
Karsin telah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Sesuai persetujuan keluarga akhirnya Karsin harus merelakan satu kakinya di amputasi.
Keadaan Karsin sungguh sangat menyedihkan,ia bahkan sempat histeris ketika mendapati satu kakinya telah tiada.
Kini Seno duduk menghadap Karsin yang masih berbaring.
Seno dengan tegas bertanya pada Karsin apa yang sebenarnya telah terjadi.
Seno juga mengungkit tentang Endang.
Bahkan kini Seno tak lagi perduli dengan tujuannya dulu yaitu diam-diam menyelidiki tentang Karsin.
Kesabaran Seno telah habis.
Tidak perlu lagi bersikap baik apa lagi baik-baik saja.
Awalnya Karsin tak bergeming saat Seno menyerangnya dengan begitu banyak pertanyaan.
Tapi akhirnya,begitu banyak pula ucapan Karsin yang berhasil menyudutkan Seno.
"Saat kamu menyuruhku menikahi hantu perempuan itu,apakah kamu bertanya dulu padaku?"
"Kau mau aku melakukan apa pun."
"Kau mau semua katamu aku turuti,aku ikuti,dan kau mau aku tunduk padamu."
"Seolah-olah uang adalah segalanya."
"Seolah-olah uang mu bisa membeli hidupku."
"Aku bekerja padamu,bukan berarti aku budakmu yang harus mrngikuti semua maumu."
"Termasuk ide konyolmu itu."
"Salah kalau aku ingin hidup sesuai dengan mau ku sendiri."
"Coba pikir Senopati Suryo Wiloko,katanya kamu orang pintar? hah!"
Ucap Karsin dengan amarah yang menggebu-gebu.
Seno yang awalnya sangat geram kini hanya bisa menunduk.
Benar semua yang Karsin katakan.
Ia telah bertindak semaunya sendiri tanpa peduli pada orang lain.
Seno sadar ini semua berawal dari ide gilanya.
Dia awalnya hanya mau cari aman.
Dengan meminta Karsin menyamar sebagai dia,maka Seno tidak perlu menikahi Warsinah sesuai apa yang ada di dalam surat wasiat bapaknya.
Dan dengan membuat berkas palsu maka dalam surat nikah Warsinah tetaplah Istri Seno dan harta warisan Bapaknya Seno tidak perlu ia bagi pada orang lain.
Mudah dikata,Wasiat Bapak Seno yang meminta Seno menikahi Warsinah tetap terwujut,karna dalam surat tertulis Nama Seno dan Warsinah adalah pasangan Suami istri.
Tapi dalam kenyataan Seno bisa tetap menikmati hidup sesuai kemauannya.
__ADS_1
Dan yang terpenting,50%harta Ayah Seno tetap aman bersama Seno seorang tanpa harus di bagi pada Warsinah.
Seno menenggelamkan Wajahnya di sisi tempat Karsin berbaring.
"Maafin aku kang.."ucapnya lirih.
Karsin membuang muka dengan mengalihkan pandangan ke sisi lain.
Karsin yang tengah depresi karna kehilangan satu kaki di tambah lagi banyaknya pertanyaan Seno yang seolah dialah yang paling benar membuat amarah menguasai Karsin sepenuhnya.
Ia sangat benci pada Seno,anak mantan juragan Bapaknya itu,yang katanya telah menganggapnya sebagai teman.
Tapi nyatanya,Karsin merasa hanya dimanfaatkan oleh Seno.
Bahkan karna Senolah kini ia terjebak dalam keadaan yang mengenaskan.
Karsin dikuasai ego,tanpa mau menyadari kesalahanya sendiri.
Endang dan Anaknya,ingatkah Karsin pada mereka?
Seno pulang tanpa mengucap sepatah katapun pada Karsin.
Bahkan ia berlalu begitu saja melewati Bapaknya Karsin yang tengah duduk di kursi tunggu di depan ruangan Karsin.
Seno kembali pulang ke rumahnya,ia teringat pesan polisi tadi.
Hanya aku yang bisa menyelesaikan semua ini.
"Kira-kira apa maksutnya?"ucap Seno dalam hati.
Setelah sekian menit bergulat dengan pikiran dan hati akhirnya Seno memutuskan menghubungi polisi tadi.
Di sana mereka berbicara banyak hal.
Seno menceritakan tentang semua yang telah ia lakukan pada Warsinah tanpa ada yang ditutupi sedikitpun.
Dari situlah mereka berdua saling bertukar pendapat hingga mendapat solusi yang bebar-benar tepat.
Keduanya lantas berangkat ke kediaman Salim,sesuai dengan apa yang pernah di ceritakan oleh Mbak Asiyah,Seno yakin Salim adalah satu-satunya kunci dari semua ini.
Karsin yang memberondong pertanyaan pada Seno dengan menunjukkan ekspresi wajah yang penuh kebencian membuat Seno yakin jika memang benar Karsinlah dalang dari semua ini.
Bahkan Karsin sempat menyebut hantu perempuan yang artinya jika benar Warsinah telah tiada dan bahkan jadi hantu penasaran,maka Karsin sudah tau itu semua.
Seno yang sudah tak sabar ingin menemui Salim tampak menggedor-gedor pintu rumah Salim.
Sementara Agham yang notabennya adalah seorang polisi pun masih bisa mengendalikan keadaan.
Dia mencoba mengingatkan Seno akan misi serta tujuan datang ke sini itu apa.
Seseorang tampak mendekat ke arah Seno,orang tersebut ternyata adalah tetangga Salim yang dipercaya Salim untuk menjaga rumahnya.
Dari sang tetangga diketahui jika Salim pulang ke rumah orang tuanya yang tinggal di desa sidomulyo.
Seno dan Agham pun segera menuju ke sana karna desa itu cukup jauh kira-kira butuh sekitar dua jam untuk sampai di sana.
Adzan Asyar berkumandang.
Ternyata sudah pukul tiga sore saat Seno dan Agham sampai di desa itu.
__ADS_1
Mereka mencoba bertanya pada warga untuk tau di mana kiranya rumah Pak Sadeli.
Seno berhenti di saat ada seorang bapak-bapak yang tengah memegang sepedah ontelnya yang oweng karna rumput yang diboncengnya ambruk.
"Makasih Den"
Ucap si bapak saat Seno selesai membantunya mengangkat rumput untuk kembali dinaikkan di atas boncengan sepeda kemudian di ikat menggunakan potongan karet ban.
"Sama-sama Pak."
"Eum maaf nih Pak,mau numpang tanya boleh kan Pak?"tanya Seno.
"Iya Den...mau tanya apa ya?"jawab si Bapak.
"Itu loh Pak,saya lagi nyari rumah Pak Sadeli,Ayahnya teman saya namanya Salim."
"Wealah,Sadeli toh,yaudah ikuti saya saja Den,nanti saya tunjukin,itu tetangga saya kok."
"Baik Pak..."
Ucap Seno kemudian kembali naik mobil yang dari tadi dikemudikan oleh Agham.
Seno terus saja mengikuti si Bapak yang membonceng rumput.
Tampak sesekali sepeda si Bapak oweng karna rumput yang ia bonceng ikatannya terlalu besar,hingga berat belakang.
Sampai saatnya si Bapak itu berhenti dengan tergopoh di depan sebuah rumah papan bercat biru langit.
"Itu Den..."teriaknya sebelum akhirnya ia menuntun sepeda ontelnya menunju rumah berikutnya.
Ternyata si Bapak adalah tetangga dekat Bapaknya Salim.
Agham memarkirkan mobil Seno di halaman rumah Bapaknya Salim yang tidak cukup luas itu.
Sementara Seno sudah terlebih dahulu turun untuk mengetuk pintu rumah Bapaknya Salim.
Sekian kali Seno mengetuk pintu namun tidak ada sahutan,hingga akhirnya si Bapak yang tadi kembali datang.
"Ada ndak Den?
"Kalau nggak ada ya berarti Sadeli masih di sawah."kata si Bapak.
"Nggak ada jawaban Pak..."ucap Seno.
"Ouuhh..."
"Saya Pak Tukiyo Den..."
Ucap si bapak sambil tersenyum.
Tak berselang lama setelah Pak Tukiyo mengajak Seno dan Agham duduk di teras rumah itu,tampaklah seorang Bapak yang juga naik pedah ontel membonceng cangkul dan memakai caping.
Si Bapak tampak celingukan melihat ada mobil yang terparkir di halaman rumahnya.
Si Bapak mengahmpiri Seno dan Agham untuk berslaman kemudian pamit bersih-bersih dahulu.
Sedang Pak Tukiyo,ia juga pamit pulang karna harus memberi makan kambing dan sapinya....
Emmbeeeekkkkkkkk......
__ADS_1
Suara kambing Pak tukiyoo..