empat jam saja ia bisa tertidur setiap harinya.
Mutdah juga tak bisa merasakan nikmatnya makanan,karna pilek yang di deritanya sangat mengganggu saat ia makan.
Kurang tidur dan asupan makanan bergizi membuat tubuh Mudtdah menjadi semakin kurus kering.
Bahkan Sugen Suaminya sudah hampir setahun ini tak mau menyentuhnya.
Sering sekali Mutdah merasa sakit hati atas sikap Suaminya yang kadang terang-terangan bilang jijik dan tak berselera pada Mutdah.
Batin Mutdah semakin tertekan karna adanya desas desus jika Sugeng telah diam-diam menikah secara siri di belakangnya.
Suatu ketika Sugeng tengah melihat kebun sayur yang akan dibelinya.
Di samping kebun itu tampaklah seorang lelaki dengan tubuh kekar tengah mengendong anak laki-laki yang usianya sekitar tiga tahunan.
Sugeng mendekat,dan bertanya soal kebun yang tengah ia lihat.
"Oh iya Pak,panggil saja saya Seno."
"Kalau setau saya daerah sini kebunya bagus kok Pak,terlebih buat menanam sayuran."
"Dulu saya juga sering memanen di sini."
Ucap laki-laki yang namanya Seno tadi.
"Oh jadi Adek ini pemborong juga ya?"tanya Sugeng.
__ADS_1
"Iya Pak,usaha warisan keluarga."jawab Seno.
Keduanya berbicara panjang lebar soal usaha mereka,bahkan Seno menawarkan bisnis bersama dengan cara menjadi suplayer sayur ke kota.
Sugeng meneriama tawaran Seno yang ternyata adalah seorang juragan sayur yang sudah cukup lama menekuni dunia bisnis itu,meski Seno sempat berhenti sejenak karna tersandung kasus hukum.
Sugeng dan Seno meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah masing-masing.
Di depan rumah tampak Istri Seno tengah menyiram bunga,beberapa bunga kamboja dan kaktus dengan berbagai warna dan bentuk tertata rapi dalam pot masing-masing dan diletakkan di teras.
Bagus segera merosot turun dari gendongan Ayahnya untuk berlari menemui Ibuknya.
Seno berjalan mendekati anak dan Istrinya yang terlihat tengah bercerita tentang apa yang baru saja ia lakukan bersama sang Ayah.
"Mas..."Sapa Endang Istri Seno saat melihat Suaminya sudah dekat denganya.
Endang sengera meraih tangan suaminya untuk bersalaman dan mengecup punggung tangan Suaminya itu.
Bak simbosis mutualisme,kedua orang itu saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Seno atas persetujuan orang tua Endang akhirnya benar-benar menikahi Endang setelah ia keluar dari penjara karna kasus rekayasa berkas.
Berkas pernikahannya dengan Warsinah,yah pernikahan yang dilakukan oleh Karsin.
Rekayasa berkas,penganiayaan,otak atau dalang pembunuhan berencana,sungguh malang nasibnya,meski tak semua disebabkan oleh kemauannya,tapi tetap saja,toh ia yang melakukannya,nasi sudah menjadi bubur,ia harus tetap bertanggung jawab atas semua perbuatan itu.
Endang Dan Seno Masuk ke rumah,hari sudah menunjukkan pukul satu siang,keduanya kini menikmati makan siang bersama bagaikan keluarga kecil yang bahagia,tanpa diketahui oleh orang lain betapa senyuman mereka hari itu telah mereka bayar mahal di hari lalu.
Sebuah Lapak singkong dan sayur yang berada di emperan warung sembako terlihat sangat ramai pembeli,saking banyaknya ada beberapa orang yang tengah mengantri untuk dilayani.
Warung sembako dan lapak itu adalah milik seorang juragan yang sama,sekali dayung dua pulau terlampaui,mungkin begitulah kiranya hingga semua bahan kebutuhan sehari-hari semua tersedia di situ.
Dari beras,gula hingga sabun mandi ada di warung sembako itu,sedang kebutuhan dapur tersedia di lapak yang terletak di depan Warung.
Terlihat ada seorang anak kecil yang ikut Ibunya berbelanja,ia menunjuk ke arah pagar pembatas jalan dengan lokasi itu.
Anak itu menangis ketakutan,dan terus saja berkata jika ada hantu.
Beberapa orang yang baru saja keluar karna telah selesai berbelanja pun menghampiri sekedar ingin ikut menenangkan si bocah yang terus saja menangis sambil berteriak.
"Hantuu Buukk..kepalanya lobek,ingusnya banyak,ada cakalnya..."
Begitulah ucapan si Anak di sela tangisnya yang masih saja sangat kencang.
__ADS_1
Ibu-ibu yang dekat dengan tempat anak itu meronta segera mengajak Ibu sang Anak untuk menjauh dari tempat itu.
Mereka membawa bocah berusia dua setengah tahun itu ke sebuah warung bakso.
Saat si Anak sudah benar-benar tenang,Ibunya pun mencoba bertanya pada Anaknya.
"Dek,kamu tadi lihat apa kok sampek ketakutan gitu."
Si Anak sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ibunya,tampak Ibunya saling lempar pandang denga tiga Ibu-ibu yang dari tadi setia menemani mereka.
Entah karna empati yang tinggi atau justru karna penasaran,ketiga Ibu-ibu itu seperti senang dan rela saja waktunya terbuang hanya untuk menenangkan si bocah yang jelas saja sudah di temani oleh Ibunya,atau bisa jadi juga ketiga Ibu-ibu itu tengah mencari bahan untuk bergosip.
"Adek tadi lihat pelempuan."
"Selem,hii.."
"Matanya melah,lambutnya kaya sapu."
"Ingusnya banyak jatuh-jatuh,telus tanganya ada cakal..."
"Palanya kena potong,ada lubang..."
"Hiiii..."
"Melotot gini..."
Cerita si Anak dengan bergidik ngeri dan sesekali meniru,seperti mencoba menunjukkan dengan gerakan atas apa yang ia lihat.
"Ya udah,Adek lanjut makan,habis gitu kita pulang,nanti kita beli sayurnya ke warung yang di ujung saja."
Ucap Si Ibu berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ketiga Ibu-ibu itu pun pamit pulang duluan dengan alasan keburu mau masak buat makan malam.
Sungguh aneh,setelah si Anak selesai bercerita ketiga Ibu-ibu tadi langsung pergi,sepertinya mereka memang berkepentingan,mencari bahan untuk gosip,gunjingan bahkan untuk menjatuhkan orang.
Tidak aneh karna memang banyak dari manusia yang hatinya di kuasai oleh iblis,dipenuhi kebencian,iri dan dengki.
Si Ibu dan Anak pergi dari warung bakso itu setelah membayar,tukang bakso tampak menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan pelan,seolah ia tengah membuang sebuah beban.
"Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai,pasti akan tercium jua."
Ucap tukang bakso sebelum akhirnya ia mengambil mangkuk kotor di meja dan dibawanya ke belakang untuk di cuci.
__ADS_1