Hantu Hidung Mbeler

Hantu Hidung Mbeler
Suara Hati.


__ADS_3

"Mas Seno .."


Panggil seseorang yang berdiri di antara orang-orang yang tengah memanen sayur.


Seno menoleh dan sedikit mengeryitkan keningnya karena berusaha memfokuskan penglihatan.


Panas matahari mulai menyengat dan silau di mata,karna kala itu sudah jam sebelas siang ketika Seno baru saja kembali dari warung untuk membeli jatah makan siang para buruhnya.


Seno lantas tersenyum ketika ia sudah nampak jelas jika yang memanggilnya adalah Sugeng.


"Ealah,Kang Sugeng toh ini tadi?"


"Lagi panen Kang?"


Tanya Seno sambil berjalan mendekat.


"Iya Mas Seno,kalau Mas Seno lagi ngapain ini tadi?"


Sungeng kini balik bertanya,sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Itu tadi panen sawi Kang,tapi nggak banyak kok,palingan nanti jam tiga juga sudah rampung Kang."


Terang Seno sambil menunjuk ke arah sawah yang tengah ia panen.


Seno kemudian pamit untuk memberikan jatah makan siang buruhnya sedang Sugeng ia justru segera bersih-bersih bersiap untuk pulang.


Sesampainya di tempat para pekerjanya Seno melihat ada yang aneh dari tatapan mereka.


Seno mengikuti arah pandangan mereka dan tampaklah sosok Sugeng yang tengah mencoba menstarter motornya.


Seno yang penasaran akhirnya pun bertanya.


"Ada apa toh ini Kang Wandi?"


Ucapnya pada seorang buruh yang duduk paling dekat dengannya.

__ADS_1


"Den Seno kenal sama Kang Sugeng?"tanya Wandi.


"Ya nggak kenal banget sih Kang,baru dua kali ini ketemu."


"Kenapa toh,kok kayak ada yang serius gitu?"tanya Seno.


"Itu tuh tetangganya Adek ipar saya,dia itu sekarang ini lagi jadi pembicaraan warga,kata mereka dia itu nyupang."


"Penganut Kuntilanak,makanya Istri diq itu sakit-sakitan terus,pilek tahunan gitu loh Den."


"Soalnya Istrinya itu yang di jadikan tumbal."


"Kalo bisa saya ingatkan Aden,lebih baik nggak usah deket-deket sama dia."


"Iya Den Seno,kapan hari Istri saya juga cerita katanya di pasar desa sebelah ada Anak kecil yang lihat Hantu kepalanya pecah sama ingusnya jatuh-jatuh,warga sekitar meyakini jika itu hantu yang di sembah pemilik warung itu,sedang itu kan warung miliknya si Sugeng itu."


Sahut salah satu buruh yang tadinya hanya diam menikmati makan siangnya.


"Hantu kepala retak,hidung mbeler.."gumam Seno.


"Iya Lik..."jawab Seno gelagapan.


"Aden ini kenapa to?"tanya Lik Samin.


"Oh,gak apa Lik,iya nanti saya akan lebih hati-hati kalau lagi sama Kang Sugeng."


Ucap Seno akhirnya.


Seno dan semua kembali melanjutkan aktifitas mereka memanen sayur,dalam hati Seno merasa jika hantu yang dimaksut orang-orang itu adalah Warsinah.


Seno masih teringat kali terakhir hantu Warsinah menampakkan diri di saat ada pengajian di rumah Seno dulu.


Retakan kepala dan hidung yang mengalir nanah,ciri yang hampir sama dengan yang orang-orang ceritakan.


Tapi kenapa ada yang memuja nya,kenapa Warsinah memiliki pengikut,kenapa seakan ia berubah menjadi iblis yang menyesatkan,bukankah semua urusannya di dunia ini sudah terselesaikan?

__ADS_1


Ataukah itu bukan Warsinah,tapi kenapa hati Seno mengatakan jika hantu itu memanglah benar Warsinah.


Dua tahun ini tak pernah lagi ada penampakannya,Seno rasa Warsinah sudah tenang di alamnya,tapi semua pernyataan warga seakan menunjukkan jika hantu Warsinah masih saja berkeliaran.


"Apa hanya mirip saja?"Gumam Seno di sela aktifitasnya memetik Sayur.


Meski otak mengajak berfikir positif tapi tetap saja hati kecil Seno meyakini jika itu adalah Warsinah.


"Aku harus cari tau,karna jika benar itu adalah Warsi,maka aku pun ikut bertanggung jawab,bagaimanapun ia menjadi seperti itu juga karna ulahku."


Seno menghela nafas dalam,ia segera beranjak ke sungai irigasi untuk mencuci kaki dan tangan.


Di rumah Sugeng terlihat Mutdah tengah menyiapkan Sesaji di kamar khusus yang telah di sediakan oleh Suaminya untuk memuja sesembahannya itu.


Sugeng tengah mandi,dia kemudian menuju tempat makan untuk makan terlebih dahulu,Sugeng harus mempersiapkan diri supaya fit sebelum melakukan ritual pemujaan itu.


Istri Sugeng masih saja bersin-bersin dan sesekali nampak mengelap ingusnya dengan saputangan yang ia gantungkan di baju menggunakan peniti.


Sugeng memalingkan wajahnya dari sang Istri.


Mutdah pun menjauh dari sisi Suaminya.


Ia duduk di kursi belakang,hatinya terasa sakit atas sikap jijik yang Suaminya tunjukkan terhadapnya.


"Bukankah aku menjadi seperti ini juga demi dia?"


Ucap Mutdah lirih,sembari mengelap air yang telah membasahi sudut netranya.


Mutdah berulang kali menarik nafas panjang berusaha menghilangkan sesak di dadanya.


Ia lantas melangkahh menuju rumah tetangga yang terkenal alim di desa itu.


Entah karena apa,seperti ada dorongan kuat yang menariknya untuk terus melangkah ke rumah itu.


Hingga...

__ADS_1


__ADS_2