
Seno duduk di sisi makam yang di nisannya tertera nama "hamba alloh".
Seno menunduk tanpa kata,sementara yang lainnya tengah mendoakan sang ahli kubur.
Tak jauh dari tempat mereka duduk,tampaklah sosok Warsinah berdiri mengambang dengan mata yang terus menatap pada Seno.
Agham tampak menghubungi seseorang dan tak lama setelah itu,datanglah dua anggota kepolisian.
Mereka memberi hormat pada Agham demikian juga sebaliknya.
Ketiga orang yang semuanya adalah anggota kepolisian itu terlibat pembicaraan serius berkenaan kasus yang mereka tangani.
Sejam berlalu,kembali datang dua orang dengan mengendarai mobil bak,mereka menurunkan dua nisan dengan nama Warsinah Binti Katsubi,dan juga tanggal lahir serta tanggal meninggalnya Warsinah.
Satu hak Warsinah telah didapatnya yaitu dimakamkan di peristirahatan yang layak dengan tenang.
Seno akhirnya pulang kerumah setelah mengantar Agham dan Salim pulang terlebih dahulu.
Seno beranjak ke dapur mencari Mbok Rum dan Amin.
Ia meminta Mbok Rum menyiapkan keperluan untuk pengajian.
Seno menyerahkan lima lembar uang warna merah bergambar mawar.
Si Mbok dan Amin pun segera berangkat ke warung nasi.
Mereka memesan nasi kotak tiga puluh dan meminta untuk segera di antar.
Seno sudah selesai mandi,digelarnya tikar di ruang tamu rumah itu.
Seno segera pergi ke mushola dekat rumahnya untuk memberi tau Pak Ustadz agar nanti meminta jamaah untuk ikut mengaji di rumahnya setelah selesai sholat Magrib.
Adzan magrib berkumandang,setengah jam setelahnya tampaklah satu demi satu jamaah yasin laki-laki yang mayoritas adalah tetangga Seno telah berdatangan.
Pak Ustadz pun datang,ayat-ayat al qur'an terlantun dengan khusyuk,terdengar sangat merdu dan menentramkan.
__ADS_1
Hingga saatnya surat yasin di khususkan untuk almarhumah Warsinah.
Seketika angin kencang bertiup,jendela rumah Seno tertutup kasar dengan sendirinya.
Pak Ustadz berhenti membaca surohnya,tampak beliau menghela nafas,kemudian bangkit dari duduknya.
Jamaah yang penasaran pun ikut membuntuti di belakang sang Ustad.
Hingga sampailah mereka di depan pagar rumah Seno.
Tampak Pak Ustadz tengah berdiri di pinggir jalan menghadap sesosok kuntilanak merah.
Sosok itu tampak bengis,dengan tatapan penuh dendam,tampak pula retakan di kepalanya,dan juga nanah yang terus mengalir di hidungnya.
Bau amis seketika menyeruak,orang-orang yang tadinya ternganga melihat sosok itu langsung menutup hidung mereka,bahkan ada di antara mereka yang sampai muntah hingga berlari menjauh.
Namun ada pula beberapa yang mungkin memang kuat imanya masih saja berdiri dengan terus melantunkan doa.
Sosok itu kian mendekat ke arah Pak Ustadz,hingga jarak hanya tinggal sekitar tujuh meter.
"Dengan menyebut nama Alloh aku perintahkan kamu untuk meninggalkan tempat ini,karna di sini bukan tempat mu."ucap Pak Ustadz dengan lantang dan mantap,seolah tak tergambar rasa takut sedikitpun.
"Segera tinggalkan tempat ini atau akan aku paksa."ucapnya lagi.
Sosok itu tampak melayang sedikit lebih tinggi,angin kembali riuh,Pak Ustadz telah siaga dengan tasbih ditanganya,namun tepat di saat itu tampaklah Seno keluar dari rumah dan segera berlari menuju gerbang.
"Warsinah....hentikan semua ini !"teriak Seno dengan tegas.
Warsinah kuntilanak yang tadinya sudah mulai menyerang itu pun kembali turun pada posisi semula.
"Warsi...ini semua salah ku,tolong maafkan aku,aku menyesal..."
"Maaf telah menyakitimu,bahkan menjebakmu masuk ke dalam kehidupan yang sangat pahit."
"Jangan libatkan orang lain lagi,cukup Warsinah,ini semua salahku."
__ADS_1
"Warso bahkan sudah mati,Salim pun kini sudah pincang,dah Kang Karsin kehilangan satu kaki."
"Mereka sudah menerima balasan Warsinah,hentikan semua ini,lupakan dendammu."
"Kembalilah ke tempatmu,dan tenanglah di sana."
Ucap Seno dengan berurai air mata,bahkan Seno terduduk menunduk di tanah.
Warsinah tampak tenang di tempatnya,aura merah menyala yang menyelimuti tubuhnya pun memudar.
Kini hanya menampakkan Sosok kuntilanak dengan baju kumal dan tubuh transparan.
Saat itu kondisi kembali tenang,namun tak berselang lama,angin kembali bertiup dengan kencang.
Terlihat sosok tinggi besar berwarna hitam menarik Warsinah kemudian menghilang.
Hari berganti hari,semenjak kejadian itu,tak lagi ada penampakan hantu Warsinah.
Seno meminta Karsin bertanggung jawab pada Endang,tapi Karsin bersikap acuh.
Hingga sebuah keputusan besar Seno ambil,ia menikahi Endang secara agama.
Pernikahan dengan satu nama yang sama namun dilakukan oleh orang yang berbeda itu terjadi dengan kesepakatan serta persetujuan dari kedua belah pihak.
Seno tak mau kasus Warsinah terjadi lagi.
Tak mau ada lagi korban,Seno benar-benar takut,bahkan ia trauma dan sempat ke psikiater.
Di tempat lain,lebih tepatnya di bawah pohon beringin di pinggiran mata air nampak seorang lelaki memakai baju hitam dan kepalanya di belit udeng.
Lelaki tersebut duduk bersila menghadap sebuah genteng tanah yang di atasnya terdapat arang yang asapnya berbau kemenyan.
Beberapa dupa juga tertancap di sekitarnya.
Tampak juga seorang lelaki dan perempuan duduk di belakang lelaki tersebut.
__ADS_1
Di atas pohon beringin berdiri sosok hantu perempuan berbaju merah dengan kedua tangan yang kukunya sangat panjang tengah menyeringai menatap mereka.