
"A...pi..."
Sugeng segera berlari menuju pintu keluar tapi entah kenapa seakan pintu itu terkunci.
Ia kemudian berjalan dengan tergopoh menuju gentong plastik warna merah dan bertutup warna putih,Sugeng berniat memadamkan api yang semakin merembet ke mana-mana,
Tampak Api sudah sampai pada atap dapur dan mulai membakar dinding rumah dengan bringasnya.
Korden dan seluruh pernak-pernik telah ludes,Sugeng sendiri kini nafasnya tersengal karna terlalu banyak menghirup asap,sesekali ia bersin dan mengelap cairan yang keluar dari hidungnya.
Sebuah balok besar jatuh dan menimpa kepala Sugeng,terlihat darah muncrat dari puncak kepala Sugeng.
Ia pun tumbang,pandanganya kabur hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Terdengar teriakan warga memanggil nama Sugeng,mereka ingin memastikan Sugeng di dalam sana masih dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.
Mutdah sendiri sudah berada di jalanan samping rumahnya yang memang rumah Mutdah terletak di pojokan pertigaan.
Mutdah berulang kali mengucap istighfar,ia masih terlihat menggunakan mukena sambil kedua tanganya tampak mengangkat bagian bawah mukena itu agar tidak kotor.
"Kang,Kang Sugeng...?"
"Pak tolong Pak,Suamiku masih di dalam kamar,tolong selamatkan dia Pak."
Ucap Mutdah disela tangisnya,ia baru saja ingat jika telah meninggalkan kompor yang tengah menyala.
"Ini salahku Mbak Siti,aku lupa jika tadi sedang menyalakan kompor."tambahnya dalam pelukan Mbak Siti.
"Sabar Mbak Mutdah,kita do'akan saja semoga Kang Sugeng baik-baik saja dan segera bisa di selamatkan."ucap Mbak Siti mencoba menenangkan,meski sejujurnya ia sendiri tak yakin kalau Sugeng masih bisa selamat sedang api sudah melahap seluruh atap Rumah itu.
Tak jauh dari tempat Mutdah berdiri terlihat sosok Kuntilanak Merah itu menyeringai,ia berdiri di atas pucuk pohon rambutan yang berdiri tegak di sebelah kiri pertigaan.
Pandangan Kuntilanak merah itu menatap lurus ke arah Mutdah.
Seperti tersirat kebencian,mungkin karana Mutdah memutuskan untuk tidak mau lagi menjadi penganutnya.
Anggota polisi bersama pemadam kebakaran datang di saat api benar-benar sudah sangat besar.
Si jago merah itu seakan menunjukkan jika rumah Sugeng yang didapat dengan cara haram itu harus benar-benar di musnahkan.
Petugas Damkar sudah berhasil memadamkan api,ada sebagian yang telah masuk mengevakuasi korban ke dalam rumah itu tatkala api baru mulai mengecil.
__ADS_1
Tampak empat orang petugas keluar dengan membawa tandu yang di atasnya tampak Sugeng yang tengah berbaring tak berdaya.
Sugeng mengalami luka bakar serius,darah segar masih saja keluar dari kepalanya menebarkan bau amis dan bau sangit karna pakaian,kulit dan rambut Sugeng ternyata menjadi salah satu sasaran empuk si jago merah.
Sebuah mobil polisi membawa Sugeng menuju rumah sakit di kecamatan itu.
Mutdah jatuh tersungkur setelah mendapati Suaminya tengah dalam keadaan kritis.
Api kini sudah padam,kepolisian memasang garis polisi sekedar sebagai tanda jika tempat itu adalah area rawan bahaya.
Mutdah yang baru saja tersadar dari pingsan pun meminta untuk segera di antar ke rumah sakit tempat suaminya dirawat.
Namun baru saja ia bicara seperti itu pada Mbak Siti,sebuah kalimat yang Mbak Siti ucapkan memaksakan ia untuk jatuh pingsan lagi.
Suaminya telah meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kehabisan darah.
Cobaan berat Mutdah dapatkan saat ia baru saja mencoba kembali pada jalan yang benar.
Jenazah Sugeng dimakamkan di pagi itu juga.
Warga berdatangan untuk takziah,ada yang datang sekedar melayat ada juga yang ikut mengantar hingga ke makam dan bahkan membantu sampai semua rangakaian acara selesai.
Untuk sementara waktupun Mutdah akan tinggal di situ sambil menunggu adik sepupunya yang tinggal di Kalimantan datang untuk menjemputnya.
Para jamaah yasin laki-laki yang diminta oleh Pak Ustad untuk mendoakan Sugeng telah berdatangan.
Mutdah duduk bersandar pada sandaran kursi plastik warna biru,ia menatap lurus ke arah luar pintu dapur.
Tampak sekelebat bayangan,seperti orang berlari atau lebih tepatnya orang yang terburu-buru karana di kejar sesuatu,tapi anehnya tak ada suara langkah kaki.
Mutdah mencoba berfikir positif dengan menganggap jika ia tengah berhalusinasi karna dalam keadaan berduka.
Mutdah kemudian menyibukkan diri dengan cara membantu menyiapkan makanan untuk menjamu para jamaah.
Hari berganti hari,sudah saatnya acara tujuh harian,tampak sepasang Suami Istri dan juga Anak laki-laki yang usianya sekitar tiga tahunan turun dari mobil.
Mereka bertanya pada warga,mencari tau dimana kiranya Istri Sugeng tinggal pasca kebakaran yang menewaskan Sugeng itu.
Guyup rukun dan ramah tamah warga tunjukkan dengan cara menagantar Seno dan Anak serta Istrinya itu ke rumah Mbak Siti yang tengah sibuk memeprsiapkan menu untuk orang mengaji malam nanti.
Ketika di pertigaan Seno berhenti,dia mengerem mendadak mobilnya.
__ADS_1
Dalam pandangan Seno ia melihat seekor kucing hitam tengah menyebrang dan nyaris tertabrak.
Seno keluar dari mobil untuk mengecek apakah benar kucing tadi tertabrak atau tidak.
Tapi ternyata tidak ada sehelai bulu kucing pun di situ,bahkan saat Seno clingak-clinguk mengecek sekitar tak ia dapati seekor kucing pun.
Bulu kuduk Seno meremang,ia teringat akan kata Wandi dan beberapa buruh petiknya dulu,jika Sugeng itu nyupang,Sugeng pemuja Kuntilanak Merah.
Seno segera masuk ke mobilnya kemudian melaju untuk mencari kediamam Mbak Siti.
Sesampainya Seno di rumah itu ternyata sudah ada beberapa warga yang datang membantu untuk menggelar tikar dan lainnya.
Seno mengucap salam kemudian masuk rumah itu seiring munculnya Mbak Siti si pemilik rumah dari dalam dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Seno baru saja duduk ketika Mutdah masuk dari pintu dapur menemuinya di ruang tamu.
Mereka terhanyut dalam cerita kebakaran yang menimpa rumah Mutdah itu.
Bagus Anak endang yang masih berusia dua setengah tahun itu menunjuk ke dapur,dia berkata jika ada Om di sana.
Namun tak nampak seorangpun di tempat itu selain seorang Ibu-ibu yang tengah menyobek daun pisang yang akan di gunakan untuk membungkus uli.
Semua akhirnya saling menatap tanpa bisa berkomentar sepatah kata pun.
Adzan Magrib berkumandang Seno berniat untuk pamit undur diri karna ingin sekalian mampir musola untuk menunaikan kewajibanya sebagai seorang muslim.
Namun keinginan Seno urungkan karna menuruti permintaan Mutdah.
Seno pun akhirnya ikut mengaji tujuh harian atas meninggalnya Sugeng di tempat itu,satu hal janggal tengah Seno rasakan.
Angin bertiup kencang,kejadian yang sama dengan yang pernah terjadi saat ia membuat pengajian untuk mendoakan Warsinah di rumahnya waktu itu.
Pak Ustadz yang memimpin doa pun bangkit dari duduknya,disusul oleh Pak Haji,yang merupakan rekan bisnis Sugeng,orang yang tanaman sayurnya sering di borong oleh Sugeng semasa masih hidup.
Angin bertiup semakin kencang,semerbak bunga kenanga dan mawar khas bau kuburan baru mulai tercium.
Sesosok kuntilanak merah itu tampak mentap lurus pada kedua ulama tersebut.
"Warsinah...?"
Gumam Seno dengan tatapan yang tak dapat di artikan,mengundang rasa cemburu di hati Endang yang melihatnya dari kejauhan.
__ADS_1