
Kegiatan Campschool itu tetap berjalan di hari-hari berikutnya. Agenda itu disusun untuk dua minggu ke depan sampai datang musim dingin pertama yang diperkirakan akan turun salju pada tanggal 5 Desember mendatang.
Beberapa hari berlalu, kelompokku hanya tersisa 4 orang. Dia tidak bisa ikut kegiatan ini karena masih berada di bawah pengawasan dokter dan orang tuanya. Kudengar-dengar kabarnya, katanya akan di bawa pulang setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Hari itu mamah menghubungiku, bertanya kabarku dan bagaimana keadaanku selama kegiatan itu berlangsung. Mamah meminta maaf karena tidak menghubungiku dalam dua hari itu karena ada masalah di kantor Papah. Kantor cabangnya yang berada di Jakarta Pusat mengalami kebakaran.
Deg! Aku teringat dengan ancaman yang nyonya Wirawan katakan tempo hari saat di rumah sakit.
Apa mungkin itu karena?
Tidak, tidak mungkin. Itu hanya kebetulan saja.
Mamah mengatakan jika itu murni akibat kelalaian pekerja, jadi aku tidak boleh berprasangka buruk.
Tersisa tiga hari berada di negeri sakura. Besok adalah malam puncak dan gala dinner, dan lusa kami harus kembali ke Indonesia. Sore hari, aku meminta Eliza untuk menemaniku keluar hotel dan masuk ke toko suvenir di dekat hotel ini. Dari atas ini, terlihat gemerlap lampu dari toko suvenir itu. Aku mencaritahu lewat internet, dan benar itu adalah toko kecil yang menjual suvenir.
Memang dibolehkan jika siswa ingin keluar dari hotel dan berjalan-jalan, tetap tidak boleh sendirian, harus mendapat izin dari guru pendamping dan tidak boleh melebihi pukul 9 malam. Aku dan Eliza turun ke Lobby, mencari Mr. Anderson selaku guru pendamping kelompok kami. Aku mendapatkan izin dan bisa keluar menghirup udara malam di penghujung musim gugur yang sudah terasa dingin karena beberapa hari lagi berganti dengan musim dingin.
Namun, mataku teralihkan kala melihat sebuah coffeshop yang masih buka di sore hari menjelang malam ini. Aku melihat dia duduk bersama teman-teman segengnya yang biasa berkumpul bersama.
"Dia tidak jadi pulang?" Ujarku lirih, bertanya pada diri sendiri.
"Hah? Siapa?" Eliza menyaut.
"Oh, tidak. Tidak ada. Ayo!" AKu menarik tangan Eliza dan sedikit berlari menuju toko suvenir itu.
Di toko suvenir itu, aku melihat dengan pasti apa yang membuat toko itu gemerlap terang di sore hari seperti ini. Ternyata sebuah lampu mirip lampion berwarna bening dan dapat berganti warna karena lampu di dalamnya. Benda itu menggantung dan berputar di dekat pintu keluar toko suvenir. Cahayanya bagus, terang , tetapi tidak menyilaukan karena cahanya membias bukan memancar yang dapat menusuk retina mata pengunjung yang melihat.
Namun, benda itu tidak dijual. Itu milik pribadi pemilik toko yang sekaligus penjaga toko tersebut. Sampai aku jumpai benda yang bercahaya mirip dengan lampion tersebut, tapi versi miniaturnya. Benda yang aku pegang saat ini dapat digantung dan memutar dengan tombol tertentu di bagian bawah lampunya.
Ada cahaya yang berwarna-warni jika lampu itu berputar, itu akan sangat bagus jika dipasang sebagai lampu tidur di kamarku nanti. Aku membelinya satu.
"Menelpon siapa?" Tanya Eliza saat aku menempelkan ponsel pada telinga kananku.
"Mamah, mungkin mamah mau dibelikan suvenir ini."
Telepon tersambung, "halo, Mah?"
Srek srek, gesreks sksks. Telepon di seberang sana sangat berisik. Sepertinya sambunganya jelek atau bagaimana aku tidak mengerti. Namun, setelah itu suara mamah terdengar jernih. "Iya, ada apa Vita?"
"Mah, Vita sedang di toko suvenir. Mamah mau dibelikan sesuatu?" Tanyaku pada Mamah.
"Aku video call ya Mah?"
"Eh, jangan! Jangan-jangan. Mamah sedang ada pertemuan." Mamah menolak melakukan panggilan video.
"Mamah mau beli apa? Vita beli lampu yang bisa berputar dan warna-warni." Aku memberitahu mamah dan memutarkan lampu itu di depanku.
"Belikan mamah piring saja, yang bermotif ya."
"Itu saja?" Tanyaku
"ya ya, itu saja. Sudah ya, mamah harus pergi."
"Okee, Mamah mau dibelikan --.... tut tut tut." Sambungan terputus.
"Mamah kamu sibuk ya?" Eliza ternyata berada di belakangku.
"Biasanya tidak, mungkin aku yang salah menghubungi di waktu petang begini."
Aku menemukan piring berwarna pink, piring antik bermotif bunga sakura yang tersisa dua buah saja dari toko itu. Aku membeli keduanya.
Pulang dari toko itu, hari sudah gelap. Namun, Eliza memintaku masuk ke dalam coffeeshop itu karena dia ngin membeli caffelatte. Aku mengiyakan, meski aku tahu di dalam masih ada laki-laki itu dan teman-temannya.
Aku berdiri di belakang Eliza yang sedang memesan di meja barista, dia ingin meihat langsung bagaimana Caffelatte art itu dibuat.
__ADS_1
"Aku ke meja itu ya El?"
"Iya, tunggu saja aku di sana." Eliza menjawab tanpa melihatku di belakangnya.
Aku memilih meja yang dekat paling dekat dari tempatku berdiri sebelumnya. Mengalihkan kegabutnku, aku melihat kumpulan foto yang aku ambil tadi siang bersama dengan teman-temanku di galeri lukisan Shiseido,Tokyo. Aku menyukai tempat itu, nuansa klasik dan aroma masa lampau sangat tercium di sana. Aku menyukai aroma kekunoan yang membawa ketenangan.
Namun, saat aku menggeser beberapa foto, terdapat satu foto yang menyita perhatianku. Foto dimana aku berdiri sendiri di sebelah bingkai berlukis tangan dan aku menirukan bentuk tangan tersebut. Aku ingat jika Rania yang memfotokannya, tapi hasil foto tersebut ternyata ada dia, si laki-laki menyebalkan yang berdiri di belakangku dengan posisi menyamping beralawanan arah denganku sehingga seperti berhadapan secara tidak langsung.
Dia seperti sedang melihat ke arahku, tapi...
"Halo, Pravita."
Jeder!
"Ah auh. Kau? Ada apa?"
"Boleh aku duduk di sini?"
"Hem, itu tempat duduk...."
"Eliza, ya aku tahu, Aku hanya sebentar karena ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
"Ada apa?" Aku bingung, mengapa dia tiba-tiba mengajakku berbicara? Dia, si lka-laki menyebalkan itu. Apa tidak salah aku membiarkannya duduk di depanku, berhadapan seperti ini?
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu." Ujarnya yang membuatku tersentak.
"Maaf?" Yang benar saja? Sungguh, apakah tidak salah mengatakan hal itu?
"Aku tahu aku salah, aku tidak peka. Aku minta maaf untuk itu."
"Maksudmu? Apa maksudnya ini?" Tanyaku.
"Ya, beberapa kali aku terluka karenamu." Ujarnya yang terdengar begitu aneh. Aku curiga kalau dia akan bermacam-macam.
"Pengakuan?"
"Pengakuan jika kau itu ada dan semua yang kau lakukan kepadaku adalah bentuk usahamu supaya aku bisa memperhatikanmu, betul?"
"Hah?"
"Kau berhasil. Bahkan bukan hanya perhatianku yang kau dapat, melainkan perhatian dari semua orang. Apa sekarang kau merasa puas?" Ucapnnya begitu tenang, tetapi aku bisa mendengar ada nada mengejek dari setiap kalimatnya.
"Mengapa kau berpikir begitu?"
"Aku tahu benar apa yang menjadi tujuanmu melakukan ini."
"Apa?" Tanyaku
"Semua karena kau suka padaku 'kan? Dan kau berharap aku bisa melihatmu 'kan?"
Aku menggeram, menatapnya dengan tatapan malas. Dia memang narsistik
"Asal kau tahu, keputusan hati tidak bisa dipaksakan, Pravita. Jika aku suka maka kubilang suka, jika tidak aku bilang tidak. Tidak usah berusaha keras supaya aku menyukaimu, tidak mungkin. Jadi, aku mohon jangan lakukan hal-hal gila lagi seperti ini." Ucapnya.
"Tidak perlu berpikir aku akan melihatmu sebagai bidadari dan semacamnya denganmu yang melakukan hal-hal seperti itu. Aku hanya ingin memberitahumu jika aku sudah mempunyai perempuan idaman yang selalu ada di hatiku. Dia tidak perlu bersolek, bermanja ke semua orang, tidak perlu menjadi seperti yang orang lain inginkan. Aku menyukai perempuan itu karena kepolosannya, karena dia tidak berlebihan, karena dia sudah cantik dengan keserhanaan dan apa adanya." Setelah berucap, dia beranjak dan kembali ke tempat duduknya.
Aku menatapanya sampai dia kembali ke segrombolan teman-temannya. Mereka tertawa sebentar kemudian pergi dari tempatnya ini.
Mataku terasa panas mengingat kalimat-kalimatnya itu, aku merasa sangat direndahkan di sini. Pikiranku kalut, aku menangis di tempat saat itu juga. Eliza hanya bisa mengelus punggungku beberapa kali. Akibat kejadian itu, aku sampai melupakan bingkisan yang berisi lampu dan piring antik itu.
---
Esok harinya adalah persiapan malam puncak, acara di gelar di sebuah ruang pertemuan hotel berbintang. Persiapan dilakukan oleh panitia termasuk pengurus OSIS. Sore hari pukul empat, seluruh siswa sudah harus memasuki ruangan tersebut. Dengan pernak-pernik hiasan dan dekorasi ruang yang tampak meriah dengan desain warna-warni layaknya pesta ulang tahun. Acara dimulai dengan bebeapa sambutan, lantas penampilan dari guru dan panitia. Disusul dnegan makan malam dan penampilan menari dan menyanyi lainnya.
Setelah itu, laki-laki itu pun unjuk gigi dengan menampilkan sebuah lagu, bukan dia yang menyanyi tapi satu perempan dari pengurus OSIS juga. Si cewek bernyanyi dan dia yang mengiringinya dengan memaikan gitarinya.
__ADS_1
Salah satu lagi Celine Dion berjudul My Heart Will Go On berkumandang menggelegar mengisis ruangan tersebut dengan di akhiri tepuk tangan yang meriah dan menggema semua bersorak gembira dengan pemampilan memukau dari keduanya.
Setelah itu, terdapat acara dansa yang diiikuti oleh semua peserta gala dinner. Guru-guru, staf, dan siswa-siswi menikmati kegiatan tersebut, semua orang beranjak dari kursi duduknya dan mulai menggerakkan badan mereka seirama dengan musik yang mengalun tenang dan kadang musik tempo cepat yang enak untuk menari salsa.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah dari mereka yang berdasa, menari, dan bergurau. Aku tidak ingin banyak bergerak saat ini, duduk dan melihat saja sudah cukup.
Tiba-tiba ada tangan yang mengulur di depan wajahku. "Mau menari denganku?"
Aku menengadah, melihat si pemilik tangan. Tenyata dia, kuembuskan napas berat. Aku menggeleng.
"Sungguh, tidak mau?" Tapi tangannya tetap meraih tangan kiriku dan memaksaku untuk bangkit dari kursiku.
"Aku tidak mau." Protesku lirih. Namun, sia-sia saat semua mata sudah berfokus padaku dan dirinya yang menjadi pusat perhatian dan mendapat sorakan, serta tepuk tangan yang meriah.
"Tersenyum, Pravita. Jika kau tidak ingin dikatakan psikopat, setidaknya tersenyum pada orang yang telah kau buat sakit berkali-kali." Ujarnya lirih di depanku. Aku heran dengan mulutnya yang bisa dan selalu dengan mulus mengataiku seenaknya, bahkan saat kepalanya masih berbalut perban dia tidak kapok denganku yang sampai saat ini masih ingin menghajarnya setiap kali aku melihat dia.
"Sudah cukup, lepaskan." Aku mencoba melepaskan tangannya dari tanganku, tapi gagal. Dia semakin menggenggamnya dengan erat.
"Tunggu musiknya habis. Tidak bisa kah kau melihat ada kepala sekolah di depan kita?"
"Menyebalkan, aku sangat membencimu asal kau tahu."
"Aku tidak."
"Aku tidak peduli, kau manusia terjahat yang pernah kukenal."
"Karena kau tidak suka padamu, lalu kau menyebutku jahat?"
"Ya!" Jawabku.
"Hahahah." Da tertawa pelan. Semua orang bertepuk tangan setelah akmi menyelasaikan gerakannya di ujung musik. Aku malu, aku pergi dari tempat itu.
Aku berada di balkon melihat pemandangan luar gedung yang gemerlap di langit malam. Meskipun udaranya dingin, tetapi terasa segar.
"Tidak masuk?"
"Kenapa kau ada di sini?" Maksudku apa dia mengikutiku? Ini kan cukup jauh dari tempat pertemuan itu.
"Aku bisa di mana saja asal kau tahu."
"Kau menguntitku?"
"Mana aku tahu kau di sini, di samping ini adalah kamarku. Aku bisa keluar masuk kamarku dari pintu itu." Dia menunjuk satu pintu yang dia maksud.
"Mau ikut malam nanti?"
"Apa?"
"Acara pemangganggan di lapanagan bawah. Acara puncak."
"Untuk apa? Siapa saja yang datang?"
"Ya, mungkin tidak bnayak. Yang mau-mau saja."Jawabnya.
"tapi lebih leluasa karena hanya siswa saja, tidak ada guru atau staff. itu murni kegiatan yang disusun oleh anak-anak OSIS." Jelasnya.
"Aku tidak bisa, mau tidur." Lalu aku pergi dari tempat itu. Entah pesta itu telah berakhir atau tidak, aku tidak tahu karena nyatanya aku ketiduran di dalam kamarku.
Menelpon Eliza.
"Eliza, dimana kau?"
"Aku ada di bawah, tempat pemanggangan. Kamu tertidur tadi, jadi aku ke bawah sendiri. Kemariah, ramai di sini."
Aku mengantuk, tapi rasanya sayang jika gaun pink yang kupakai ini hanya sebentar saja. Baiklah, aku akan menyusul Eliza di bawah.
__ADS_1