
Kejadian itu tidak membuatku kapok dengan perbuatanku yang ingin selalu menghajarnya setiap saat. Hanya berupa skorsing satu atau dua hari, tidak menjadi masalah bagiku.
---
Setiap semester diadakan agenda kegiatan di luar sekolah, kali ini kegiatan itu dilakukan di Jepang. Agenda akhir di akhir tahun dengan puncaknya perayaan di musim dingin di Jepang. Kegiatan kunjugan di beberapa situs bersejarah sekaligus tempat belajar menjadikan belajar semi liburan ke beberapa destinasi di negara sakura itu. Hal yang sangat kutunggu untuk pergi ke Jepang walaupun itu untuk ke sekian kalinya, meski begitu aku selalu merindukan negeri itu dan tidak pernah bosan untuk berkunjung ke sana.
Campschool yang aku nantikan itu menjadi momen buruk kala aku berada di kelompok yang sama dengannya, si laki-laki menyebalkan itu. Aku memprotes, tapi pihak sekolah lebih berpihak pada si ketua OSIS itu yang tidak menghendaki perombakkan anggota kelompok dengan alasan keadilan.
"Kelompok-kelompok ini dibagi atas perombakkan yang ditentukan secara acak satu angkatan, tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya. Kalau dilakukan perombakan hanya karena keinginan satu orang saja, itu tidaklah benar, Miss, Mister." Ucapnya sok bijak di hadapan dewan kesiswaan pada saat itu.
Sebenarnya yang membuatku berat adalah kelompok itu digunakan untuk menyusun proyek yang akan dilakukan pada saat campschool di Jepang, sedangkan dalam peraturan tidak boleh berpisah antar angggota kelompok saat melakukan kunjungan. Itu artinya aku akan selalu berada di dekatnya, dapat kubayangkan kemuakan seperti apa yang akan aku rasakan nanti.
Jumlah murid seangkatan tidaklah banyak, hanya terdiri dari 60 murid. Semua angkatan terbagi menjadi 12 kelompok yang berarti setiap kelompok terdiri dari 5 orang. Kelompok kami bernama "Venus", ada aku, Rania, Shafa, Eliza, Rayden, dan manusia menyebalkan yang bernama Naufan itu.
Di hari keberangkatan, saat akan apel pelepasan siswa dengan pihak orang tua yang turut mengantar serta, saat itu aku memasang wajah cemberutku.
"Jangan cemberut seperti itu, ada apa?" Tanya Mamah padaku.
"Nggak, Mah. Lagi moodswing aja, lagi haid juga." Jawabku saat mamah menyadari kesedihanku. Aku tidak pernah menceritakan apa masalahku dengan laki-laki menyebalkan itu pada mamah. Tidak ada yang tahu, jika aku membuat olah dan beberapa kali pihak sekolah memanggilku maka yang datang adalah asisten papah yang mengurus semya masalahku. Bukan karena mamah dan mamah tpeduli, teapi saat tu meraka sednag ada perkejaan di luar kota atau luar negeri. Jadi, mamah dan papah tidak banyak tahu tentangku karena aku yang meminta asisten papah untuk tidak bercertia banyak tentang apa yang terjadi padaku dan apa yang aku lakukan. Sejauh ini, semuanya aman di dalam kendaliku.
Hari pertama sampai di negeri sakura tidak ada kunjungan ke institusi, berarti tidak ada proyek yang harus dikerjakan. Di hari pertama, kami bertamasya mengelilingi Kota Tokyo. Kota itu sangat ramai dengan pejalan kakinya. Namun, jika diperhatikan dari dalam bus ini, justru lebih banyak orang berjalan kaki dan memenuhi jalan raya daripada kendaraan yang melintas.
Kalau dilihat, keadaannya berbanding terbalik dengan negaraku. Jika di sana jalan raya macet karena dipenuhi kendaraan, sedangkan di sini macet karena lalu lintas manusia yang berrebut menyeberangi jalan raya. Sangat ramai di hari yang terbilang masih pagi ini.
Meski kami tidak diperbolehkan berpisah dari kelompok dan guru pendamping, tetapi setiap malam kami tidur dalam ruangan yang berbeda. Satu kamar penginapan berisi dua orang, aku bersama Eliza.
Hari kedua tiba, udara Tokyo ternyata sangat dingin kurasakan. Aku tidak kuat jika berada di hawa dingin terlalu lama, apalagi aku tidak membawa jaket atau sweater sejenisnya. Dalam kunjungan ke salah satu museum arkeolog nasional Tokyo yang berada di kawasan Uenokoen,Taito, aku kurang fokus pada penjelasan tourguide yang menajelaskan banyak hal. Aku hanya fokus menggosok-gosokkan telapak tanganku, kemudian kutempelkan pada kedua pipi dan sekitar leherku. Meski di dalam sini tidak terlalu dingin seperti saat di luar tadi, tetapi tetap saja aku kedinginan.
"Kamu sakit?" Suara seseorang terdengar di sebelah telingaku. Dia, orang itu. Dia bertanya padaku untuk pertama kalinya. Aku menggeleng pelan, lebih merasa heran mengapa dia bertanya. Apa dia memperhatikanku sejak tadi?
Ia mendekat padaku, hingga kami berhadapan. Alih-alih mendapat pertanyaan lebih darinya, dia malah mengomeliku dengan seenak hatinya, "Memang di sini dingin karena ada AC, nggak usah kampungan seperti itu. Perilakumu itu dapat mencoreng nama baik sekolah tahu, tidak?"
Sontak aku mendelik, bisa-bisanya dia menyebutku kampungan dengan gamblangnya mulut itu berucap demikian. Aku sangat kesal, harga diriku seakan diinjak-injak olehnya. Aku anak dari keluarga Hatmoko, ayahku pemilik perusahaan besar, tidak ada yang mengataiku kampungan sebelumnya. Tapi kenapa dia....?
__ADS_1
Aku mencari benda apapun dari dalam tasku. Ya, ketemu. Sebuah botol mimun yang mash terisi penuh. Ku ambil dan kulemparkan pada sasaran. Dan tepat mengenai kepala bagian belakangnya, walaupun bukan itu yabg menjadi sasaran lemparan botol air minumnku, Tapi tak apalah.
Dia yang sedang berjalan menjadi tidak seimbang dan terhuyung ke samping. Bukan terjatuh biasa seperti yang aku perkirakan, tetapi kelapanya membenturbatas pembatas antara pengunjung dengan fosil yang yang dipajang. Sayangnya, pembatas yang terbuat dari besi itu bergeser danmembuat suara decitan pada lantai yang memekik dan membuat semua mata memandang pada sumber suara.
Dia dalam posisinya yang jatuh menyamping memegangi kepalanya. Ada bercak darah di lantai berwarna mocca itu Apa? Berdarah?
Guru-guru berlarian mendekat pada laki-laki itu. Menanyakan ada pa dan apa yang terjadi. Dari belakangku, bahuku ditepuk oleh salah satu guru. "Andai saja kamu bukan anak dari salah satu invertsor ya."
Akibat kejadian itu, aku menjadi sedikit merasa bersalah. Kegitan kunjungan hari itu hanya samai di situ dan semua siswa di pulangkan ke hotel.
Di dalam kamar itu, aku merenungi perbuatanku. Apakah salah? Aku tidak sengaja melakukan itu. Aku tidak sengaja membuatnya terluka. Itu semua karena kau geram pada sikapnya yang menjengkelkan.
"Pravita apa yang terjadi padamu? Apa yang merasukimu sampai bisa mencelakai orang lain seperti itu?" Eliza duduk d sebalahku.
"Katakan, apa salahnya? Apa yang membuatku melakukan itu?"
"Aku hanya tidak sengaja." Jawabku lemas.
"Kamu mencelakai dia untuk kesekian kailnya, apa itu semua tidak sengaja?" Eliza bangkit dan berkacak pinggang di depanku.
"huffh, aku bukan bermaksud memihak dia atau siapapun. Aku hanya khawatir padamu, apa yang akan dipikirkan orang lain terhadapmu setelah ini? Jika terajdai masalah di antara kalian berdua, selesaikan baik-baik. Jangan samapi ada yang tersakiti." Eliza berkata sambil memelukku.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatnya begitu." Uajrku saat dagu ini menempel pada bahu Eliza.
"Apa kalian pacaran? Dan sedang ada masalah atau perseligkuhan?" Celetuk Eliza.
"Hei, tidak. Apa maksudnya? Tidak ada hubungan apapun antara aku adan dia ya! Ini karena unsur kekesalanku terhadap tingkahnya saja." Aku mengelak dengan penjelasan lengkap.
Malam harinya, Mr. Anderson datang mengetuk kamarku. Beliau mengatakan bahwa akau harus ikut dengannya ke rumah sakit.
"Kenapa saya harus ke sana, Mr Anderson?"
"Orang tua Naufan ingin bertemu denganmu, ayo." Aku mengajak Eliza untuk pergi bersamaku dan Mr. Anderson tidak keberatan untuk itu.
__ADS_1
Di dalam rumah sakit yang cukup besar, aku mengikuti langkah Mr. Anderson dan tiba di sebuah kamar rawat bertuliskan "VVIP". Pintu terbuka dan aku mendapati dia yang berbaring di atas ranjangnya dengan dahi yang berbalut kain putih.
"Minta maaflah pada Nyonya Wirawan, Pravita." Ucap Mr. Anderson memerintahku. Aku mendongak, lalu mengangguk. "Permisi, Nyonya, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Ujar Mr. Anderson.
Bukankah tadi Mr mengatakan jika mereka yang ingin menemuiku? Mengapa sekarang terbalik?
Wanita itu berbalik badan dan tersenyum pada kami yang berdiri di dekat pintu. "Kemarilah, Nak. Kamu pasti mau melihat keadaan temanku ini kan? Kemarilah." Ujarnya lembut dengan tangan yang melambai padaku supaya mendekat.
Mr. Anderson mendorong sedikit punggungku, aku mendongak dan dia pun mnegangguk. Dengan ragu, aku mendekat beberapa langkah.
"Saya keluar dulu, Nyonya. Permisi." Mr. Anderson berpamitan dan diangguki oleh nyonya itu. Beliau keluar dengan membawa serta Eliza bersamanya.
"Aku tunggu di luar ya?" Eliza yang diperintahkan keluar oleh Mr. Anderson tidak dapat melawan.
Seorang wanita dengan rambut bob turun dari ranjang itu, menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tatapan lembut tadi berubah menjadi tidak mengenakan. "Kamu yang bernama Pravita itu? Anak dari Hatmoko?" Tanya wanita itu yang kusangka ibu dari laki-laki yang sedang terbaring itu.
"Apa yang telah kau lakukan pada anakku? Beraninya kamu membuat anakku terluka untuk kesekian kalinya, hah? Ayah dan anak sama saja!"
"Lihat apa yang telah kamu lakukan, anak nakal! Dia tak sadarkan diri karena ulahmu. Jika saja kau bukan bocah, sudah kujebloskan ke penjara." Ujarnya seraya menujuk-nunjukku dengan jari telunjuknya.
"Tidak tahu diri!" Ucapnya lirih seperti desisan di telingaku.
Aku hanya diam dan menautkan jemari tanganku dengan sangat kuat, aku gemetaran mendapatkan kecaman seperti itu dan ditambah melihat orang yang terbaring tidak sadarkan diri itu karena perbuatanku. "Kupastikan kau akan dikeluarkan dari sekolah dan lihat saja apa yang akan terjadi di masa nanti." Ucap wanita itu padaku.
"Keluar dan lihat saja apa yang akan terajdi pada kelurgamu."
Aku mengeryit, apa maksdunya? Mengapa membawa-bawa keluargaku?
"Mengapa Anda membawa-bawa keluargaku? Aku tidak melakukan ini karena kesengajaan." Kini aku berucap, mambalas tatapannya.
"Semakin yakin dengan kualitas ayahmu yang tidak pernah becus bahkan mendidik anaknya pun gagal."
"Nyonya Wirawan, apa yang Anda katakan? Anda yang tidak becus mendidik putra Anda ini sehingga berani merendahkanku mungkin dia juga merendahkan orang lain dan membuat banyak hati terluka, sama seperti yang aku rasakan." Ujarku dengan berani.
__ADS_1
"Memang kau pantas untuk direndahkan, tidak punya tata krama. Keluar dari sini!" Perintahnya padaku, Tanpa diusir pun sejak awal aku sebenarnya tidak sudi datang kemari.