Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Nathalie rasa lebih baik dia pergi mencari angin saja, menikmati suasana malam hari di sekitar gedung apartemen tersebut, agar bisa menenangkan hatinya. Apalagi dia masih harap-harap cemas menunggu keputusan dari Pengacara Kenzi, karena Pengacara Kenzi belum sepenuhnya bisa mempercayainya.


Wajar saja jika Pengacara Kenzi masih ragu terhadap Nathalie, karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Nathalie datang kesana dengan memberikan surat titipan dari Dilan, padahal selama ini Dilan tidak pernah menyebutkan nama Nathalie kepada Pengacara Kenzi.


Nathalie berjalan menuju lift, dia tak sengaja berpapasan dengan Nino yang keluar dari lift sambil berteleponan dengan seseorang. Nathalie ingin sekali menyapanya untuk hanya sekedar menanyakan kabar, tapi pria itu malah membuang muka, bersikap seolah-olah tak mengenali Nathalie, Nino pergi melewatinya begitu saja.


Nathalie pun masuk ke dalam lift, dia hanya bisa tersenyum miris, betapa sakitnya hati Nathalie, pria yang selama ini dia tunggu telah melupakannya dirinya, padahal selama ini Nathalie selalu menunggu Nino datang menepati janjinya. Begitulah cinta pertama, susah untuk dilupakan.


"Hm, dia sepertinya benar-benar melupakan kamu. Apa kamu mau aku membantumu untuk dekat lagi dengannya?"


Nathalie tersentak kaget ketika mendengar suara Dilan, ternyata hantu itu sudah berada di sampingnya, tepati di dalam lift. "Astaga, bisa tidak kamu tidak mengagetkan aku kayak gini?"


Coba saja kalau Nathalie punya penyakit jantung, mungkin dia sudah mati gara-gara dibuat kaget oleh hantu.


Dilan hanya terkekeh melihat Nathalie menatapnya dengan penuh rasa kesal.


Nathalie menghela nafas, dia tidak ingin banyak berharap pada Nino. "Tidak perlu, bahkan dia sudah melupakan aku, aku tidak ingin banyak berharap padanya."


"Lalu mau kemana kamu sekarang?"


Nathalie menggelengkan kepala. "Aku tidak tau, aku hanya ingin cari angin saja."


Dilan membiarkan Nathalie menangkan dirinya sendiri, karena itu dia memilih pergi dari lift tersebut. "Ya sudah, aku tunggu di apartemen, ada yang ingin aku tunjukan sama kamu." Setelah berkata begitu, Dilan pun pergi dari lift tersebut.


Selama satu jam Nathalie menenangkan dirinya di taman yang ada dibelakang gedung apartemen, sambil memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan jika seandainya dia menjadi CEO sementara di Niroga.


Nathalie menjadi teringat dengan ayahnya, jika dia memiliki banyak uang dan kekuasaan, apakah dia bisa menemukan keberadaan ayahnya? Walaupun Nathalie sangat membenci sang ayah yang telah pergi meninggalkannya begitu saja, tapi dia juga sebenarnya sangat merindukannya, berharap bisa bertemu sekali saja dan bertanya kepada sang ayah mengapa dia tega sekali meninggalkan Nathalie?


Setelah itu, Nathalie pun kembali ke apartemen. Dia ingin tahu apa yang akan ditunjukkan oleh Dilan kepadanya.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu tunjukan kepadaku?" tanya Nathalie setelah masuk ke dalam apartemen, dia melihat Dilan yang sedang menunggunya di kursi sofa.


"Bukan disini. Kamu harus masuk ke dalam kamarku dulu."


Nathalie kaget mendengarnya, "Jangan karena kita bisa saling bersentuhan kamu bisa macam-macam padaku!" Nathalie menunjukkan tinjunya kepada Dilan.


Dilan malah tertawa melihat reaksi Nathalie seperti itu, dia menoyor kepala Nathalie. "Tidak bisakah kamu berhenti berpikir me-sum terhadap aku? Apa aku terlalu menggoda buat kamu?"


Nathalie menjadi gelapan mendengarnya. Dia ingin protes tapi Dilan menarik tangan Nathalie, membawanya sampai ke depan pintu kamarnya Dilan, di apartemen itu memang memiliki dua kamar.


"Cepat buka pintunya!" titah Dilan.


"Tapi buat apa?" Nathalie masih belum paham, mengapa Dilan harus menunjukkannya di dalam kamar, siapa yang tidak akan berpikir macam-macam jika dalam situasi seperti ini.


Nathalie pun dengan pelan membuka pintu, dia kaget ternyata Dilan sudah berada di dalam kamar dia menarik tangan Nathalie untuk masuk ke dalam.


Nathalie ingin protes, tapi dia nampak terdiam ketika melihat Dilan menunjukkan sebuah brankas padanya. "Aku memiliki sejumlah uang di dalam brankas ini, itu semuanya untukmu."


Dilan sadar di dunia ini tak ada yang gratis, Nathalie memang membutuhkan pekerjaan, karena itu dia akan membayar mahal atas pekerjaan Nathalie yang mau membantunya.


Itu semua tidak apa-apanya dibandingkan dengan brankas yang ada di dalam mansion, brankas besar itu tak dapat dibuka oleh Selena karena tidak


tahu paswordnya, padahal Dilan telah memberikan black card pada Selena.


...****************...


Pengacara Kenzi terlihat sedang berada di dalam sebuah restoran mewah, dia sedang menunggu seseorang di sana, sambil memikirkan sesuatu, dia masih belum paham mengapa Dilan bisa dekat sekali dengan seorang gadis bernama Nathalie, sampai Nathalie tahu apapun tentang Dilan.


Rupanya Pengacara Kenzi sedang menunggu kedatangan Selena, dia melihat Selena datang ke restoran tersebut sambil tersenyum ramah kepada Pengacara Kenzi.

__ADS_1


Selena berjabatan tangan dengan Pengacara Kenzi. "Selamat malam Pengacara Kenzi."


"Selamat malam juga Nona Selena."


Selena pun duduk di kursi yang telah tersedia di sana, dia sengaja memperlihatkan wajah sendunya seolah-olah dia sangat sedih telah kehilangan Dilan.


"Sampai sekarang aku masih tidak percaya suamiku sudah meninggal, hatiku sangat sakit sekali jika mengingatnya." Selena pura-pura menghapus air matanya dengan tisu.


Pengacara Kenzi lebih tertarik dengan rasa penasarannya dari pada kesedihan Selena. "Boleh saya tanya sesuatu?"


"Boleh, Memangnya anda mau bertanya apa?"


"Saya hanya ingin tahu apa warna kesukaan Tuan Dilan?"


"Tentu saja warna putih, makanya semua mobilnya hampir berwarna putih." jawaban Selena memang benar bahwa Dilan suka menyukai warna putih. "Kenapa memangnya bertanya hal itu kepadaku?" Selena merasa aneh mengapa Pengacara Kenzi tiba-tiba bertanya tentang Dilan kepadanya.


"Saya hanya ingin tahu saja apapun tentang Tuan Dilan, saya rasa anda sebagai istrinya pasti sangat tahu apapun tentang suami anda."


Selena memang sedikit tahu tentang Dilan, dia tahu semua itu dari Justin. "Tentu saja saya sangat tahu, suamiku sangat menyukai spageti, dia menyukai film horor, musik kesukaannya adalah musik rock."


"Apa anda tahu hewan apa yang ditakuti oleh Tuan Dilan?"


Selena mengerutkan keningnya. "Saya rasa suami saya tidak takut pada hewan apapun."


Pengacara Kenzi tidak paham mengapa Nathalie sangat tahu sekali apapun tentang Dilan, sementara Selena, dia bahkan tidak tahu bahwa Dilan sebenarnya sangat takut pada ulat.


"Apa anda tahu Tuan Dilan mengidolakan siapa?"


Selena tentu saja tak tahu jawabannya, dia malah tertawa, "Mengapa Anda seperti seorang wartawan saja Pengacara Kenzi? Jadi anda mengajak saya ketemuan hanya ingin memberikan pertanyaan konyol seperti ini?"

__ADS_1


Walaupun terkesan konyol, tapi bagi Pengacara Kenzi hal ini sangat penting, buktinya sekarang, mengapa Nathalie lebih tau segalanya tentang Dilan dibandingkan dengan istrinya? Sampai Nathalie tahu kelemahan Dilan, apakah mungkin Dilan lebih terbuka pada Nathalie? Apakah itu artinya Dilan lebih mempercayai Nathalie dibandingkan dengan istrinya sendiri?


__ADS_2