
Pukul delapan siang Seno di antar Salim menuju tempat terakhir dimana Salim dan Warso membuang Warsinah yang tengah tidak sadarkan diri.
Saat sampai di sana Seno turun,ia melihat sekitar tempat itu.
Pinggir jalan area kebun sayur,tanpa penerangan yang pasti sangat gelap disaat malam hari,terlebih dari cerita Salim,saat itu tengah hujan lebat.
Betapa sedih rasa hati Seno,sungguh ia tak habis pikir jika ide konyolnya berakibat seburuk ini pada jalan hidup Warsinah.
Kali ini Seno benar-benar seperti tertampar oleh rasa bersalah yang mendalam.
"Maafin aku Warsi...aku tau aku salah."
Lirih Seno sambil mengelap sudut matanya.
Seno membalikkan badan,ia berniat untuk kembali ke mobil dan pada saat itu lah mata Seno menatap sesuatu yang berkilau kemerah-merahan karena terkena sinar mata hari pagi.
Seno awalnya acuh terhadap benda itu,tapi seperti ada sesuatu yang menariknya untuk mendekat.
Seno duduk jongkok di atas rumput di tepi jalan tersebut,tangannya terulur untuk meraih benda yang kini menyita perhatiannya.
Seno terkejut,digenggamnya benda itu dengan erat.
Sebuah cincin yang sangat Seno kenali.
Cincin milik mendiang Ibunya yang sudah diserahkan pada Warsinah.
__ADS_1
"Apa kira-kira Warsinah ada di sini?"
Ucap Seno dalam hati,sembari memandang ke arah Agham.
Agham sendiri tampak tersenyum dan mengangguk.
Entah apa maksut dari anggukan Agham,Seno tak mau ambil pusing.
Seno masuk ke dalam mobil dan ia berniat menuju tempat penemuan mayat perempuan tanpa identitas sesuai ya g di ceritakan Abang Iparnya Salim.
Mobil beranjak meninggalkan tempat itu keempatnya tengah terlibat perbincangan serius membahas cincin yang Seno temukan dan Seno yakini jika itu milik Warsinah.
Sekitar sepuluh menit mobil melaju dengan santai di satu jalur lurus di tengah sawah itu.
Akhirnya Sampailah keempatnya di sebuah perbatasan antara kebun sayur dan kebun kopi.
Pohon Mauni yang dari batang hingga rantingnya di penuhi duri dengan ukuran besar-besar itu tampak sangat rimbun.
Banyak lagi pepohonan yang juga lumayan besar seperti pohon nangka dan juga beberapa pohon jambu monyet serta pohon lamtoro atau petai cina.
Abang Ipar Salim kini berjalan di depan untuk memandu Seno,Salim dan Agham layaknya seorang pemandu wisata.
Ia terus saja berjalan dan bercerita tentang apa yang ia tau,dan sesekali ia juga menunjuk beberapa tempat yang menurutnya adalah titik utama dari tempat penemuan jenazah perempuan tanpa identitas itu.
Setengah jam berada di sana,akhirnya Agham memutuskan untuk mengajak Seno mendatangi kantor polisi yang mengurus kasus itu.
__ADS_1
Seno berangkat ke kantor polisi hanya bersama Salim dan Agham karna Abang Ipar Salim harus ke sawah untuk memanen sayur.
Mereka sampai di kantor polisi,Agham segera menunjukkan Kartu anggota miliknya pada petugas.
Tak berselang lama tampaklah seorang polisi bertubuh tegap.
Polisi muda yang bernama Aziz itu mengatakan jika dialah yang menangani kasus itu.
Azis bersedia mengantar Seno untuk mendatangi rumah sakit di mana dulu jenazah Warsinah di otopsi.
Mereka tak mau menunggu lama,hari itu juga mereka berangkat ke salah satu rumah sakit yang lumayan besar di kota itu.
Setelah memberi keyakinan jika yang meninggal itu adalah Warsinah Istrinya akhirnya Seno pun mendapat informasi tentang Warsinah.
Jujur,sebrnarnya Seno masih kurang yakin jika memang benar itu Warsinah.
Hati Seno sangat menolak kenyataan itu.
Sampai saatnya Seorang Dokter menyatakan jika memang benar jenazah itu sama dengan perempuan yang ada dalam foto surat nikah yang Seno tunjuk kan.
Seno tak lagi sanggup menahan kesedihan.
Ia kecewa pada dirinya sendiri.
Ribuan jarum sesal tengah menancap dalam hatinya.
__ADS_1
Seno benar-benar sudah seperti orang tak waras yang menangis kesenggukan dengan menenggelamkan wajahnya di atas meja dokter.
Tanpa Seno sadari,sosik transparan yang sedari tadi berdiri mengbang menembus dinding itu pun tengah menangis.