
Sejak awal aku mengenyam pendidikan Papah dan Mamah menyekolahkanku di salah satu sekolah elit di kotaku. Sekolah bertaraf internasional yang sangat aku banggakan. Bukan hanya sebagai siswa yang biasa saja, tetapi papah juga sebagai saah satu investor perusahaan yang mempunyai yayasan pendidikan yang mendirikan sekolah tersebut. Hal itu membuatku menjadi siswa yang tidak bisa diremehkan. Semuanya warga sekolah menunduk saat berpapasan denganku.
Teringat, masa remajaku yang menyenangka karena dikelilingi teman dan orang-orang yang sayang padaku. Namun, ada ha yang paling aku benci saat masa itu.Tahun di mana aku duduk di kelas 2 SMA. Masa-masa yang indah dengan usiaku yang menginjak remaja lanjut. Aku mulai suka bersolek, mencari perhatian lawan jenis dengan begitu narsistik dan obsesif. Menyangka jika semua laki-laki akan suka padaku karena semua temanku mengatakan jika aku cantik bak bidadari. Namun, ternyata tidak bagi seorang lelaki yang selalu melayangkan tatapan sinis padaku. Dia teman seangkatanku, ketua OSIS pada kala itu.
Bagaimana mungkin aku tidak bisa merebut hati ketua OSIS sok kegantengan itu?
Dia bernama Naufan Pradipta Angkasa. Kesombongannya tidak boleh sampai meremehkanku, dia memang cukup berkuasa pada saat itu. Pendiam, tapi menghayutkan.Tidak ada yang berani bergurau dengannya. Aku tahu, mungkin dia anak dari salah satu investor sekolah ini juga. Sikapnya yang dingin kepad semua orang seperti itu bukan menjadi masalah bagiku, yang menjadi kesalahannya adalah saat dia mengabaikan senyuman yang pernah kutunjukkan kala itu di tangga menuju lantai 2, dimana kelasku berada.
Semua murid yang berada di belakangku tertawa, selama ini aku tidak pernah menjadi bahan candaan oleh siapa pun. Namun, beraninya dia menyepelekan senyumanku dan membuatku menjadi bahan lelucon. Sial!
Dengan hati yang tercabik-cabik, aku bersumpah akan membuat dia bertekuk lutut kepadaku. Mengemis-ngemis belas kasihan padaku, aku bukan manusia biasa dan rendahan yang bisa diperlakukan seenaknya seperti itu, jangan berpikir jika aku murd biasa saja. Dia tidak bisa memperlakukanku seperti itu. Itu suatu penghinaan bagiku.
Mulai saat itu aku membencinya, sangat benci dan tidak mau melihat wajahnya barang sekali.
Ruang OSIS berada di sebelah kelasku. Hari itu aku sudah bersiap untuk membalas perbuatannya, di tangaku sudah ada lem kuat yang akan kusiram pada gagang pintu ruang itu. Namu, sebelumnya harus aku pastikan jika yang masuk ke ruang OSIS itu adalah dia. Waktu istirahat telah tiba, diam-diam aku memperhatikan sekitar. Dari kejauhan, aku melihat dia yang berjalan mendekat ke anak tangga lantai 2.
ya, dia datang.
Aku mulai meneteskan lem memutari gagang pintu sampai lem itu menetes ke lantai. Satu botol berisi cairan lem 100 mL itu kutuangkan semuanya ke gagang pintu itu sampai ujung genggamannya. Baunya sangat menyengat sampai membuatku terbatuk-batuk dan membuatku mual.
Aku bersembuyi di baik pintu kelasku, melihat dia yang mulai muncul dari bawah tangga. Menghitung langkahnya sampai tangan kanannya memegang gagang pintu itu.
1, 2, 3
"Auh?" Dari tempatku berdiri, kudengar dia mengaduh.
"Hihihih, rasakan. Uhuk uhuk uhuk," uajrku merasa puas melihatnya yang mencoba menarik tangannya dari gagang pintu itu.
__ADS_1
Pintu itu terbuka, tapi tangganya tidak bisa lepas dari gagang engsel pintunya. Kemudian, banyak orang yang datang mencoba membantunya. Bahkan ada guru yang sampai mengelus rambutnya.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya guru pria di sana.
Semua murid yang mengelilinginya menggelengkna kepalanya. "Ada apa itu, Pravita?" Tanya beberapa teman kelas yang berdiri dan menepuk pundakku.
"Aku tidak tahu, uhuk uhuk uhuk."Jawabku seraya mengendikkan kedua bahuku. Setiap aku berbicara, selalu batuk menyertainya. Dan bau dari lem itu masih tercium di hidungku.
"Bukannya itu Naufan ya?" Ujar Rania, teman kelasku.
"Kenapa dia? Apa yang terjadi di sana?" Rania melihat-lihat karena penasaran.
"Aku juga tidak paham. Uhuk uhuk uhuk." Jawabku.
"Kok kamu batuk-batuk begitu?"
"PRAVITA?!"
Hilang kesadaran, saat terbangun aku berada di daam rumah sakit. Aku yang pingsan karena terindikadi keracunan bahan kimia kandungan lem kuat itu. Dan itu yang menjadi bukti jika aku adalah pelaku yang mengoleskan lem pada gagang pintu ruang OSIS.
Hari berikutnya aku disidang di dalam ruang kepala sekolah, tetapi tidak sendiri ada orang tuaku yang menemaniku. Perbuatanku tidak mendapatkan hukuman apapun hanya nasihat yang diberikan kepadal sekolah kepadaku jika itu adlaah hal yang salah, tanpa memberikan hukuman atau skorsing.
Ya, aku tahu mereka tidak akan menghukumku karena perbuatanku itu karena mereka masih membutuhtkna uang ayahku. Benar-benar ya, hahaha.
Beberapa hari setelahnya aku tidak melihat laki-laki itu berkeliaran di sekolah, tapi pada minggu berikutnya aku melihat dia dengan tangan kanannya yang berbalut perban putih. Melihat dia dengan tangan yang berbalut kain putih itu aku merasa kasihan, tapi ada kepuasan dalam diriku karena pembalasanku dapat dikatakan berhasil.
Tidak banyak dampaknya, itu tidak terlaalu membuatnya sulit karena dia ternayata seorang yang kidal. Manuls dan makan bisa dilakukan dengan tangan kirinya, tidak ada ubahnya. Aku mneyadarinya saat dia makan di kantin, dengan mudahnya memasukkan makanan dengan tangan kirinya, dan tanda tangan pada berkas dengan tangan kirinya itu.
__ADS_1
Ctak! Aku memukulkan sendok pada meja makan kantin saat melihatnya seperti tanpa ada masalah dalam hidupnya itu.
Selesai makan, aku akan kembali ke kelasku bersama Rania dan Anida. Di depan pintu keluar kantin, Anida meminta kami untuk menunggunya sebentar karena ponsenya tertinggal di meja makan tadi. Di saat bersamaan, Rania izin padaku untuk menunggunya juga karena ia ingin ke toilet yang berada di sebelah kantin ini.
Di saat itu, aku sendiri berdiri di samping pintu menunggu teman-temanku. Namun, datang Naufan dan beberapa teman laki-lakinya.
"Oh, ini ya gadis yang psikopat itu?" Ujar salah seorang laki-laki itu.
"Hahaha," mereka tertawa dan tidak terkecuali laki-laki yang menyebalkan itu. Dia ikut tersenyum bukan hanya tersenyum licik, tapi dia juga menambahkan sebuah ucapan yang membuatku naik pitam. " Kalau bukan psikopat, dia tidak akan punya niat mencelakai orang lain. Hem." Ujarnya seraya berjalan dengan santainya.
Aku menghela napas panjang, mengejar langkah mereka dan menghadangnya.
"Wuish. Awas, psikopat marah." Mereka mengataiku lagi.
Dengan melayangkan tatapan oenuh kemarahanya, aku meraih tangan kanan si laki-laki menyebalkan itu, lalu menjabat tangannya dengan memberikan tekanan penuh pada tangannya lalu membantingnya ke bawah.
"Auh! Oh, aduh!" Dia berteriak, saat tangannya terbanting dengan keras mengenai pahanya sendiri.
Di saat itu, aku pergi meninggalkan mereka tanpa peduli.
"Naufan!"
"Tolong! Tolong!"
"Bu, tolong! Naufan, Bu."
Teman-temannya khawatir dan memanggil guru-guru untuk mengambil tindakan, sednagkana aku melihat dia dibopong oleh beberapa temannya untuk di bawa ke UKS (mungkin).
__ADS_1
"Hem, rasakan! Makanya nggak usah songong!" Ucapku dengan senyuman yang penuh kepuasan.