
"Mas Seno...."
Seno menoleh pada sumber suara yang tengah memanggil namanya.
Sosok cantik dengan baju putih bersih,ia duduk di ayunan di sebuah taman.
"Mas,aku tidak bisa masuk ke pintu itu,tunjuk sang perempuan masih dengan suara lembutnya."
"Taman ini begitu indah,bunga bermekaran dan aroma wangi sangat menenangkan."
"Tapi tak mengurangi keinginannku untuk tetap bisa masuk ke sana."
"Jika namamu sudah terikat dengan syurgaku,maka hanya keikhlasanmulah yang aku tunggu."
"Ikrarkan janjimu itu Mas,agar aku benar-benar menjadi tanggung jawabmu saat di dunia atau pun di sini kelak."
"Aku menunggumu di sini Mas..."
Seno kemudian merasa seperti terjatuh dari ketinggian.
Dan benar saja ternyata ia terjatuh dari ranjangnya.
"Ikhlas...ikrar....apakah maksut dari semua itu?"
"Dan permpuan itu mirip Warsinah,tapi ia sangat cantik dan lembut ?"
Seno duduk bersandarkan ranjang dengan kaki di tekuk.
Ia sangat bingung.
Apakah karna nama Senopati suryo wiloko bin Adi cipto wiloko yang nenikah dengan Warsinah binti Katsubi dan bukan nama Karsin.
Apakan jika yang menerima dan mengucap janji Karsin,maka pernikahanku tetap sah karna menggunakan namaku.
Begitulah salah satunya pertanyaan yang ada dalam pikiran Seno.
Dia sangat bingung,bingung harus bertanya pada siapa.
Seno masih saja terdiam dalam lamunannya.
Sungguh bingung rasa hati Seno,hingga keluar kamar pun enggan.
Sosok Warsinah dalam mimpinya terlihat sangat anggun.
Sangat sulit bagi seno mengakui debaran hati yang disertai rasa perih.
"Andai waktu bisa ku ulang kembali,akan ku pastikan hanya kamu satu-satunya istriku...."
Kalimat itu akhirnya terucap,sesal dan pengakuan.
"Biarlah ku anggap Karsin mewakiliku."
"Biarlah jika orang berkata kala pikiranku ini salah."
"Bukankah di jawa ada yang namanya pengantin jagal."
"Warsinah Istriku,akulah Suaminya bukan Karsin,"ucapnya dalam tangis.
Seno keluar dari kamarnya,ia kemudian duduk di kursi belakang dapur.
Di pandanginya kebun sayur yang luas itu.
__ADS_1
Kebun yang terlihat tanaman hijau berjajar rapi.
Aneka sayuran yang di tanam dengan sistem tumpang sari sangat menentramkan hati saat di pandang.
Bunyi pohon bambu yang di terpa angin membuat bulu kuduk Seno meremang.
Ia segera masuk dapur,entah kenapa Seno tiba-tiba merinding.
Langit surup yang kebetulan juga mendung menambah nuansa seram saat di luar.
Seno duduk di tempat makan.
Ia minta Mbok Rum untuk membuatkanya secangkir teh manis panas.
Seno menyesap teh panas itu,dan saat ia mendongakkan wajahnya tak sengaja ia melihat seseorang tengah lewat di depan jendela.
Seno mengeryitkan dahinya,ia seakan berpikir siapa kiranya orang yang berada di sekitar rumahnya.
Sosok tadi terlihat tak asing.
Sekian detik Seno berfikir siapakah kiranya perempuan tadi,hingga...
"Warsinah..."
Seno berteriak kemudian berlari keluar rumah.
Mbok Rum yang tengah mencuci piring di dapur sampai terlonjak kaget.
Sedang Amin yang tengah menggosok bajupun tak kalah kaget.
"Den Seno..."
Seno sudah berada di teras,ia tengah memakai sendal japitnya agar bisa turun ke halaman depan,kemudian berputar ke samping menuju jendela samping,dimana posisi yang dikiranya Warsinah tadi berada.
"Den Seno..."
Sekali lagi Amin memanggil Seno tapi lagi-lagi tak dapat sahutan.
Seno sudah berada di samping jendela,ia tampak melihat-lihat sekitar.
Amin yang masih memakai sendal terpaksa mengurungkan niatnya karna Karsin yang menyuruh.
Karsin yang melihat Seno seperti tengah mencari sesuatu lantas bertanya.
"Nyari apa sih gan..."
"Oh,nggak apa Kang,cuma tadi kayak ada orang,takutnya maling."
Jawab Seno sembari melangkah kembali ke teras.
Karsin mengikut di belakang Seno,ia terlihat bingung,hal itu bisa dibaca dari kerutan yang tampak di jidatnya yang menandakan jika ia tengah berfikir.
Seno masuk ke rumah,di sana tampak Mbok Rum tengah menyajikan hidangan makan malam.
"Den,lain kali itu kalau lagi ada masalah jangan ngelamun sendirian,apalagi pas waktu magrib."tutur Mbok Rum sambil meletakkan sepiring terong balado.
"Itu tadi terong yang Aden tanam di samping rumah yang pake koli beg itu loh."
"Mbok awalnya nggak mau masak terong soalnya udah bikin capcay,sama orek tempe,sama ayam bakar,terus pepes ikan salem."
"Tapi...."ucap Mbok Rum menggantung.
__ADS_1
"Tapi kenapa Mbok?"tanya Seno.
"Iya,ada apa Mbok?"tanya Karsin yang kebetulan baru saja masuk rumah.
"Itu loh Den Seno,Nak Karsin,tadi itu Mbok lagi mbuang kulit jagung,terus Mbok lihat ada seseorang sedang jongkok menghadap pohon terong ini."
"Mbok mau datengin,lah terus si Amin manggil katanya nggak bisa mbungkus pepesnya."
"Mbok menoleh ke Amin sebentar terus balik lagi lihat si perempuan tadi tapi wes ndak ada orangnya."
"Anehnya itu,pas Mbok deketin tempat orang tadi nggak ada bekas apapun."
"Cuma ada tiga buah terong yang ukurannya paling besar,yah bisa dibilang siap panenlah Den,itu sudah pada layu di pohon."
"Ya ini tadi terongnya terus Mbok balado."
"Mbok kok jadi bingung,Mbok ini udah tua,tapi kalau untuk melihat jarak yang nggak seberapa jauh saja,mata Mbok ini masih jeli loh..."
"Em...ciri-cirinya gimana ya Mbok..."tanya Seno.
"Ya nggak jelas Den."
"Cuma tadi sih pakek daster putih,kayaknya selutut."
"Soalnya tadi Mbok sempet lihat kakinya."
"Kakinya napak ke tanah apa enggak Mbok?"sela Amin ikut bertanya.
"Ya nggak tahu lah Min kalau itu nggak jelas Aku tadi.."
Karsin di tempatnya hanya diam mendengarkan.
Terlihat gurat kekhawatiran pada sorot matanya saat tak sengaja bertatap pandang dengan Seno.
"Ya berarti yang tadi Seno lihat Mbok,cirinya hampir sama kok,baju putih."
"Cuma tadi Seno lihat dia jalan ke belakang,di jendela itu."
Ucap Seno,ia menunjuk jendela,tapi matanya menatap ke arah Karsin.
Seno ingin tahu reaksi Karsin saat mendengar apa yang ia ucapkan.
Dan benar saja,sekian detik setelah Karsin melihat ke arah yang Seno tunjuk,Karsin pun bangkit dari tempat duduknya menuju kamar.
Karsin kembali keluar,dia tampak mengancingkan pengait ikat pinggangnya.
Seno mengulas Senyum.
Senyuman Seno terlihat seperti seringai yang menyeramkan.
Seno menatap benci pada Karsin,kini ia tengah memegang sendok garpu.
Ditusuknya daging ayam bakar yang sudah tersedia di piringnya.
Dari cara ia memotong daging itu terlihat betapa ia sedang berusaha menahan amarah.
Karsin yang melirik gerak gerik Seno seketika ketakutan.
Nyalinya menciut,ia yang biasanya garang terhadap para pekerja kini tampak pucat,bahkan sesekali ia salah saat menyendok karna tangan dan kakinya bergetar.
Seulas senyum kembali terukir di wajah Seno...
__ADS_1