
Matahari tampak malu-malu tertutup awan di pagi itu...
Sedikit gerimis menambah dinginnya udara pagi pedesaan.
Terlihat beberapa Ibu-ibu bergerombol berangkat bekerja sebagai buruh di sawah.
Mereka terlihat mengenakan caping karena rintik hujan sudah berganti dengan butiran-butiran air yang sedikit lebih besar.
"Wah,kok badan ku kayak meriang ya Yu."
Ucap mereka ketika berjalan di dekat pertigaan.
"Kalau aku bukannya meriang Yu,tapi merinding tiap lewat sini."
"Itu kan rumah yang dua minggu lalu kebakaran karena yang punya itu ternyata nyupang."sahut yang lainya.
"Oh iya Yu,kata Tukijem di rumah itu sering ada suara orang tertawa."
"Bisa jadi yang punya rumah itu jadi hantu setelah mati terbakar."sahut seorang Ibu lagi yang berperawakan kurus pendek dan hitam.
"Bisa jadi sih ya..."jawab Ibu yang paling gendut,serempak mereka semua mengiyakan dengan cara mengangguk.
Mereka berbicara panjang sepanjang jalan yang mereka lewati menuju sawah itu.
Asyik menghibahkan orang yang telah mati,tanpa mereka sadari ada sosok dengan mata merah dan kepala retak berlumur darah memperhatikan mereka dari tempatnya.
"Oh jadi tanah bekas rumah itu mau dijual ya Kang?"tanya Seno sambil meminum kopi hitam yang sudah tidak begitu panas itu.
"Ia Den Seno,kayaknya Istrinya trauma jadi udah nggak mau di situ lagi,dia ikut Sepupunya ke Kalimantan."
"Sebenarnya Pemerintah juga sudah memberi solusi dengan memberi bantuan lewat program bedah rumah,tapi Mbak Mutdah lebih memilih pergi dari sini,dia takut kalau hidup sendirian katanya."sahut lelaki yang ternyata Menantu dari tetangganya Mutdah itu.
"Terus kalau mau di jual,itu kita belinya ke siapa ya Kang?"tanya Seno.
"Ke Mbak Siti Den Seno,tapi kalau saran saya mending jangan deh,banyak yang sering lihat ada kayak kemamang di situ,penampakan orang gosong matanya merah."
"Terkadang juga ada yang tertawa tengah malam."
"Semenjak kejadian kebakaran itu pertigaan itu jadi angker Den."
"Tapi kalau Den Seno berani ya nggak apa,kami kan cuma sekedar mengingatkan."
"Iya Den,betul itu."
Jawab Para buruh petik Seno saling bersahutan sesuai dengan pemikiran masing-masing.
Seno sendiri paham akan ketakutan para pekerjanya,tapi bagi Seno itu bukanlah satu hal yang perlu dia pentingkan.
__ADS_1
Seno akan tetap membeli lahan itu,ia akan meminta salah satu Tokoh agama yang ia kenal untuk membantunya menyempurnakan jiwa Warsinah yang masih saja gentayangan dan meresahkan masyarakat.
Seno yakin suara tertawa itu pasti suara kuntilanak Warsinah.
Selain jiwa sosial Seno memang tinggi terlebih setelah ia keluar dari jeruji besi karna kesalahannya terhadap Warsinah,Seno juga merasa jika itu adalah tanggung jawabnya.
Adanya Warsinah di tempat itu adalah karena menikah dengannya,dan meninggalnya Warsinah adalah karna akibat dari ide gilanya.
"Seandainya...."kalimat sesal tiada guna yang sering Seno ucapkan.
Seno tersentak kaget saat salah satu buruh pamit ingin mulai memanen brokoli di kebun itu,yah hari ini Seno sedang panen brokoli.
Seno tersenyum,lebih tepatnya ia meringis ia malu karna ketahuan melamun di saat para pekerja tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Siang beranjak sore,Seno sudah hampir sampai di rumah Mba Siti.
Ia sungguh sudah capek dan ingin segera menyelesaikan masalah ini,ia ingin hidup dengan tenang tanpa terus dibayang-bayangi rasa bersalah pada Warsinah.
Hanya dengan sekali mengucap salam tampak sang empunya rumah sudah datang menyambut bersama terdengarnya jawaban salam kemudian terbuka pula pintu rumah itu.
"Waalaikum salam.."
"Loh,Mas Seno...mari,silahkan masuk."
Ucap Mbak Siti mempersilahkan.
"Saya Mas..."jawab Seno menyahut.
Lelaki yang usianya sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Seno itu pun masuk ke ruang tamu melalui pintu dapur.
"Lah,Mas Seno sendirian?"tanya Suami Mbak Siti sambil duduk berhadapan dengan Seno,sedang Mbak Siti sendiri kini tengah berada di dapur menyeduh teh untuk menjamu tamunya itu.
Suami Mbak Siti tampak tengah berbicara serius dengan Seno.
"Kalau Mbak Mutdah sudah pasti setuju Mas Seno."
"Sebenarnya kemarin pas telepon dia juga meminta saya untuk menawarkan tanah itu pada Mas Seno,tapi kan saya nggak tau rumah Mas Seno."
"Makanya ini saya lagi nunggu si Wandi,kata Mertuanya dia kerja sama Mas Seno,cuma Wandi nya juga nggak pulang-pulang."
Terang Suami Mbak Siti,obrolan mereka terjeda sesaat karna terlihat Mbak Siti datang dengan membawa satu nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring sukun goreng juga setoples kerupuk gendar.
Mereka bertiga akhirnya pun kembali terlibat pembicaraan serius dan menghasilkan kesepakatan harga sesuai dengan balasan sms dari Mutdah sang pemilik tanah.
Seno akhirnya pamit pulang dan mengatakan jika ia akan kembali tiga hari lagi bersama seorang Pemuka Agama untuk menyempurnakan jiwa Warsinah.
Seno sebenarnya sudah paham betul mengenai hantu yang menyerupai Warsinah itu.
__ADS_1
Pak Kiyai Ayah dari Gus Zaky telah mengatakan jika sebenarnya itu bukanlah ruh Warsinah yang sesungguhnya,atau yang sering orang bilang sebagai arwah penasaran.
Dia itu hanyalah jin Qori',ia sudah ada semenjak kita lahir,dan setiap manusia pasti punya.
Ruh yang sesungguhnya telah kembali kepada Sang Maha Pencipta.
Sedang Jin itu,dia tugasnya adalah menyampaikan pesan si manusia itu kepada yang masih hidup,bisa di bilang dia gambaran dari apa yang manusia rasa.
Salah satunya yaitu benci dan dendam,itulah sebabnya kenapa kita harus benar-benar pintar mengambil sikap dalam menghadapi hal ini.
Begitulah yang Seno dengar dari sang Kiyai.
Seno sebenarnya ingin tutup mata dan tak mau perduli pada yang orang sebut Hantu Warsinah itu.
Tapi tak bisa Seno pungkiri hatinya sakit saat mendengar dan mengatakan jika itu Warsinah.
Warsinah mantan Istri yang sudah sangat ia sakiti.
Rasa bersalah itu benar-benar menyiksa Seno hingga ia merasa lelah,ia ingin semua ini segera berakhir dan tak lagi ada Hantu Warsinah,dengan begitu ia juga tak perlu lagi tersiksa oleh sakitnya penyesalan.
Tiga hari berlalu dengan begitu cepatnya,seorang Kiyai mengenakan peci biru,hem juga biru dan celana hitam tampak mendatangi sebuah makam di area pemakaman milik salah satu rumah sakit.
Makam yang di khususkan untuk orang-orang yang tidak diketahui identitasnya itu terlihat bersih dan rapi.
Seno berjalan lebih dulu untuk menunjukan disebelah manalah letak makam Warsinah.
Pak Kiyai itu tampak mendoakan Warsinah,ia lantas membaca sesuatu.
Terdengar samar-samar perempuan tengah menagis.
"Pergilah dengan tenang,tinggalkan dunia ini,karna tempatmu yang seharusnya bukan lagi di sini."
Semakin jelas suara tangis itu semakin jelas juga wujut dari pemilik suara itu,dan ternyata ia berada tak jauh dari tempat Warsinah dimakamkan itu,lebih tepatnya sekitar enam meter di depan Seno dan Pak Kiyai.
"Pergilah...."
Ucap Pak kiyai,kemudian beliau menadahkan tangan ke atas dan berdoa,di bacanya tiga surat kulhu dan beberapa ayat al qur'an yang lainya.
Tampak setitik cahaya putih yang semakin silau di belakang Hantu Warsinah.
Seno memejamkan mata kala sinar itu berpedar bagai sorot matahari yang mengenai tepat di retinanya.
Sebelum itu Seno sempat melihat sosok Warsinah dengan daster putih dan rambut panjang itu mulai melayang ke dalam cahaya itu,kemudian.....
"Selamat jalan Warsinah..."
Ucap Seno saat ia membuka mata dan tak lagi bisa dilihatnya sosok Kuntilanak Warsinah yang tadi berdiri mengambang di hadapanya itu.
__ADS_1
Pak Kiyai tampak mengucap handalah,mereka kemudian pulang dengan hati yang sudah tenang.