Hantu Tampan Sang Pewaris

Hantu Tampan Sang Pewaris
Lima Puluh Enam


__ADS_3

Dilan menyapukan lidahnya dipermukaan bibirnya Nathalie, mendesakan lidah bermain di dalam rongga mulut Nathalie. Lidah Nathalie sama sekali tidak bisa mengimbangi belitan liar yang dilakukan oleh Dilan.


Ciuman mereka terasa panas dan liar malam ini, mungkin karena rasa cinta mereka begitu menggebu di dalam dada, sehingga ciuman itu terasa memabukkan.


Dilan melepaskan ciumannya, membiarkan Nathalie untuk mengambil nafas sebentar, dia memandangi gadis cantik itu dengan hasrat membara.


Nathalie terkejut ketika Dilan tiba-tiba saja menggendong tubuhnya, membuat dia reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher Dilan.


Jantung Nathalie berdebar-debar ketika Dilan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, yang pasti saat ini hasrat mereka menggebu.


Dilan merebahkan tubuh Nathalie diatas ranjang, kemudian dia memposisikan dirinya berada diatas Nathalie, mencium bibirnya kembali. Mencecap bibirnya tanpa ingin ada sela yang terlewati.


Kini ciuman Dilan turun ke leher, tak hanya menciuminya, tapi juga menyesap hampir tiap jengkal leher Nathalie.

__ADS_1


Namun, Nathalie tercekat begitu menyadari status mereka seperti apa, "Dilan!"


Dilan menghentikan aktivitasnya, dia memandangi Nathalie yang berada dibawah kungkungannya. "Kenapa?" Nafas Dilan terdengar begitu berat, mungkin karena pria itu telah dikuasai oleh naf-su.


"Kita tidak boleh melakukannya sekarang, sekarang ini status kamu masih menjadi suaminya Selena, dan aku ingin melakukannya setelah kita menikah." Nathalie mengatakannya dengan susah payah, jujur saja jika dia mengikuti hasratnya, dia juga menginginkan melampiaskan rasa rindunya kepada Dilan.


Dilan tersenyum smrik, "Itu artinya kamu ingin menikah dengan aku?"


Nathalie memandangi Dilan, dia merasa aneh dengan sikapnya malam ini. "Mengapa sikapmu tiba-tiba berubah? Apa mungkin kamu sudah mengingat kenangan kita ketika kamu menjadi hantu?"


Nathalie memeluk tubuh Dilan yang tak memakai baju itu, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Dilan. Dia sangat bahagia karena akhirnya Dilan bisa mengingatnya, apalagi sekarang dia telah mendapatkan ungkapan cinta dari Dilan.


"Aku juga sangat mencintaimu, Dilan."

__ADS_1


Dilan mencium rambutnya Nathalie, "Maafkan aku, Nathalie. Mungkin dulu aku adalah orang yang tak berperasaan, memecatmu tanpa belas kasihan. Dan terimakasih sudah menolong aku ketika aku menjadi hantu. Tapi kau harusnya senang, kapan lagi kamu bertemu hantu tampan seperti aku?" Dilan memang pernah berjanji, jika seandainya Dilan masih hidup, dia ingin minta maaf secara langsung kepada Nathalie karena telah memecatnya dengan semena-mena.


Nathalie menghela nafas, "Permintaan maaf macam apa ini?" Yang ada Dilan begitu narsis memuji dirinya menjadi hantu yang paling tampan.


Dilan terkekeh, "Oh iya, kamu habis darimana?"


Nathalie sebenarnya ingin bilang kepada Dilan bahwa dia habis makan malam bersama Justin karena dia ingin memastikan sesuatu yang dia curigai, akan tetapi dia tak punya bukti sama sekali, apalagi Justin adalah orang yang paling dekat dengan Dilan. "Makan malam bersama Justin, sambil membahas pekerjaan." Nathalie terpaksa berbohong.


"Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?"


"Ya, dia terlihat baik-baik saja."


"Baguslah kalau dia baik-baik saja. Justin itu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Dia adalah orang yang paling dekat denganku."

__ADS_1


Nathalie hanya menganggukkan kepalanya. Dia juga berharap apa yang dia curigai terhadap Justin itu tidaklah benar. Dilan pasti akan sangat terluka jika seandainya apa yang Nathalie curigai itu benar adanya, bahwa Partner itu adalah Justin, selingkuhannya Selena, sekaligus tersangka utama dalam percobaan terhadap Dilan.


__ADS_2