Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Terkuak 7


__ADS_3

Pagi itu,Seno buru-buru menemui Asiyah,salah satu pekerja di kebun yang bertugas mengawasi buruh petik.


Asiyah juga bertugas mengantar daftar hasil panen kepada Karsin ketika Karsin tidak datang ke kebun.


Bisa dimaklumkan karna memang begitu banyak kebun sayur milik Seno yang seluruhnya ada di bawah pengawasan Karsin.


Seno sampai di rumah Asiyah pada pukul enam dini hari.


Asiyah sungguh sangat heran ada apa gerangan hingga Seno si bos besar datang ke rumahnya di pagi buta itu.


"Gan...monggo masuk,"ucap Asiyah,perempuan yang usianya sekitar tujuh tahun lebih tua dari Seno itu.


Seno hanya mesem tipis,ia kemudian mengekor di belakang Asiyah untuk ikut masuk.


"Silahkan duduk Gan..."ucap Asitah lagi.


"Mbak As panggil Seno sajalah Mbak.."protes Seno.


Asiyah tersenyum,ia tau betul watak Anak juragannya itu,tak ada yang berubah pada diri Seno,ia tetap Adik kecil yang dulu selalu membuntuti Asiyah setiap kali ia ikut Bapaknya yang menjadi Mandor di kebun Ayah Seno.


"Den Seno kok tumben pagi-pagi udah bangun,"tanya Asiyah sambil tersenyum jahil.


"He...mbak As masih ingat saja,kalau aku tukang molor..."Ucap Seno sambil nyengir.


"Kenapa,ada yang penting apa bagaimana?"


Tanya Asiyah dengan tatapan penuh selidik.


Seno yang memang tak bisa berbohong pada Asiyah yang sudah ia Anggap sebagai Kakak sedari kecil itu pun bercerita tentang semua yang ia perbuat dan ia alami.


"Jadi,yang katanya Istri Karsin itu seharusnya Istrimu gitu?"


Asiyah memperjelas maksut dari apa yang ia tangkap atas cerita Seno.


"Ya gitulah Mbak As..."ucap Seno sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

__ADS_1


"Mbak nggak tau banyak,cuma waktu itu..."


Flash back on.*


Asiyah menaiki motor shogun hitam menuju rumah juragannya.


Ia membawa tas samping berwarna putih dan merah bertuliskan nama toko emas langganannya.


Tanpa ragu Asiyah yang sudah sangat dikenal di keluarga Seno itu masuk ke rumah Ayah Seno.


"Juragan putri mau kaburr..."


Suara seseorang yang sepertinya adalah salah satu pelayan di rumah itu.


Warso dan Salim yang tadinya berjaga di samping pintu bale pun segera berlari ke belakang melewati Asiyah yang masih saja berdiri di tengah pintu.


Asiyah yang tadinya berniat untuk masuk pun mengurungkan niatnya.


Asiyah memilih menyerahkan beberapa kuitansi pada salah seorang pelayan yang baru saja masuk ke rumah dengan menenteng beberapa jagung yang masih terbungkus klobot.


"Oh itu Mbak...Istrinya juragan,tapi...."ucap si pelayan terhenti.


"Heh...ngapain di situ,"bentak Warso.


"Cepat masak,sebelum kena marah juragan."imbuhnya.


'Sejak kapan Seno jadi pemarah,terlebih hanya karna makanan.'dalam hati Asiyah bertanya.


Asiyah akhirnya pulang.


Seminggu setelahnya,Asiyah yang tengah duduk menikmati makan siangnya di samping gubuk di pinggir sungai irigasi sawah dikejutkan oleh datangnya Warso dan Salim.


"Iya bos,semua sudah beres."


Ucap Warso dalam panggilan telpon.

__ADS_1


"Iya,kami di kebun terong bos,baik saya tunggu."ucapnya lagi kemudian menutup telpon.


Sementara Salim yang tengah sibuk mencuci terpal penutup sayur yang berlumur darah di sungai.


Aliran air yang mengalir dari tempat Salim terlihat merah,bahkan ada beberapa gumpalan darah yang tampak mengambang.


Asiyah kaget,belum juga degub jantung Asiyah kembali normal,ia kembali dikagetkan oleh kedatangan Karsin.


Tak hanya itu,Asiyah juga dibuat heran oleh ketiga pria itu.Karna di situ tampak Karsin memberi uang pada Warso dan salim,masing masing tiga gepit warna merah.


Asiyah merasa telah terjadi sesuatu yang aneh,tapi ia tak berani berbicara atau pun menegur,ia lebih memilih jalan aman dengan cara diam.


Flash back off.


"Cuma itu yang Mbak tau."


Selebihnya Mbak nggak ngerti Seno,sepertinya kamu harus cari tau lewat Salim.


Hanya dia kuncinya,karna Warso sudah meninggal.


"Iya Mbak As."


"Lagian aku juga kesini karna memikirkan pertanyaan Mbak As pas lagi berkunjung ke rumah Salim waktu itu."


"Tak fikir Mbak As udah tahu masalah Warsinah."


Ucap Seno pada Asiyah,ia kemudian pamit untuk pulang.


Seno berpesan pada Asiyah untuk merahasiakan semua yang ia tahu termasuk kedatangan Seno dari Karsin dan semua pekerjanya.


Tentu saja,Asiyah langsung setuju,ia merasa kasihan pada Seno yang sudah ia anggap sebagai Adik laki-lakinya itu.


Seno pun pulang,ia melajukan mobilnya tak tentu arah,Seno bingung harus berbuat apa.


Tapi satu hal yang sangat Seno ingin lakukan,dan itu adalah menemukan Warsinah.

__ADS_1


Hidup atau pun mati,dan jika Warsinah benar telah tiada,maka Seno harus menuntut keadilan bagi Warsinah untuk menebus seluruh kesalahan Seno padanya.


__ADS_2