
Sepeninggal Pak Tukiyo,tampaklah pintu rumah Pak Sadeli terbuka.
"Ceklek.."suara pintu yang tengah di buka .
"Mari Den,silahkan masuk...."
Ucap Pak sadeli memprsilahkan.
Seno dan Agham masuk dan duduk,di saat Seno memperkenalkan diri sebagai teman Salim dan menyebutkan jika namanya adalah Seno tampak gurat kebingungan di wajah Pak Sadeli.
"Wah,Aden ini orangnya merendah banget ya ternyata?"kalimat tak terduga itu terucap begitu saja.
Bapak tau kok kalau yang namanya Den Seno itu juragannya Salim.
"Dulu salim sering cerita tentang Aden lo.."
"Tapi itu dulu,pas belum celaka.."
Tampak Pak Sadeli menghela nafas panjang,sepertinya untuk menghilangkan sesak karna kesedihan.
"Oh gitu ya Pak."ucap Seno yang cukup terharu.
"Kalau boleh tahu Kang Salim sekarang di mana ya Pak?"
"Soalnya saya sudah dua kali datang ke rumahnya tapi kosong Pak,terus tadi kata tetangganya dia tinggal di rumah orang tuanya."tanya Seno.
"Salim ada di rumah Mbak Yu nya,dia bantu-bantu Abang Iparnya bikin tomblok di sana Den Seno."
"Maklumlah Den,namanya juga orang pincang,kalu kerja juga mau kerja apa?"
"Kalau nggak kerja ya pasti laparkan?"
"Makanya dia ikut disana bantu-bantu bikin tomblok,sehari di kasih tigapuluh ribu,makan kopi rokok udah ngikut sana."
"Kalau Den Seno mau ketemu sama Salim nanti saya antar Den,sekalian mau nganter tewel(nangka muda),biar di saryur anak saya."
Demikian kalimat yang di ucapkan Bapaknya Salim.
Dan pastinya dengan senang hati Seno menerima tawaran Bapaknya Seno.
Hari sudah beranjak petang,adzan magrib pun berkumandang.
Seno,Agham dan Pak Sadeli pun berangkat menuju rumah Sumirah Kakaknya Salim.
Tak butuh waktu lama Seno pun sampai di rumah Mirah.
Dari kejauhan tampaklah Salim dan seorang lelaki yang tampak lebih tua darinya tengah duduk di teras,tampak juga secangkir kopi pada tangan masing-masing orang.
Seno memarkirkan mobilnya.
Kini kedua orang yang tengah menikmati secangkir kopi itu bangkit dari duduknya untuk menyambut tamu mereka.
Pak sadeli yang tadi duduk di kursi belakang tampak kebingungan membuka pintu,hingga...
"Hehe...."
__ADS_1
"Den Seno,Bapak nggak bisa keluar ini piye to?"
Ucap pak Sadeli sambil berusaha menahan tawa.
Seno akhirnya turun dan membantu Pak Sadeli untuk membuka pintunya dari luar.
"Mari masuk gan?"
Ucap Salim mempersilahkan,sedang Abang Iparnya Salim langsung melangkah masuk setelah bersalaman.
Pak Sadeli pun ikut masuk ke ruang belakang sambil menenteng tewel yang ia bungkus dengan kresek merah.
Tak mau banyak basa basi ,Seno dan Agham pun bicara pada inti masalah hingga mereka datang menemui Salim.
Dalim lantas manggut-mangut tanda mengerti.
Salim menarik nafas panjang sebelum menceritakan apa yang telah terjadi pada Warsinah.
Dari mulai perlakuan keji,menjijikkan,hingga menyakiti fisik dan membuang.
Tampak raut wajah Seno memerah saat tau apa saja yang Karsin dan anak buahnya itu lakukan.
Salim sangat menyesal,dari awal mula sebenarnya ia tak setuju atas semua yang bos nya itu perintahkan,tapi Warso selalu menyudutkan Salim bahkan sesekali Warso mengancamnya.
Selesai berbicara ternyata Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam,Seno pun memutuskan untuk tinggal di situ malam ini.
Tak hanya karna terlalu malam alasan kenapa Seno memilih yidur di rumah itu,tapi ada hal lain.
Sesungguhnya ia sangat sungkan,namun apa mau di kata.
Seno merasa sudah kepalang tanggung,ia jarus segera meluruskan semua permasalahan ini.
Seno menatap nanar langit-langit rumah yang tergolong kecil itu.
Tak sedikitpun ia bisa tidur malam ini,Seno seakan ingin segera mendorong waktu agar cepat pagi.
Seno yang kalut dalam pikiranya tak sadar jika ada sosok berdaster yang tengah menatapnya dari sela-sela tirai jendela.
Pada tirai yang sedikit tersingkap itu tampaklah sosoknya yang tengah menangis kesenggukan.
Tangisan darah dan ingus nanah kembali membanjiri sosok yang menyeramkan itu.
Adzan subuh berkumandang sosoknya pun menghilang meninggalkan bau amis dan anyir.
Seno tersentak kaget,dia terbangun dari tidurnya yang hanya sesaat itu.
Begitu pula Agham,ia ikut terbangun karna kakinya ditendang oleh Seno.
Agham yang memang memiliki kelebihan itu pun lebih peka.
"Dia baru saja dari sini Mas Seno,sabar kita akan segera selesaikan semua ini."
"Sebaiknya mari kita sholat karna sudah subuh."ucap Agham.
Seno hanya mengangguk,ia lantas bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Seno segera membersihkan diri sekedar cuci muka berkumur dan Wudhu.
Kemudian mereka berdua berangkat ke mushola yang letanya tak jauh dari tempat itu.
Di mushola tampak sholat jamaah tengah didirikan dengan begitu khusyuknya.
Seno yang merasa jika ia sudah sangat lama tak penah bersujud menghadap tuhanya itu sangat malu dan sedih.
Di tumpahkanya seluruh rasa di pikiran dan hati dalam doa.
Kini semua jamaah telah pulang,tinggal seorang yang tengah wirid,lelaki yang usianya sudah cukup sepuh,Seno dan juga Agham.
Seno beranjak dari duduknya,ia berdiri di teras berdandarkan tiang mushola.
Mata Seno menatap lurus ke depan,pikiranya sungguh tak karuan.
Di dalam mushola kini terlihat Agham tengah menyalami lelaki tua tadi yang ternyata adalah salah satu teman Bapaknya.
Agham menceritakan keberadaannya di sana karna tengah mengurus kasus yang bersangkutan dengan hal yang tak wajar.
Lelaki tua itu pun paham apa yang Agham maksutkan.
Kedua lelaki beda usia itu akhirnya keluar untuk menemui Seno yang tengah berbicara dengan seseorang.
"Mas Seno."
Panggil Agham,dengan terus melangkah menuju tempat Seno duduk.
"Mas Agham,udah wirid nya?"tanya Seno.
"Udah Mas,oh iya ini kenalin Pak De Joyo."jawab Agham memperkenalkan Mbah Joyo pada Seno.
Seno menoleh dan segera mengulurkan tangan pada Mbah Joyo yang sudah mulai duduk di sampingnya.
"Seno Mbah."ucap Seno.
"Iya,saya Mbah Joyo."ucap Mbah Joyo yang adalah salah satu tetua di kapung itu.
"Jadi,Aden adalah salah satu orang yang bersangkutan dengannya?"
Tanya Mbah Joyo,yang membuat kedua alis Seno bertaut karena bingung.
"Maksutnya Mbah?"
Tanya Seno pada Mbah Joyo.
"Mbah kasihan padanya,dia sempat di kurung oleh seseorang,Mbah harap jangan sampai ia dimanfaatkan oleh kepentingan lain."
"Kalau butuh bantuan,Mbah siap untuk membantu,jangan sungkan."
"Sudah saatnya dia untuk tenang Den."
Ucap Mbah Joyo dengan menepuk pundak Seno sebelum akhirnya beranjak pergi.
Seno masih ternganga menatap kepergian Mbah Joyo.
__ADS_1
Pikirannya sulit menerima hal yang di luar nalar itu.
Tapi Seno sadar jika mungkin ini adalah saatnya ia merendah,karna memang ada beberapa hal yang tak dapat diselesaikan dengan uang.