Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Setelah pulang dari pesta penyambutan CEO baru di Niroga, Pengacara Kenzi tidak langsung pulang ke rumah, dia ingin menemui Dilan dulu di ruangan rahasia yang ada di Rumah Sakit Niroga.


Pengacara Kenzi lama sekali memandangi Dilan yang masih terbaring koma, dia menghela nafas begitu dalam, dia harap keputusannya tidak salah dengan menjadikan Nathalie sebagai CEO sementara di Niroga, selama Dilan masih koma.


"Sebenarnya saya sangat penasaran mengapa Anda tiba-tiba ingin membatalkan rencana mewariskan seluruh harta Anda dan juga jabatan Anda kepada istri Anda? Lalu mengapa malam itu terakhir kita berkomunikasi Anda bilang bahwa Nona Selena adalah orang yang paling penting untuk Anda?" lirih Pengacara Kenzi.


Perkataan Dilan saat terakhir berteleponan dengan Pengacara Kenzi sangat berbanding terbalik dengan isi surat yang Nathalie berikan, tapi dia lebih memilih untuk mempercayai Nathalie.


Walaupun Pengacara Kenzi belum bisa mempercayai Nathalie sepenuhnya karena dia baru mengenal Nathalie. Tapi entah mengapa dia merasa meragukan Selena, istri dari sang Tuan Muda.


Pengacara Kenzi berkata lagi. "Saya harap keputusan saya tidak salah dengan menjadikan Nathalie sebagai CEO sementara di Niroga Group, sesuai dengan permintaan Anda di surat itu."


"Semoga Anda cepat siuman, Tuan. Hanya Tuan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi mengapa Anda bisa terluka seperti ini, dan mengapa ada mayat orang lain dijadikan mayat Anda, padahal Anda sebenarnya masih hidup." Sehingga mayat yang hangus terbakar itu semua orang mengira bahwa mayat tersebut adalah Dilan.


Kemudian Pengacara Kenzi duduk di kursi sofa, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sebentar lagi orang yang telah membunuh Tuan Andre dan Bu Lea akan segera dihukum mati, walaupun sebenarnya dia dulu sangat meragukan pengakuan Pak Arga, tapi pria itu bersikukuh mengakui bahwa dialah yang membunuh Tuan Andre dan Bu Lea.


Flashback On...

__ADS_1


10 tahun yang lalu, kala itu Dilan masih trauma dengan kejadian mengerikan yang telah dialami oleh kedua orang tuanya, sehingga lebih banyak mengurung diri di kamar. Saat itu Dilan masih berusia 15 tahun. Dia hanya mau diajak bicara oleh Justin, mungkin karena menganggap pria yang usianya lebih tua lima tahun darinya itu sebagai kakak kandungnya sendiri.


Pengacara Kenzi sengaja menemui Pak Arga di tempat dia di tahan, saat itu mereka sedang berada di ruang kunjungan. Sebentar lagi Pak Arga akan menghadapi sidang putusan akhir.


Sebenarnya di hari-hari sebelumnya Pengacara Kenzi sudah beberapa kali mencoba untuk menemui Pak Arga, tapi Pak Arga menolak untuk bertemu siapapun. Berbagai upaya telah Pengacara Kenzi lakukan sampai akhirnya Pak Arga bersedia bertemu dengannya.


Pengacara Kenzi sangat tahu bagaimana kepribadian Pak Arga, Pak Arga yang sikapnya begitu hangat dan juga sudah lama menjadi supir pribadi kepercayaan Tuan Andre, tak pernah melakukan kesalahan apapun, rasanya sulit sekali untuk mempercayai kejahatan yang telah dia akui itu.


"Pak Arga, saya masih belum percaya, bagaimana mungkin kamu tega membunuh Tuan Andre dan Nyonya Lea. Apa ada seseorang yang mengancammu?"


Saat itu Pengacara Kenzi datang kesana bersama Justin, karena Justin meminta Pengacara Kenzi untuk ikut dengannya. Justin walaupun usianya masih muda, tapi dia sudah diajarkan bagaimana cara menjadi seorang asisten, yang nantinya akan menjadi asisten pribadinya Dilan. Saat itu Justin masih kuliah di salah satu universitas terkenal di negeri ini dan masih tinggal di Mansion Niroga.


Pengacara Kenzi tidak tahu bahwa saat ini Pak Arga sangat ketakutan, apalagi melihat tatapan Justin yang begitu mengerikan.


Justin pura-pura terlihat emosi, begitu mendengar pengakuan dari Pak Arga. "Brengs3k!"


"Kenapa kamu tega membunuh Om Andre dan Tante Lea, keparat?" Agar aktingnya terlihat sempurna, Justin segera berdiri, lalu memukul wajah Pak Arga.

__ADS_1


Bugh...


Sehingga tubuh Pak Arga terjungkal ke lantai, bahkan kursi yang diduduki Pak Arga menjadi rusak. Tak berhenti disitu saja, Justin pun semakin brutal menghajar Pak Arga yang nampak tak berdaya terbaring di lantai, Pak Arga tak bisa melawan Justin, dia sangat takut Justin akan menyakiti putrinya.


Bugh...


Bugh...


"Seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan kamu, supir sialan!" Justin berkata seperti itu sembari memberikan banyak pukulan ke badan dan wajah Pak Arga.


Pengacara Kenzi segera memisahkan mereka, dia merangkul Justin yang sangat terlihat emosi, bagi Pengacara Kenzi sangatlah wajar jika Justin emosi dan marah pada Pak Arga karena dia sudah lama tinggal di Mansion Niroga, apalagi kedua orang tuanya Dilan sangat memperlakukannya dengan baik.


"Sudah Justin! Kendalikan amarahmu!"


Justin pura-pura terlihat menangis, seakan dia terpukul dengan kematian orang tua angkatnya itu. Sementara Pak Arga meringis kesakitan, tubuhnya telah dibuat babak belur oleh Justin.


Itulah terakhir Pengacara Kenzi bertemu dengan Pak Arga, seorang supir yang sangat tega membunuh Tuan Andre dan Bu Lea, dan sebentar lagi dia akan dihukum mati atas kejahatan yang telah dia lakukan.

__ADS_1


Flashback Off...


__ADS_2