
"Kasihan sekali kamu Mbak."
Ucap Mbak Siti yang masih saja setia menunggu Mutdah yang belum sadarkan diri setelah berteriak kepanasan dengan mata yang tetap terpejam.
Bapak-bapak yang baru saja selesai menebang pohon beringin dekat sumber yang menjadi pusat kemusyrikan itu tampak sudah kembali pulang.
Ada beberapa di antara mereka yang langsung pulang ke rumah masing-masing,dan ada pula yang menyempatkan diri singgah dirumah Mbak Siti.
Pak Ustadz dan Pak Haji serta Suami Mbak Siti juga Bapak-bapak yang lain melihat keadaan Mutdah yang semakin memprihatinkan.
Wajah Mutdah semakin pucat,ia tampak sangat kurus.
"Sebaiknya dipanggilkan Mantri atau Bidan saja Mas Wardi."ucap Pak Ustadz yang di sambut anggukan oleh Pak Haji.
Mas Wardi Suami Mbak Siti itu lantas keluar dari kamar tempat mereka membaringkan Mutdah.
"Mbak Siti,malam ini juga kita adakan rukiyah di sini kalau di ijinkan,tujuanya untuk membersihkan Mbak Mutdah dari aura negatif."Ucap Pak Haji.
"Oh,iya Pak Haji silahkan,jika itu yang terbaik buat Mbak Mutdah."Sahut Mbak Siti dengan yakin.
"Saya sangat kasihan sama Mbak Mutdah Pak,nggak tega rasanya melihat keadaanya saat ini."imbuhnya.
"Baiklah kalau gitu,Dek Minto bisa minta tolong nanti ke rumah saya buat ambil beberapa keperluan rukiyah."Ucap pak Ustadz.
"Bisa Pak,jam berapa ya kira-kira saya datangnya?"tanya Minto.
"Sebelum maghrib,nanti bilang pada Istri saya kalau saya yang menyuruh,karna saya tidak langsung pulang,saya setelah ini masih harus mengisi tausiyah di acara peresmian Masjid di kampung sebelah."jawab Pak Ustad menerangkan jika ada hal penting lainya yang harus beliau kerjakan.
"Oh Baik Pak Ustadz."jawab Minto singkat.
Pak Ustadz pun pamit untuk pergi ke kampung sebelah dan katanya akan kembali setelah sholat magrib.
Demikian juga Pak Haji,beliau pun ikut undur diri setelah datangnya Bidan Susi untuk mengecek keadaan Mutdah secara medis.
Pak Haji berpesan pada Mbak Siti dan juga Mas Wardi untuk terus memutar Murotal qur'an,serta memperbanyak dzikir.
Kini di rumah itu hanya ada Mutdah yang masih berbaring tak sadarkan diri itu,Bu Bidan Susi,Minto dan Mas Wardi Serta Istrinya,yaitu Mbak Siti.
"Bu Mutdahnya Dehidrasi Bu,Pak.."
"Sebaiknya kita bawa ke Puskesmas biar nanti di infus,soalnya ini sudah di luar wewenang saya."
"Tapi Bu,setelah maghrib kami sudah sepakat akan melakukan rukiyah,karna ini bersangkutan dengan penyakit non medis juga,apa nggak bisa minta tolong supaya di infus di rumah saja,terus nanti sebelum rukiyah dimulai tolong infusnya dilepas dulu."terang Mbak Siti penuh kekhawatiran.
"Baiklah kalau demikian saya akan minta tolong pihak Puskesmas untuk datang kesini saja ya Bu?"putus Bu Bidan Susi kemudian meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
Setengah jam berlalu,tampak dua petugas dari Puskesmas telah datang dengan membawa tas
hitam berbentuk kotak,bentuknya hampir menyerupai koper.
Bidan Susi tampak lega,beliau dengan cekatan membantu petugas yang tengah mengecek keadaan Mutdah.
Infus sudah terpasan di pergelangan tangan Mutdah,cairan putih dari botol tampak terus menetes sampai habis hingga tampaklah wajah Mutdah sedikit segar.
__ADS_1
Pukul lima sore petugas Puskesmas itupun kembali lagi untuk melepas slang infus serta jarum yang menancap di pergelangan tangan Mutdah.
Tak berselang lama setelah petugas itu pergi tampaklah Minto datang dengan membawa satu botol air yang di dalamnya tampak seperti ada daun.
"Itu daun apa Mas Minto?"tanya Wardi.
"Oh,itu Mas Wardi,kalau gak salah sih namanya daun bidara."
"Terus airnya juga sudah di doakan,sama ini sarung tangan,terus karpet dan baskom."
"Ini Semua milik Masjid kata Bu Nyai tadi."terang Minto.
Minto dan Wardi lantas mengelar tikar kemudian di atasnya kembali mereka gelar karpet Masjid tadi.
Adzan Maghrib berkumandang,dua puluh menit berlalu,tampak beberapa orang mengucap salam di depan pintu rumah itu.
Wardi yang sudah mengenakan baju lengan panjang warna putih dan celana hitam tampak menjawab salam lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
Semua sudah berkumpul di ruang tamu Mbak Siti,ada kira-kira sebelas orang yang akan membantu merukiyah Mutdah.
Bacaan rukiyah telah terdengar,Mutdah yang tengah di dudukkan bersandar pada bahu Mbak Siti tampak menggeliat,ia tampak membuka matanya yang hanya terlihat bagian putihnya saja itu.
Mutdah kejang-kejang,ia kemudian pingsan kembali.
Sekian menit kemudian Mutdah terlihat membuka mata dan menyebut nama Mbak Siti.
"Mbak Siti.."ucap Mutdah lirih.
Mbak Siti tampak tersenyum menatap Mutdah.
Suami Mbak Siti yang paham apa maksut Istrinya itu pun memberi tahu Pak Haji yang duduk tak jauh dari tempatnya hanya berselang satu orang saja.
Lain Mbak Siti dan Suaminya,lain pula Pak haji dan Pak Ustadz yang hanya tersenyum menanggapi.
Kedua Ulama itu tahu jika Mutdah belum sepenuhnya sadar.
Itu adalah salah satu tipu daya setan.
"Hentikan."ucap Mutdah yang sudah bisa duduk sendiri itu.
"Sudah cukup,hentikan...panas..."
"Bedebah..."
"Jangan campuri urusanku..."
Teriak Mutdah sambil berusaha menutup kedua telinganya dengan tangan.
Pak Ustad masih saja berada pada posisinya menghadap ke Mutdah yang sudah sangat histeris dan terus memaki-maki Pak Ustadz.
Dua Santri dengan sigap segera memegang tangan Mutdah agar tak menyakiti dirinya sendiri atau pun orang lain.
"Hihi...ih ih ih.....ih ihihih..hihi...hih..."
__ADS_1
Mutdah tampak tertawa cekikikan seperti kuntilanak.
"Keluarlah,dan kembali ke alammu."
Ucap Pak Ustadz dengan nada tegas.
"Apa urusan mu,dia sudah menikmati apa yang aku beri,sekarang saatnya dia ikut aku."
"Kau telah mengganggu saudara seiman ku,sudah pasti akan menjadi urusanku."
Terang Pak Ustadz pada Mutdah yang sedang kerasukan entah hantu apa itu.
"Keluar atau akan aku paksa."Ucap Pak Ustadz masih dengan nada bicara yang sama.
"Hih...hih..hi...hi...hi...hihi..hih.."
Lagi-lagi Mutdah tertawa seperti kuntilanak,bahkan suaranya pun terdengar berbeda dengan suara Mutdah yang biasanya.
Pak Ustadz kembali membaca surat-surat yang digunakan untuk rukiyah,dan seperti biasa Pak Haji tampak khusyuk dengan memegang tasbih yang terus berputar di jarinya.
Mutdah tampak meraung kepanasan,ia kemudian terlihat seperti memuntahkan sesuatu.
Dengan sigap Santri yang sudah diberi tugas oleh Pak Ustadz itu menengadahkan baskom yang sudah dilapisi kresek hitam itu di depan Mutdah.
Tak tampak satupun benda keluar dari mulut mutdah,kejadian itu terus berulang hingga akhirnya Mutdah kembali pingsan.
Pak Ustadz nampak mengucap hamdalah,pertanda jika semua sudah selesai.
Mutdah di baringkan di kamar yang tadi ia tempati,perempuan itu masih mengenakan mukena.
Ia mengerjap kan matanya,dan dengan perlahan ia membuka mata sepenuhnya.
"Mbak Siti...,ada apa ini?"
Tanya Mutdah pada Mbak Siti yang tampak baru saja bangkit dari duduknya untuk memanggil seseorang di ruang tamu.
"Sebentar ya Mbak Mut,saya panggil Pak Ustadz dan Pak Haji dulu."Ucap Mbak Siti sambil tersenyum.
Pak Ustadz tampak masuk ke ruangan itu bersama Mbak Siti dan Suaminya.
Beliau meminta Mutdah meminum air daun bidara yang sudah di doakan.
Kini tampak Pak Haji ikut masuk juga,Kedua ulama itu memberi wejangan pada Mutdah,menasehati Mutdah supaya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa.
Setelahnya keduanya pamit pulang bersama para santri menggunakan mobil.
Malam semakin larut,suara burung hantu terdengar saling bersahutan.
Sesosok kuntilanak mengambang di tengah pertigaan.
Ia kemudian melesat ke sebuah puing-puing rumah yang penuh abu akibat kebakaran.
Kuntilanak itu tampak duduk di atas salah satu tembok sambil mengayunkan kakinya.
__ADS_1
Ia tertawa cekikian,matanya putih semua,ia menatap lurus lurus ke depan menghadap para pembaca.
"Ih ih ih ih...ihii hi....hi ih ih.."