Hanya Berperan

Hanya Berperan
Bab 1. Tidak Mau Menikah


__ADS_3

Pernikahan itu indah jika yang menjadi pasangan adalah orang yang kita cinta.


Tapi, bagaimana jadinya jika pernikahan yang terjadi bukan atas kemauan kita? Dan ya, bukan dengan orang yang kita suka atau cinta? Rasanya sungguh berat.


Bukan sekadar belum cinta atau tidak suka, tapi yang ada di dalam dada Pravita hanyalah kebencian. Dendam yang belum sempat terbalaskan sejak masa SMA dulu, kini ia malah dipertemukan dengan orang yang sama dalam ikatan pernikahan karena perjodohan.


Tiga hari ini aku sama sekali tidak keluar dari kamarku. Sejak tahun lalu, mamah dan papah memintaku menikah dengan orang asing yang tidak pernah aku tahu seperti apa wujudnya.


Desakan demi desakan yang keluargaku tujukaan kepadaku membuatku harus berkata 'iya' meski sedikit terpaksa, ditambah lagi saat itu aku yang sedang frustrasi karena mendapati pacarku yang selingkuh dengan wanita lain.


Namun, beberapa hari lalu saat kegiatan makan malam, mamah dan papa menunjukkan selembar foto seorang pria yang akan menjadi calon suamiku. Aku terkejut bukan main, di dalam foto tersebut aku kenal jelas siapa pemilik wajah itu. Dia orang yang berada di masa laluku, masa laluku yang buruk.


"Mah, Pah, kenapa calonnya dia?" Protesku saat itu juga. Mamah dan papah saling berpandangan.


"Kenapa kalian nggak bilang ke aku kalau calonnya dia?"


"...." Tidak ada jawaban.


"Kenapa?!" Bentakku dengan suara yang begitu keras membuat mama tersengal dan papa menjatuhkan alat makan yang dipegangnya.


"Vita kenapa kamu begitu marah?" Mamah bertanya heran.


"Kenapa nggak bilang dari awal kalau calonnya dia? Vita nggak mau! Nggak mau, Mah." Aku berdiri dari kursiku.


"Vita, ada apa denganmu?" Papah bertanya.


"Aku gak mau sama dia, dia itu, ahh! kenapa Mamah dan Papah nggak bilang dulu ke aku sih?" Ucapku sewot.


"Mamah kan dari awal bilang, kamu aja yang terus menolak saat diminta ketemuan. Maksud kamu apa mengatakan tidak mau? Dan kenapa marah-marah begitu?" Ujar Mama yang sama meninggikan suara sepertiku.


Aku mengusap air mataku, "Aku gak mau nikah sama dia, aku mau pernikahan ini batal!" Ucapku, lantas berlalu pergi meninggalkan kegiatan makan malam tersebut.


"Vita!"


"Vita." Teriak mamah dan papah memanggilku.

__ADS_1


Tiga hari berturut-turut aku mengurung diri di dalam kamarku. Kini mamah dan papah masuk ke dalam kamarku, membujukku untuk melakukan sesuatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya dan ini sangat tidak adil kalau aku harus tetap melakukannya.


"Gak! Vita nggak mau, Mah!" Aku bangkit dari sofa. Sejak awal aku mantap menolak pernikahan ini setelah kutahu siapa yang akan jadi pasanganku.


"Pravita, kenapa kamu terus menantang mamah papah?"


"Mamah tidak mengerti perasaanku. Pernikahanku adalah kehendakku, bukan kehendak mamah atau papah. Aku ingin bahagia dengan caraku, pilihanku." Ujarku keras tak mau mengalah.


"Vita, ini bukan masalah kehendak mamah papah atau kehendakmu..."


"Lantas, ini kehendak siapa lagi kalau bukan mamah dan papah? Nggak, Pah, Mah, aku gak mau nikah." Cetusku saat itu tanpa ada keraguan sedikitpun.


Di dalam ruangan yang besar dan ber-AC ini, aku merasakan teramat gerah dan berkeringat. Entah, karena temperaturnya kurang rendah atau aku yang sedang terbakar emosi.


"Pravita, kamu tidak bisa menghentikan pernikahan ini karena semua undangan telah disebar, acaranya lusa. Bodoh kalau kamu menolaknya sekarang." Ujar mamah.


Ucapan mamah memberikan jalan keluar atas persoalan ini. Jika mamah tidak mengatakan hal itu, maka aku tidak akan pernah tahu kapan tepatnya pernikahan itu akan berlangsung.


"Nah, justru itu! JUSTRU itu, Mah. Sebelum pernikahan terjadi, selama masih ada waktu untuk pembatalan. Mengapa nggak bisa?"


Plak! Plak! Tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kananku bergantian. Sejenak aku terdiam dan menunduk, mengelus pipi kedua pipiku bergantian.


"Mudahnya kau mengatakan itu? Kapan kamu akan menghargai Mamah? Kamu tidak pernah menghargai mamah, Vita!"


Kuangkat kepalaku, wajahku dan wajah mamah berhadapan. Dengan senyum sinis aku mengatakan pada mama. "Kurang keras, Mah. Nggak kerasa!" Ucapku menantang, meski yang terasa sakit bukan di bagian pipi, tapi hatiku. Hatiku yang terasa sakit.


Rambutku yang tergerai menjadi sasaran empuk mamah untuk menyerangku. Menarik rambutku ke kiri sampai kurasakan pedih di kulit kepalaku. Untunglah Papah sigap menarik mundur tubuhku dan melepaskan genggaman tangan mamah yang bersarang di rambutku.


"Kurang ajar! Sini kamu, sini! Biar mamah tampar lebih keras! Kurang ajar!" Mamah meronta-ronta seperti ingin menghabisiku. Aku sebenarnya takut dan kuputuskan untuk mundur beberapa langkah. Kalau saja, Papah tidak menghalangi Mamah, pasti saat ini aku sudah hancur oleh amukan mamah.


"Mah, sudah mah. Jangan, cukup-cukup." Lerai Papah.


"Huks," bagaimanapun aku mencoba menantang, nyatanya aku tetap menangis.


"Mah, kapan Mamah mau mendengarkan aku? Kapan aku bisa bernapas lega tanpa harus menuruti aturan harus ini dan itu, Mah?" Dalam tangisku aku meminta belas kasihan mamah untuk membatalkan pernikahan ini.

__ADS_1


Aku memberanikan diri mendekat kepada Mamah yang masih tersengal napasnya karena amarah di dadanya. Aku tahu, Mamah pasti kecewa dengan penolakanku. Tapi, aku sangat berharap bahwa ini tidak pernah terjadi di hidupku.


Aku merendahkan tubuhku, berangsur kakiku yang semakin rendah, sampai akhirnya aku duduk bersimpuh di hadapan Mamah dan Papah.


"Mah, maafkan aku. Maaf bikin mamah marah, semarah ini. Vita memang anak yang berbakti, Mah."


Kudengar Mamah juga menangis, "Tapi, Vita mohon sama mamah. Kali ini saja, Mah. Tolong, Vita tidak mau pernikahan ini terjadi, tolong, Mah."


"Mah, Pah." Aku mendongak, menatap mamah dan papa dari bawah sini. Papah sejenak menatapku, tapi tangan Papa masih merangkul bahu Mamah.


Mamah yang mengelap air matanya dan menetralkan emosinya, sepertinya mamah akn berkata sesuatu.


"Tidak, Vita. Pernikahanmu akan tetap terlaksana besok lusa."


Aku berdiri dengan spontan, "Mah!"


"Mama tidak butuh penolakan darimu, semua sudah menjadi keputusan mamah dan papah, termasuk keluarga besan. Tidak ada yang bisa menghentikan bahkan kamu atau pasanganmu."


"Mah, nggak, Mah. Vita mohon! Mah, tolong mah, jangan seperti ini, Mah." Aku memegangi lengan mamah, bergelayut di lengan kanan mamah.


"Cukup!"


"Mah, tapi..."


"Cukup, mamah harus pergi sekarang. Besok banyak tamu yang datang, jangan berulah."


Mamah melangkah keluar dari kamarku ini, mamah dan papah pergi tanpa pernyelesaian masalah.


"Mah, Pah. Kalian mau kemana? Ini belum selesai." Ujarku mencoba menghentikan mereka.


Apakah pernikahan ini akan tetap terjadi?


Tapi, aku tidak mau, aku harus berbuat sesuatu.


Kini aku duduk di depan kaca riasku, kubuka laci di bawahnya. Ya, benda yang bisa membantuku, meloloskanku dari masalah ini, sebuah cutter.

__ADS_1


"Lebih baik aku mati daripada tetap hidup dengan takdir yang seperti ini." Berkata pada diriku sendiri di depan pantulan cermin.


__ADS_2