
"Huaaaaa!" Nathalie menangis kejer, padahal sekarang ini dia sudah berpakaian lengkap, akan tetapi dia merasa dirinya masih telanjang bulat.
"Huhuhu..."
Nathalie sangat yakin Dilan pasti sudah melihat semuanya dari ujung kaki ke ujung kepala, sangat membuatnya malu, sampai Nathalie telah menghabiskan banyak tisu di ruang tengah tersebut, lantai disana telah seperti tumpukan salju.
Dilan kelihatan serba salah, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat Nathalie berhenti menangis, seakan dirinya seperti telah melakukan penca-bulan terhadap gadis itu.
Dilan hanya menggaruk kepalanya yang gak gatal, seharusnya dia mengintrogasi Nathalie mengapa Nathalie bisa tinggal di apartemennya, akan tetapi malah dirinya yang seperti tersangka sekarang ini.
Dilan memilih untuk mondar mandir di depan Nathalie, menunggu gadis itu berhenti menangis.
Bagaimana bisa dia mengintrogasi Nathalie jika Nathalie tak bisa berhenti menangis.
"Huhuhu..." Nathalie masih saja menangis memikirkan harga dirinya yang merasa telah terenggut paksa oleh kedua bola matanya Dilan.
Tisu yang masih berada ditangannya kini dia lempar dan kembali dia mengambil tisu baru untuk mengusap air matanya.
Kini Nathalie menggunakan tisu yang dia pegang untuk membuang ingusnya, lalu melemparnya ke lantai.
Dilan menghela nafas panjang, menatap Nathalie dengan tatapan kesal, betapa joroknya gadis dihadapannya itu.
"Hhh... apa kamu sudah puas menangisnya?" Dilan sudah tak sabar menunggu Nathalie berhenti menangis, dia berkacak pinggang di hadapan Nathalie.
__ADS_1
Nathalie menarik nafas dalam-dalam, agar bisa berhenti menangis, walaupun mau nangis sekencang apapun tetap saja rasa malunya tidak hilang juga.
Nathalie menatap ke arah Dilan yang sedang berdiri dihadapannya, dia sangat kesal, mengapa pria itu sama sekali tidak merasa berdosa padanya.
"Seharusnya kamu minta maaf padaku gara-gara kamu handuk aku melorot, pasti kamu melihat semuanya kan?" Nathalie berkata sambil terisak-isak.
Wajah Dilan terlihat memerah, dia menjadi salah tingkah diberikan pertanyaan seperti itu. Karena memang dia telah melihat semuanya, beruntung pertahanannya kuat walaupun sebenarnya tubuhnya dibuat panas dingin oleh Nathalie.
"Memangnya kenapa kalau aku sudah melihat semuanya? Gak akan membuat kamu hamil kan? Kenapa aku harus minta maaf?"
Nathalie menggigit bibir bawahnya, dia menatap Dilan dengan tatapan penuh rasa kekesalannya. Pria itu menyepelekan masalah harga diri. Untuk melampiaskan rasa kesalnya Nathalie menginjak kaki Dilan dengan keras.
"Arrrgghh!" Dilan meringis memegang kakinya , kemudian pandangannya menghunus tajam ke arah Nathalie.
Selama ini tak ada yang berani memperlakukannya seperti itu, tak ada yang berani menginjak kakinya. Semua orang begitu hormat kepadanya.
"Orang yang tak memiliki perasaan seperti kamu memang pantas mendapatkannya, untuk apa kamu diam-diam datang kesini?" Nathalie rupanya telah lupa bahwa apartemen itu adalah milik Dilan.
Dilan menganga, seharusnya dia yang bertanya seperti itu kepada Nathalie, mengapa Nathalie tiba-tiba berada di apartemennya?
"Ini apartemen aku, seharusnya aku yang bertanya, mengapa kamu bisa tinggal di apartemen aku? Bahkan kamu telah memakai kamar aku dan mandi di kamar mandi khusus untukku?"
Nathalie baru menyadari bahwa apartemen yang dia tinggali itu adalah miliknya Dilan, sehingga dia nyengir kuda. "Emm... ah iya aku lupa, ini memang apartemen kamu. "
__ADS_1
"Bagus kalau kamu sadar, terus kenapa kamu berada disini? Mengapa kamu bisa tahu pasword kunci apartemen ini?" Dilan tak paham mengapa Nathalie bisa tinggal di apartemennya.
"Karena kamu yang memberitahu aku ketika kamu menjadi hantu, kamu bilang aku boleh tinggal di apartemen kamu." Nathalie tidak mungkin bilang bahwa sebenarnya Dilan telah memberikan apartemen tersebut untuknya ketika Dilan menjadi hantu, dia sama sekali tidak mengharapkan itu semua.
Dilan sangat kesal jika Nathalie selalu bilang bahwa dirinya pernah menjadi hantu, suatu hal yang sangat mustahil dan tak masuk akal.
Akan tetapi dia juga tak paham mengapa Nathalie bisa mengetahui semua tentang Dilan, bahkan Nathalie tahu apartemen yang Dilan beli secara sembunyi-sembunyi, dan mengapa wajah Nathalie yang harus dia ingat ketika dia terbangun dari koma. Membuat dia menjadi penasaran dengan mantan cleaning servis itu.
Karena itulah Dilan tidak mungkin mengusir Nathalie dari apartemennya, karena dia sangat penasaran dengan gadis itu.
"Kalau kamu keberatan tinggal bersamaku, aku akan pindah dari sini." Bagaimana pun juga Dilan masih berstatus suami orang, Nathalie tidak ingin dicap perebut suami orang.
Setelah berkata seperti itu Nathalie beranjak dari duduknya, dia akan pergi ke kamar untuk membereskan pakaiannya.
Namun, Dilan menahan lengan Nathalie. "Siapa yang menyuruh kamu pergi? Kamu harus tetap tinggal disini sampai aku bisa menemukan teka teki yang masih belum aku pahami."
Nathalie terkejut, bagaimana mungkin dia tinggal satu atap dengan suami orang, dulu dia tidak mempermasalahkannya karena waktu itu Dilan masih menjadi hantu, tapi sekarang dia akan tinggal bersama seorang pria normal, berbahaya untuk dirinya. "Tapi..."
Dilan memotong perkataan Nathalie. "Kamu pilih saja mau aku laporkan ke polisi atas tuduhan penguntitan atau tetap tinggal disini."
Mata Nathalie melotot, dia tidak terima disebut sebagai seorang penguntit. "Pe-penguntit?"
Dilan menyebut Nathalie penguntit karena Nathalie bisa tahu apapun tentang Dilan, termasuk apartemen ini, padahal tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa Dilan telah membeli apartemen ini.
__ADS_1