
Ternyata rumah itu bukanlah tempat tinggal kita, pantas saja barang-barangku tidak dikeluarkan dari bagasi mobilnya.
Di dalam mobil, "Kau dengar sendiri kan apa yang kakek minta?" Ucapnya mengingatkanku pada berbincangan singkat dengan kakek di ruangannya.
Kakek yang sebenarnya bukan sembarang kakek-kakek. Meskipin beruban memenuhi kepalanya, menggunakan tongkat untuk membantu berjalan yang berada di tangan kanannya, kaki dan giginya yang sudah bergetar saat digerakkan. Namun, bertolak belakang dengan kondisi fisik seorang kakek yang terkesan renta itu, beliau mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan keluarganya.
Perkataan kakek yang langsung diangguki oleh laki-laki menyebalkan itu. Satu kalimat kakek yang terngiang-ngiang di kepalaku, "jika kalian bisa membuktikan padaku bahwa kalian pasangan yang ideal, maka akan kuserahkan bila perlu semua yang kupunya kepada menantu cucu pertamaku, istri Naufan Pradipta. Bilamana ada perceraian, akan kucabut semua aset yang telah kuberikan." Ujar kakek sangat tegas meski dengan suara yang sudah bergetar.
"Jadi, sampai kapan kita tidak bisa bercerai?" Tanyaku, jujur saja aku tidak ada sangkut pautnya. Aku tidak mengingkan semua hal itu.
"Selagi kakek masih hidup. Jika kakek sudah mati, aku akan membebaskanmu." Jawabnya.
Aku melongo mendengar jawabannya. "Kau mendoakan orang lain mati?" Sergahku
"Kau tidak ingin perceraiannya?" Mengapa dia mengembalikkan pertanyaanku, seperti aku mendapat boomerang dari pertanyaanku sendiri.
"Tapi, aku tidak butuh semua itu. Biarlah kau ambil semuanya. Untuk apa perusahaan kalau aku tidak paham cara mainnya?" Ujarku tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Kau cukup jadi istriku saja, tidak perlu menolak. Nanti akan ku atur semuanya."
"lho heh lho heh? Kalau aku yang pemilik semuanya, kenapa kau yang mengatur?"
"Kau bilang tidak bisa cara mainnya? Ya sudah biar kuambil alih." Ucapnya, kini mobil berbelok di persimpangan menuju kawasan apartment elit.
"Hartanya, bukan termasuk mengatur hidupku." Jelasku padanya.
"mengapa ke sini?" Tanyaku.
"Ya, di sini tempat tinggal kita."
Oh ya? Tidak salah? Berati aku akan bertemu dengan teman-teman lamaku?
"Bukankah teman-teman SMA kita sebagian besar bertempat tinggal di sini? Rania, Anida? Seingatku."
"Aku tidak tahu, itu teman-temanmu, bukan teman-temanku." Sautnya yang tak acuh dan paling membuatku benci. Seperti tidak ada tanggapan lain saja yang lebih enak didengar telinga.
"Besok aku mau pergi kuliah."
"...."
"Besok aku akan ke Jakarta."
"...."
__ADS_1
"Seminggu aku tidak akan pulang."
"...."
Sampai mobil terparkir di sebuah halaman yang luas, ini bukan apartmen. Tapi rumah biasa, meski sama mewahnya. Dia tetap diam.
"Kok diam?"
"Apa yang perlu aku tanyakan, Pravita? Kau sudah jelas dengan tujuanmu." Dia menjawab, sekaligus mengeluarkan tas-tas yang kubawa dari rumah Papah.
"Kau tidak takut akan sesuatu hal?"
"Apa yang kutakutkan? Semua sesuai persyaratan. Aku akan membebaskanmu, dan aku tidak akan mengganggu kehidupanmu selama tidak ada urusannya dengan kepentinganku." Dia membawakan barang barang dan tasku masuk ke dalam rumah.
"Tolong bukakan pintunya." Pintanya, dia yang kerepotan membawa banyak barang. Namun, aku tidak bisa membantu karena aku tidak tahu apa sandi pintu ini.
"Tanggal lahirmu." Ucapnya.
Dan....
Ceklek.
Pintu dapat bergeser. Oh ya kah? Sampai rumah ini pun adalah milikku? Apa aku akan jadi kaya raya karena harta keluarga suami? OMG!!!
"Apa masalahnya? Itu perkara mudah." Cibirku saat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah itu.
"Kau tidak akan bisa masuk rumah ini dan menjadi gelandangan di jalan." Ujarnya seperti manusia tidak mempunyai hati nurani.
"Kurang ajar, kenapa kau selalu merendahkanku?"
"Kau yang selalu meremehkan sesuatu. Tidak selamanya masalah itu dipandang mudah." Tuturnya, menasihatiku.
"Ya, karena itu adalah kunci menghidari stress. Coping stress tahu, tidak? Yang selalu menganggap semuanya serius itulah yang dapat mendatangkan stress." Aku memberi tahunya.
"Lalu?"
"Lalu apa? Lalu bisa stroke, habis itu mod-dyar alias is dead!" Melintangkan tangan di depan leherku. Bisa-bisanya bertanya "lalu" setelah kujelaskan.
"Hari ini atau besok ibu datang, kumohon di rumah dulu. Habis itu kalau boleh pergi ke ujung dunia sekalipun." Ucapnya.
"Baiklah, dimana kamarku?" Aku hanya mengekor di belakangnya. Berjalan menaiki anak tangga yang tidak kunjung sampai tujuan.
"Di sini." Ia memasukki sebuah ruangan. Besar, bahkan sangat besar. Harum dan bersih, rapi, dan simpel. Aku suka desain kamar ini.
__ADS_1
Dia malah berbaring di atas ranjang, di samping tempatku duduk.
"Kamu dimana?" Tanyaku.
"Di sini."
Aku memutar bola mata.
"Kamarmu?" Tanyaku sekali lagi.
"Di sini juga. Hanya ada dua kamar di rumah ini."
"Apa? Kenapa bisa?" Tidak habis pikir, rumah sebesar ini hanya ada dua kamar.
"Kamar satunya itu untuk tamu yang datang. Besok ibu datang, apa katanya jika ada barang-barangmu di
sana?" Jelasnya.
"Huh. Tidak ada kamar lain?" Aku mendesah.
"Kamar gudang, mau?" Tanyanya dengan kedua tangan dilipat di belakang kepalanya.
"Kalau begini, masih mending tidur di rumah kakek. Aku minta rumah saja pada kakek, pasti boleh."
"hush! Jangan macam-macam ya kamu!" Dia terlihat sewot dan dalam hitungan detik bisa mengubah posisinya setegak tiang.
"Kenapa reaksimu begit?"
"Jangan bilang macam-macam pada kakekku!" Tudingnya padaku.
"Memangnya kenapa? Kakek baik hati, pasti ku kaan diberikan apapun sebagai hadiah pernikahan."
"Hadiah pernikahan?"
"Iya aku mau minta hadiah sebagai imbalan dari pernikahan ini, apa tiu salah? Itu yang kau sebut macam-macam?" Hahaha, aku tahu kelamahannya sekarang.
"Oke, ada satu syarat lagi. Jangan pernah menceritakan keburukanku pada kakekku. Ingat."
"Tidak berlaku, pengajuan syarat sudah ditutup. Tidak ada pengajuan persyaratan apapun lagi saat ini. Maaf." Aku tahu cara mengalahkannya, bermain dengan jari-jariku. Menggigit dan membersihkan kukuku.
"Hufh, sepertinya aku jadi mengerti cara mainnya." Membersikan ujung jariku dengan tiupan angin dari mulutku.
Hahaha, sennag sekali mengetahui sisi lemah dari musuh kita sendiri. Aku mendapatkan senjatanya. OKEY, PERANKU DIMULAI!
__ADS_1