
Sugeng kembali berjualan di pasar,pagi-pagi sekali ia berangkat menaiki sepeda ontel yang memuat singkong menggunakan obrok bambu.
Tampak sesekali Sugeng bersiul,wajahnya pun terlihat sumringah.
Bagaimana tidak,dagangan pagi ini ia bayar kes tidak seperti biasanya yang mana ia hanyalah kuli dan mendapat upah sesuai ketentuan setiap harinya.
Sugeng sangat bersemangat mengayuh sepedanya menuju pasar.
Saat sampai di lapak ia segera menjajakan dagangannya,namun sebelum semua singkon selesai ia turunkan dari obrok,tampak kembali laki-laki yang kemarin membeli singkong miliknya.
Si lelaki itu mengendarai mobil pik up warna hitam.
Kejadian kemarin terulang lagi bahkan kali ini si lelaki pemborong itu memesan dua kali lipat dari jumlah hari ini untuk esok pagi.
Sugeng yang merasa seperti tertimpa bulan itu sangat berterima kasih pada lelaki itu.
Di sela rasa bahagianya ia kembali meyakini jika semua itu dikarenakan kekuatan Nyai Warsi.
Di tempat lain,Istri Sugeng Mutdah tengah berbelanja di sebuah warung,ia membeli beberapa mi instan,gula dan juga minyak goreng.
Sang pemilik warung tampak mencebikkan bibirnya dengan muka yang masam pula.
"Mau beli apa ngutang?"tanya pemilik warung dengan nada ketus.
"Beli kok Yu,udah ini aja totalnya berapa sama sekalian di total hutangku ya Yu?"
Ucap Mutdah dengan nada sombong.
Dikeluarkannya Uang empat ratus ribu karna total hutang sekaligus belanja adalah tiga ratus enam puluh tujuh ribu.
Mutdah pulang kerumah dengan menenteng barang belanjaanya.
Ia mampir ke tukang sayur,di sana tampak beberapa ibu-ibu yang juga tengah berbelanja.
Mutdah mengambil satu ayam utuh sekaligus bumbu ungkep.
Nampak seorang mengedipkan matanya kepada ibu-ibu yang lain seakan memberi tanda keheranan.
Mutdah kembali membayar belanjaannya,dan ia segera berlalu untuk pulang.
Setelah kepergian Mutdah terlihat ibu-ibu bergerombol membicarakannya entah itu di warung sembako maupun di tempat tukang sayur.
Semua tampak heran pada kondisi keuangan Mutdah sekarang.
Sugeng pulang dan disambut senyum indah Istrinya.
Keduanya makan siang dengan lauk pauk yang bisa dibilang lebih enak bila dibanding dengan dulu saat mereka belum memuja Nyai Warsi.
__ADS_1
"Buk itu tadi ayam cemaninya."
Ucap Sugeng sambil menunjuk seekor ayam yang satu kakinya ia ikat dengan rafia kemudian ujung rafia yang satunya ia ikatkan pada kaki meja.
"Iya Pak,habis ini Ibu masak ingkung,tapi Bapak tolong sembelih ya?"
"Sama darahnya taruh di batok kelapa itu lo Pak,buat sesaji nanti."
"Kalau bunga tujuh rupa udah Ibuk siapin di tampah tadi sekalian pisang raja setangkep sama telur ayam kampung tembean."
"Iya Buk,habis makan nanti Bapak sembelih."
Siang berganti sore,sebuah kamar telah penuh dengan sesaji.
Sugeng tampak duduk di atas tikar mendong di depan sesaji.
Ia memanggil nama Nyai Warsi untuk datang menikmati persembahan.
Tak perlu menunggu lama,sosok Nyai Warsi si kuntilanak merah pun datang menembus dinding rumah Sugeng yang setengahnya masih terbuat dari papan kayu sengon itu.
Kuntilanak merah itu menghirup darah ayam cemani yang tersaji dalam potongan batok kelapa dan diletakkan di atas kembang tujuh rupa.
Aura hitam keluar dari tubuh Sugeng dan diserap kembali oleh kuntilanak merah itu.
Sugeng tidur di atas tikar mendong di kamar itu,entah kenapa rasa kantuk kian menyeruak menguasai dirinya.
Sugeng telah lena di alam bawah sadarnya,di sana ia bermimpi tengah bergulat dengan istrinya di atas kasur.
Hingga suara ayam berkokok membangunkan Sugeng.
Dia merasa risih pada celana yang ia kenakan karna sudah basah entah oleh apa,bahkan bajunya pun kini basah dengan peluh.
Sugeng segera bangun dan mandi sekaligus mencuci baju yang tadi ia kenakan.
Tampak Istri sugeng beranjak keluar dari pintu dapur menuju kamar mandi yang letaknya terpisah dari rumah dan berada di bagian belakang.
Sugeng segera berangkat ke rumah juragannya untuk mengambil singkong untuk ia jual di pasar,tak lupa ia memberikan uang sesuai harga yang ditentukan oleh juragannya.
Sugeng kembali berjualan,lelaki yang kemarin memesan dua kali lipat dari pesanan sebelumnya pun datang mengambil singkongnya.
Sepertiga dari dagangan sugeng sudah di angkut naik ke pick up si pemesan,kini hanya tinggal beberapa kilo saja yang belum terjual.
Tak berselang lama terlihat seorang ibu-ibu datang untuk membeli satu kilo singkong,lalu datang lagi yang lainya.
Pembeli datang silih berganti seolah ada yang menarik mereka untuk datang.
Dagangan Sugeng telah habis tak berbekas.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir Sugeng.
Hari berganti hari usaha Sugeng semakin maju.
Sugeng berniat untuk membeli lapak milik juraganya itu.
Setelah dua bulan berlalu akhirnya Sugeng benar-benar menjadi pemilik lapak itu,bahkan ia juga sudah mulai menjadi penebas singkong di kebun petani secara langsung.
Kehidupan Sugeng dan Mutdah kini berubah seratus persen dari dulu yang punya utang dimana-mana sekarang justru sebaliknya,merekalah yang menghutangkan uang mereka dengan bunga sepuluh persen perbulan.
Sugeng masih saja terlena pada kenikmatan dunia yang ia percayai jika itu adalah berkat Nyai Warsi sesembahannya.
Sedang Mutdah,ia tampak sombong dengan apa yang ia miliki saat ini.
Rumah mewah,baju bagus,perhiasan banyak.
"Iya Yu saya tau kalau Yu Mutdah itu sekarang udah jadi orang kaya."
"Mbok ya jangan pakaian sama perhiasan saja yang bagus."
"Itu loh,hidungmu yang mbeler itu mbok ya di obati,wong pilek kok sudah hampir setahun nggak sembu-sembuh."
"Uang udah banyak,ya ke spesialis gitu biar dikasih obat yang mujarab."
"Nih ya Yu Mut,orang laki-laki itu kalau udah kaya suka bertingkah lo."
"Apalagi kalau yang di rumah modelnya kaya Yu Mutdah ini,hidunge mbeler sentrap sentrup terus."
"Bisa bahaya itu kalau Kang Sugeng di luaran sana ketemu sama yang seger-seger."
Begitulah ocehan tetangga yang merasa jengah atas sikap Mutdah yang terlalu pamer.
Mereka akan mengatakan jika Mutdah penyakitan,hidungnya yang pilek terus-terusan bisa membuat Suaminya bosan hingga selingkuh.
Mutdah yang sadar jika sebenarnya pilek yang dideritanya adalah syarat dari Nyai Warsi tak bisa menjawab apa-apa.
Selalunya ia pergi dengan hati dongkol karna merasa kalah telak.
Faktanya Mutdah memang tak begitu menikmati harta yang ia miliki,ia hanya menggunakan hartanya sebagai ajang balas sakit hati pada mereka yang dulu selalu menghinanya.
Sedang dirinya sendiri,dengan terus saja pilek membuatnya sangat tak nyaman,tidur tak nyenyak,makan tak enak,dan hati tak tenang,ia sejujurnya membenarkan apa yang tetangganya katakan tentang Suaminya,karna memang ia jarang disentuh oleh Suaminya.
Terlebih saat suaminya selesai melakukan ritual,bisa sanpai tiga hari sang Suami tak mau tidur dengannya,dan memilih tidur di sofa ruang tamu.
Mutdah tampak duduk merenung,tersirat kilat sesal di hati kecilnya.
Sosok kuntilanak merah pun kembali datang dan meniupkan sesuatu pada kening Mutdah hingga perempuan itu teringat kembali cacian dan makian warga saat ia berhutang sembako atau uang,dan teringat pula saat anaknya meninggal karna terlambat di bawa berobat sebab tak punya uang.
__ADS_1
Kuntilanak merah itu menyeringai,retakan kepalanya menganga meneteskan darah kental berwarna merah kehitaman.
Hidung mbelernya pun meneteskan nanah busuk,sedang kedua tanganya tampak tumbuh kuku-kuku panjang dan runcing seperti cakar.