Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Ingat Sang Pencipta


__ADS_3

Terdengar kasak kusuk tentang warung dan lapak berhantu.


Berita dari mulut ke mulut itu terdengar semakin panjang dan lebar saat sampai di telinga Mutdah,tentunya itu semua di sebabkan oleh tambahan dan imbuhan dari masing-masing orang.


Mutdah sangat kaget ketika tetangga yang berpihak padanya itu mengatakan.


"Itu warga menang keterlaluan Yu Mut,mosok kamu sama suamimu di sebut-sebut ngipri."


"Katanya orang-orang yang belanja di warung dan lapakmu itu karna terkena sihir atau pelet,ajakan dari dedemit yang kamu puja."


"Dedemit itu kata mereka ada di pojokan pagar depan sebelah kanan."


"Kapan hari katanya ada anak kecil yang lihat."


"Kalau aku sih nggak percaya Yu mut,ya walaupun benar kata mereka,kamu sama Suamimu itu cepet banget kaya,bisa di bilang kaya mendadak gitu loh."


"Ngomong apa sih Yu..."


"Lha emang selama ini kami nyari korban apa,kan nggak to?"


"Kalau memang kami ngipri ya pasti ada tumbal,kan ya nggak terjadi apa-apa?"


Ucaputdah sedikit menasang wajah emosi untuk menutupi rasa kaget dan ketakutan.


Mutdah pamit pulang dan ia segera,ia memberi tahu tentang gosip yang tengah warga bicarakan pada Suaminya.


Sugeng sempat berhenti menyendok karna kaget,tapi sesaat kemudian ia tampak kembali tenang.


Sugeng sudah berangkat pergi untuk mengawasi beberapa buruh yang sedang menanen singkong di kebun.


Di saat Sugeng berhenti di sebuah warung karna kehabisan bahan bakar motor,terlihat si pemilik warung kelontong yang tergolong kecil itu tampak ragu-ragu saat melayani Sugeng.


Bahkan si penjual tidak mencampur uang Sugeng ke dalam slorokan,namun di biarkan begitu saja tergeletak di atas meja.


Sugeng sudah mulai naik motor dan menstarter motornya,namun ia di kejutkan oleh sebuah suara.


"Iya Pak,itu uangnya di panggang aja dulu,takutnya dia sengaja mau menjadikan kita tumbal."

__ADS_1


Meski tak jelas sangat namun suara itu masih bisa Sugen dengar.


Sedikit emosi memang,dan sejujurnya ada rasa takut ketahuan juga dalam hati Sugeng,namun ia sengaja berusaha bersabar agar tidak terpancing emosi.


Jika sampsi ia terpancing dan marah-marah pada orang yang hanya menyindir tanpa menunjuk atau menyebut namanya sama saja dengan ia membenarkan tuduhan mereka yang sebenarnya memanglah sebuah kenyataan,begitulah pikir Sugeng.


Sugeng beranjak dari tempat itu,ia segera berbaur dengan para buruh cabut singkong.


Beberapa bungkus nasi pecel juga Sugrng berikan pada para buruhnya.


Begitulah Sugeng,ia memang sombong,bukan hanya itu ia lebih tepat di sebut Congkak.


Tapi satu kebiasaan Sugeng yang tak pernah bisa ia tinggalkan ialah royal dan sering merasa kasihan pada yang tengah kesusahan.


Itulah yang membuat para buruhnya bertahan dan tetap mau bekerja pada Sugeng meski tengah beredar kabar jika Sugeng adalah pemuja setan demi kekayaan alias ngipri.


Begitulah manusia,banyak sekali perbuatan buruk dan juga pemikiran buruk.


Sugeng berbuat seburuk itu,dan warga menuduhnya melakukan itu sebelum ada bukti,meski terkadang feeling seseorang itu lebih tepaht sasaran,tapi jika menyangkut hidup orang lain harusnya tidak demikian bukan?


"Kata Anak kecil itu ia melihat...."


Begitulah selalunya kalimat yang menjadi pembuka disetiap perkataan dari orang yang tengah bercerita tentang hantu itu.


Di kala Sugeng tengah membaur dengan para buruhnya,di waktu para tetangga asyik dengan cerita mereka yang bermodal katanya itu,di saat itulah Mutdah berada pada titik sesal terdalam nya.


Terlintas pikiran untuk mengakui semua agar ia segera terbebas dari deritanya itu karna sebenarnya ia sudah merasa hanya menjadi alat yang di manfaatkan oleh Suaminya.


Tapi Mutdah merasa belum sanggup untuk menerima imbas dari tindakannya itu nantinya.


Saat dalam kondisi gundah,tampak beberapa orang Ibu-ibu yang lewat.


Sekelompok Ibu-ibu itu sepertinya akan menghadiri suatu majlis karna di lihat dari pakaian mereka yang semua tengah menggunakan busana muslimah.


Terlihat juga sosok yang sangat di segani di kecamatan itu,dialah Bu Hajah dari dukuh Sidorejo.


Istri dari seorang Kiyai pemilik satu-satunya pesantren di kecamatan itu.

__ADS_1


"Yu Mut,ayo ikut pengajian di Karang Asem."ucap dari salah satu Ibu yang mengenakan baju warna hijau dan kerudung putih itu.


"Oh ia Sri,nanti aku tak nyusul,kalian duluan saja masih nunggu kang Sugeng ini."ucap Mutdah.


"Bu Haji mampir dulu Bu..."tambahnya sambil tersenyum pada yang ia panggil Bu Haji itu.


"Iya Mbak Mutdah,lain kali saja ya."


"Terimakasih tawarannya."


"Oh iya,kami tunggu di majlis ya?"


"Mari..."


Ucap Bu Haji itu dengan santun dan tersenyum dengan anggunnya.


Mutdah mengangguk dan juga balas tersenyum.


Senyuman itu memudar kala rombongan Ibu-ibu muslimah itu telah menjauh dari nya.


Metdah seprti tersadar jika apa yang ia lakukan ini sudah terlampau jauh dari jalan sang pencipta.


Sudah sangat lama ia tak melakukan kewajiban menyembah tuhannya,karna itu adalah salah satu syarat yang Nyai Warsi berikan.


Jangankan menyembah,menyebut nama alloh saja mereka tak diperbolehkan.


Mutdah mulai berusaha mengumpulkan keyakinan dan keberanian untuk keluar dari jerat iblis itu,namun....


Saat itu pula sosok Nyai Warsi,si kuntilanak merah kembali muncul.


Seperti yang sebelunya selalu terjadi,kuntilanak merah yang kepalanya menganga dengan darah kehitaman dan nanah di hidung yang terus menetes itu kembali meniup puncak kepala Mutdah.


Seketika rasa sesal itu hilang dan berganti dengan sebuah kepuasan disaat bayangan Mutdah bisa berbalik menghina orang-orang yang dulu menghina dan menyakitinya.


Sebuah senyum yang lebih mirip seringai kembali terukir di bibir Mutdah,hal yang sama pula tengah dilakukan oleh kuntilanak merah itu.


Ia kembali menyeringai sehingga membuatnya tampak sakin menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2