Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Empat Puluh Satu


__ADS_3

Justin tertawa ketika mendengar cerita dari Hendrik yang mengatakan bahwa dia gagal membunuh Nathalie karena ditolong oleh hantu Dilan.


"Maafkan saya Tuan, saya gagal membunuh Nathalie. Hantu Dilan tiba-tiba saja muncul menyerang saya." Hendrik berkata dengan gelagapan, dia tak habis pikir mengapa bisa berkelahi dengan seorang hantu. Walaupun itu pertanda baik, yang artinya mungkin saja Dilan memang sudah mati.


Justin merasakan perkataan Hendrik seperti sebuah lelucon untuknya. "Hantu? Kamu pikir di dunia ini ada hantu? Bilang saja kalau kamu tidak sanggup melawan para bodyguard itu?"


"Saya berkata jujur, Tuan. Hantu Dilan menyerang saya sampai babak belur seperti ini." Hendrik tidak terima dianggap berbohong oleh Justin.


Justin menghela nafas, dia tetap saja masih tak mempercayai ucapan Hendrik, dia sama sekali tidak percaya akan adanya hantu di dunia ini.


"Apa Nathalie sempat melihat wajahmu?" Justin padahal sudah memperingatkan Hendrik agar tidak ada satu orang pun yang melihat wajahnya Hendrik.


Hendrik terpaksa menganggukkan kepala, karena faktanya memang begitu, Nathalie telah melihat wajahnya, begitu juga hantu Dilan, sayangnya Justin tak ingin mempercayai ucapannya.


Justin mendengus penuh rasa kesal, sampai emosinya meledak. "Padahal sudah saya peringatkan kamu, jangan pernah membiarkan siapapun melihat wajahmu."


"Maafkan saya, Tuan."


Justin mengusap wajahnya dengan kasar, untuk pertama kalinya dia merasa kecewa dengan pekerjaan Hendrik. "Untuk sekarang kamu jangan berkeliaran dulu, bisa saja Nathalie melaporkanmu ke polisi. Lebih baik kamu bersembunyi di tempat yang aman."

__ADS_1


Justin melemparkan sebuah amplop berwarna coklat yang tebal pada Hendrik. Hendrik sedari tadi berdiri dihadapan Justin, sementara Justin sedang duduk di kursi sofa, Hendrik membungkukkan badannya mengambil amplop yang berisikan uang itu.


...****************...


Ternyata benar saja firasat dari Justin, Nathalie melaporkan kejadian penyerangan malam itu ke kantor polisi. Sudah satu minggu berlalu, tapi polisi belum juga menemukan sosok Hendrik.


Bukan hanya itu, Nathalie juga telah menyewa seorang detektif ternama bernama Detektif Al untuk mencari kebenaran tentang kecelakaan yang telah menewaskan Dilan Niroga, walaupun Nathalie berharap Dilan sebenarnya masih hidup. Selain itu, Nathalie juga menugaskan Detektif Al untuk mencari keberadaan ayahnya.


Nathalie tak bisa mengabulkan permintaan Dilan untuk mundur, Dilan tak ingin Nathalie terluka. Tapi Nathalie tetap ingin melanjutkan rencananya, hanya sampai dia bisa menemukan siapa Partner itu, sehingga bisa menjebloskannya ke dalam penjara, dan juga dia ingin bisa bertemu dengan ayahnya walaupun hanya sekali saja, dia hanya ingin tahu bagaimana kehidupan ayahnya setelah pergi meninggalkannya.


Mungkin setelah urusannya selesai, barulah dia akan menepati permintaan Dilan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri, menjalani kehidupan barunya, mungkin dengan begitu dia bisa melupakan Dilan.


Sekitar jam 8 malam, Nathalie telah sampai ke apartemen, dia sudah tidak membutuhkan bodyguard lagi karena yakin Hendrik tidak akan mungkin mau mencelakainya lagi, setelah dia menjadi buronan. Walaupun dia harus tetap waspada kepada Selena dan partnernya.


Nathalie melihat Nino yang sedang berdiri di depan pintu apartemen, pria itu terlihat sedang membawa sebuket bunga mawar merah. Nino tersenyum melihat Nathalie yang sedang berada di depan matanya.


"Nathalie."


Pria itu tak pernah bosan untuk terus mendekati Nathalie, padahal Nathalie sudah meminta Nino untuk tidak mengganggunya lagi.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, jangan mendekati aku lagi. Diantara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, bukankah aku tidak penting untukmu?" Nathalie berkata dengan pandangannya yang dingin.


Sampai kapanpun Nino tak akan menyerah untuk mendapatkan Nathalie kembali. "Iya aku tau, kamu masih kecewa sama aku, tapi jujur aja selama ini aku gak pernah melupakan perasaan aku ke kamu."


"Aku capek, Nino. Aku mau istirahat." Nathalie menyuruh Nino untuk minggir.


Nino terpaksa harus mengalah, dia membiarkan Nathalie masuk ke dalam apartemennya begitu saja. Dia sangat menyesal, dia pikir dia bisa melupakan cintanya pada Nathalie dengan mengencani banyak wanita yang lebih segalanya dari Nathalie, tapi ternyata perasaannya untuk Nathalie masih tetap ada.


...****************...


Nathalie masuk ke dalam kamar Dilan, dia duduk dipinggiran kasur. Setelah Dilan pergi, Nathalie seakan tak memiliki gairah menjalani hidup ini, walaupun dia harus berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang.


Tanpa Dilan, dia sangat kesepian. Begitu sangat merindukannya.


Semua kenangan bersama Dilan terlintas dipikirannya, tak ada satupun yang bisa Nathalie lupakan, sehingga akhirnya dia harus menangis lagi, dia selalu menangis setiap malam, dan tidur di kamar Dilan.


Nathalie menangis terisak, sangat menyesakkan di dada.


Sementara itu, di rumah sakit, terlihat Dilan yang masih terbaring koma, seminggu yang lalu, Dilan telah berhasil melewati masa kritisnya, sehingga kondisinya kini mulai membaik.

__ADS_1


Rupanya Dilan sedang berjuang untuk bertahan hidup, dia memiliki keinginan yang sangat tinggi untuk hidup. Bahkan sekarang Dilan telah berhasil menggerakkan jemarinya


__ADS_2