Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Hikmah Sebuah Kisah


__ADS_3

Tujuh bulan berlalu....


Daerah pedesaan nan asri terlihat indah dengan hamparan sawah yang terbentang luas.


Tampak jajaran petak demi petak padi yang mulai menguning,ada juga yang terlihat masih sangat hijau.


Nikmat mana lagi yang manusia harus dustakan?


Nyatanya Yang Maha Kuasa memanglah begitu baik,itu terbukti dengan sangat sempurnanya apa yang telah diberikan NYA kepada kita.


Tampak Anak kecil tengah berlarian di pinggir jalan.


Beberapa pemuda juga terlihat menggiring kambing di pinggiran lapangan.


Sungguh suguhan alami yang sangat memanjakan mata.


"Buk aku tadi ada teman balu lumahnya jauh dali kota."tutur Bagus.


"Oh ya,lain kali kenalin sama Ibuk dan Ayah ya Gus?"jawab Endang.


"Iya Buk..."


Anak kecil itu tampak kembali fokus pada mainannya.


Sementara sang Ibu telah berlari ke dalam kamar mandi karena merasa selalu mual sejak tiga hari ini.


Seno sang Suami keluar dari mobil dan mendapati Putranya tengah bermain mobil-mobilan seorang diri pun jadi bertanya.


"Ibuk Mana Nak?"


"Ke kamal mandi,Ibuk hoek hoek telus Yah,"


Seno segera menyusul Istrinya itu,


"Ndang...,kamu sakit?"


Pertanyaannya ternyata mengagetkan Endang.


"Nggak tau Mas,Mual terus,apa aku isi ya?"tanya Endang,mau bagaimana pun ini bukan kali pertama ia hamil,dan dapat dirasakannya jika ada yang berbeda dalam tubuhnya.hal yang sama seperti saat awal mula ia hamil pertama.


" Kita periksa saja kalau begitu,sebentar lagi klinik Bu Bidan pasti sudah buka?"terang Seno.


"Ndak usah Mas,bukanya Mas harus nganter pupuk ke kebun,nanti pulangnya tolong belikan alat tes saja di apotek."


"Baiklah kalau begitu,tapi nanti telepon aku jika terjadi apa-apa!"pesan Seno.


Seno tampak masuk ke kamar lalu mengambil tas kecil yang biasa ia kalungkan di dadanya.


Seno lantas keluar,tak lupa ia berpamitan pada Anak serta Istrinya.


Seno memacu mobilnya perlahan,ia akan mengantar pupuk ke kebun kemudian akan datang ke tempat Mbak Siti.


Seno akan menyerahkan tanah yang ia beli dari Mbak Mutdah Istri mendiang Sugen itu kepada pemerintah setempat untuk di jadikan tempat pembangunan Mushola.

__ADS_1


Seno menghibahkan tanah itu atas nama Warsinah,semoga dengan manfaatnya rumah ibadah itu akan bermanfaat juga pahalanya bagi Warsinah.


Mbak Siti dengan mata berkaca-kaca menerima sertifikat tanah serta surat pernyataan yang menyatakan jika Seno pemilik tanah itu dengan sadar dan tidak ada paksaan sedikitpun dari manapun menyerahkan tanah tersebut kepada desa untuk di jadikan tempat ibadah dan jikapun ada imbalan dari amalan itu Seno berharap hanya akan diberikan doa sebagai hadiah kepada mendiang istrinya yaitu Warsinah.


Mbak Siti berjanji akan Segera menyerahkan surat serta sertifikat itu pada Kepala Desa secara langsung secepatnya.


Seno sendiri lebih memilih mempercayai Mbak Siti untuk mewakilinya karna Mbak Siti adalah penduduk asli dan Mbak Siti juga dikenal sebagai orang yang paling dekat dengan Mbak Mutdah pemilik pertama tanah itu.


"Mbak Mutdah titip salam buat Mas Seno saat telepon kemarin katanya,semoga setelah ini rumah tangga Mas Seno akan selalu dalam kebahagiaan."


"Dan kata Mbak Mutdah,kita di ajak untuk mengambil hikmah dari semua ini,sebagai manusia yang hanya ditakdirkan untuk menjalankan ketentuanya,sudah sapatutnya kita tetap istiqomah menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya,tanpa harus takut pada tipu daya dunia yang hanya semata dan sementara,ikhtiyar boleh tapi selalu di jalannya,"


"Dan terakhir,Mbak Mutdah mengucapkan banyak terima kasih karna sudah banyak membantunya selama ini,terlebih saat ia mendengar jika tanah ini Mas Seno hibahkan untuk pembangunan mushola,Mbak Mutdah sangat terharu Mas Seno."


"Iya Mbak Siti,sama-sama,tolong sampaikan salam ku juga pada Mbak Mutdah ya,akan saya ingat selalu nasehatnya,dan terima kasih juga atas doanya."


Ucap Seno,kemudian ia pamit untuk pulang.


Seno mampir ke salah satu apotek di desa itu.


Dibeli ya alat tes kehamilan seperti pesan Istrinya.


Di rumah Seno...


"Aku ikut kamu ya Dik Edang?"ucap Warsinah.


"Baiklah Mbak,mari masuk rumah."jawab Endang sembari mbuka pintu rumahnya,ia kemudian menoleh kebelakang namun tak mendapati sosok Warsinah.


Tapi kemana perginya?


Endang masih saja di depan pintu rumah yang terbuka itu sambil clingak clinguk mencari sosok Warsinah tadi.


"Ibuk...."


Teriak Bagus sambil menggoncangkang tubuh Endang yang tengah berbaring di kasur itu.


Endang pun terbangun dari tidur serta mimpinya.


Tak berselang lama Seno datang dari pintu depan.


Seno mengucap salam lalu menyerahkan pesanan Istrinya tadi.


Seno kemudian beralih pada Bagus,di gendongnya Anak kecil itu,Anak yang terlahir atas dasar kesalahan,dan Anak itu hanya tahu jika Seno adalah Ayahnya.


Endang yang sedari tadi berada di kamar mandi kini keluar dengan senyum sumringah.


"Mas..."panggilnya lembut.


"Iya,kamu kenapa Buk?"tanya Seno yang mulai membiasakan diri memanggil Ibuk pada Istrinya itu di saat tengah bersama Bagus Anak mereka.


"Ini Mas..."jawab Endang.


Seno berkali-kali mengucap hamdalah,sebuah testpeck dengan garis dua berwarna merah.

__ADS_1


Seno sangat bahagia,bagaimana pun ini adalah kali pertama ia punya Anak yang benar-benar darah dagingnya sendiri,meski ia tak pernah dan tak akan pernah membedakan Bagus,namun pengalaman ini baru pertama Seno alami.


Di peluknya Bagus dengan erat,dan Seno mengatakan pada Bagus jika ia akan segera punya Adik.


Terlihat sedikit muram pada wajah Anak itu,tapi itu hal wajar,karna mungkin kini ia tengah merasa khawatir kehilangan kasih sayang Orang tuanya atau mungkin tersisih,secara selama ini Bagus menjadi satu-satunya yang Seno dan Endang sayangi.


Tak masalah,Seno akan memberi pengertian pada Bagus nantinya.


Tiga bulan berlalu dengan sangat cepat.


Seno,Endang dan Bagus datang ke rumah Mbak Siti.


Sebenarnya mereka datang atas permintaan Pak Kades,karna hari itu adalah hari dimana sisa puing-puing bangunan rumah mendiang Sugeng di runtuhkan.


Tak lama lagi akan di lakukan penggalian tanah untuk membuat pondasi Mushola.


Sebuah traktor telah siap menggempur sisa-sisa tembok rumah itu.


"Bruuk...bruukk"


Suara hantaman puing-puing tembok bersamaaan mengepulnya debu di atas tanah.


Tiga jam lebih berlalu,semua puing-puing itu telah hancur berkeping-keping.


Seno pun pamit pulang terlebih dahulu karna selain telah selesai proses penggempuran itu,waktu juga sudah mulai surup,Seno sadar jika istrinya tengah berbadan dua tak seharusnya berada diluar di waktu surup.


Saat Seno baru saja melangkah tiba-tiba terdengar..


"Bruuaaakkk..."


Suara itu seperti bersumber dari balik mesin traktor.


Semua orang tampak lari ke sana.


Seno tak mau ambil pusing ia terus saja melangkah untuk pulang.


Saat tak ada sesiappun di tempat tumpukan puing-puing bekas rumah Mendiang Sugeng itu karna semua telah berada di samping mesin traktor.


Bagus menoleh ke belakang.


Dan dia melihat seorang lelaki dengan tubuh hitam seperti arang bekas terbakar,darah merah kehitaman menyembur dari kepala hingga membasahi sebagian dari wajahnya...


Nanah pun terjatuh berceceran di tanah,nanah itu keluar dari lubang hidungnya...


"Baguusss..."


Panggil sosok itu sambil melambaikan tangan.


Entah apa maksut dari lambaian tangan itu,entah panggilan atau salam perpisahan...


Entahlah....


The end

__ADS_1


__ADS_2