
Karsin beranjak keluar rumah,kemudian menstatrter mobil dengan terburu.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB.
Karsin berhenti di rumah seseorang ahli spiritual.
"Jadi Abah sudah nggak ada Mas Unli?"
Pertanyaan Karsin hanya dijawab anggukan dan seulas senyum oleh lelaki yang bernama Unli tersebut.
Karsin menghela nafas panjang.
Bagaimana tidak,dalam keadaan seperti ini,hanya Abah Zhul yang biasa di andalkan olehnya.
Tapi apa mau dikata jika ternyata beliau telah tiada.
Jodoh,rezeki,dan maut memang hanya miliknya.
Sepandai apapun kita manusia tak akan mampu untuk tau itu.
Karsin akhirnya pamit undur diri,ia berangkat menuju rumah kerabatnya,tanpa perduli jika hari sudah beranjak malam.
Saudara yang katanya adalah seorang ahli spiritual juga,bisa dibilang hampir sama dengan Abah Zul...
Dukunkah,atau apa?
Karsin tak mau tau tentang itu,yang ia tau hanya bagaimana caranya ia lepas dari teror hantu perempuan yang selama ini selalu mengejarnya kemanapun ia pergi.
Jarak menuju rumah saudara Karsin cukup jauh,bahkan bisa dibilang ia harus keluar kota,karna rumahnya sudah masuk ke wilayah pinggiran kota sebelah.
Di sebuah pertigaan Karsin sedikit menghindari seorang perempuan yang berjalan sebelum ia berbelok,dan tanpa Karsin ketahui sebuah motor juga tengah berbelok dari arah berlawanan.
Karsin membanting setir ke kanan dan segera menginjak pedal remnya.
Namun sayangnya,semua tak sesuai prediksi Karsin,ketika ia berusaha menginjak rem tak sengaja ia malah menginjak pedal gas,hingga mobil cerry bak belakang itu menabrak pohon.
Si pengendara motor yang masih selamat dari hal naas itu segera berlari ke arah mobil Karsin yang bagian depannya sudah ringsek.
Dengan langkah kaki yang sedikit pincang sang pengendara motor itu berusaha membuka pintu mobil Karsin.
Pintu mobil terbuka dan Karsinpun berhasil ditarik keluar.
Saat bersamaan sebuah truk yang memuat kayu tengah lewat.
Tanpa menunggu lama,sang pengendara motorpun langsung berteriak minta tolong sambil terus melambaikan tangannya dengan berdiri di sisi jalan.
Sopir truk kini ikut serta menolong Karsin dan si pengendara motor,sopir truk yang ternyata adalah orang setempatpun meminta bantuan pada beberapa warga lain dengan cara menelpon.
Sekitar lima belas menit setelah sopir truk tadi menelpon seseorang.
Kini tampaklah empat sepeda motor yang masing-masing motor dinaiki dua orang yang saling berboncengan.
Karsin dilarikan ke sebuah klinik di desa berikutnya dengan menggunakan ambulance dari desa tersebut,karna desa yang jaraknya paling dekat dengan lokasi kecelakaan yang dialami karsin tidak memiliki fasilitas kesehatan,maklum tempat itu adalah perkanpungan yang berada di pinggiran kota.
Semua warga telah pergi,tinggal beberapa saksi yang dimintai keterangan polisilah yang masih berada di sana.
__ADS_1
Begitu pula sang pengendara motor yang hampir saja ditabrak oleh Karsin.
Beberapa petugas kepolisian tengah melacak tempat sekitar kejadian.
Hingga sampai saatnya salah seorang polisi yang ternyata punya ilmu kebatinan menoleh ke sebuah pohon.
Pohon yang letaknya tak jauh dari pohon yang dihantam oleh mobil Karsin.
Di sana tampaklah sosok berbaju merah menatap bengis dengan mata merahnya.
Polisi yang memakai jaket kulit warna hitam itu hanya tersenyum.
Sosok itupun menghilang entah kemana.
Di tempat lain.
"Ya benar saya sendiri."
"Oh baik,saya segera ke sana."
Seno yang baru saja terlelap terpaksa harus bangun karna mendengar panggilan telepon yang ternyata dari kantor polisi yang mengabarkan tentang adanya laka lantas.
Kecelakaan tunggal sebuah mobil bak dengan nomor polisi yang teratas namakan nama Seno.
Seno bergegas berangkat ke rumah sakit sesuai arahan dari pihak kepolisian.
Sesampainya di sana,Seno segera menuju ke ruangan Karsin sesuai info dari polisi jika Karsin masih berada di UGD.
Seno tengah berjalan di salah satu lorong rumah sakit di mana itulah satu-satunya jalur menuju ke UGD.
Tak ada sesiapapun di sana.
Hanya sesekali tampak suster yang tengah mendorong brangkar.
Terkadang pula tampak suster tengah mendorong kursi roda yang kosong.
Untuk sesaat Seno merasa seperti berada di sebuah tempat yang asing baginya.
Rasa asing dan aneh sungguh membuat Seno merasa penasaran.
Sampailah saat itu Seno menoleh pada ruangan yang bertuliskan.
"Kamar Jenazah"
Seno berhenti di tempat,ia tercekat atas apa yang kini tengah di lihatnya.
Pintu Ruang jenazah di buka oleh seorang perawat laki-laki.
Tak berselang lama datanglah sebuah brangkar yang di atasnya berbaring pasien yang sepertinya telah meninggal karna selimut putih khas rumah sakit itu menutup sekujur tubuh pasien dari kepala hingga kaki.
Beberapa suster begitu cekatan mendorong brangkar masuk ke ruang jenazah melewati Seno begitu saja.
Berikutnya mereka tampak memindah jenazah ke ranjang yang sudah tersedia di ruangan itu.
Seno tersentak kaget,saat salah satu suster itu menoleh padanya dan tersenyum yang nampak seperti seringai.
__ADS_1
"Warsinah...?"
Ucap Seno kaget.
"Pak...apa yang anda lakukan di sini?"
Ucap seorang Suster yang usianya sekitar 25 tahunan,suster itu lantas menepuk pelan pundak Seno,karna Seno masih saja terbengong menghadap ke ruang jenazah yang pintunya tertutup rapat itu.
"Em...suster..."ucap Seno gagap.
"Iya,ada yang bisa saya bantu Pak?"
Jawab sang suster.
Seno akhirnya menceritakan semua yang di alami olehnya.
Sang suster tak lagi bertanya macam-macam,seolah yang Seno alami bukanlah hal yang aneh baginya.
Sang suster lantas mengantar Seno ke ruang UGD,sesuai dengan yang Seno ceritakan jika tujuan utamanya adalah ruangan itu,ruangan yang letaknya telah terlewat begitu jauh.
Saat sampai di depan UGD,sang suster pamit untuk melanjutkan tugasnya.
Seno mengucap terima kasih kemudian melangkah menuju tempat tunggu yang mana di sana tengah duduk dua orang anggota kepolisian.
"Selamat malam Pak."ucap Seno pada dua polisi tersebut.
"Malam."Jawab dua polisi tersebut dengan ramah.
"Saya Seno."
Ucap Seno memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berslaman.
Polisi tersebut menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa Karsin.
Satu dari polisi itu mengatakan jika kejadian itu bukan murni kesalahan Karsin,namun karena ada yang menginginkan.
Polisi itu mengatakan jika ia di situ tidak hanya sebagai seorang polisi,tetapi juga sebagai sepiritiual.
Polisi tersebut juga mengatakan jika sebaiknya Seno segera mencari solusi agar tidak semakin banyak korban yang akan berjatuhan.
Beliau meyakinkan jika hanya Seno lah yang bisa menyelesaikan semua masalah itu.
Polisi tersebut akhirnya pamit pulang,setelah memastikan jika telah ada anggota keluarga yang menemani Karsin.
Dokter keluar dan memberikan kabar duka.
Karsin mengalami patah tulang pinggul dan remuk di bagian persendian tumit kanannya.
Hal itu mengharuskan dokter untuk melakukan amputasi.
Seno menghela nafas berat.
Terbayang kembali wajah Warsinah serta senyumnya yang nampak seperti seringai...
Sungguh itu sangat menakutkan.
__ADS_1